tanpa judul

Terbangun dari tidur karena rasa gelisah yang sama selalu dirasa setiap paginya, mata memandang kosong langit-langit kamar kos yang gelap dan sempit dengan rasa kantuk yang masih sangat terasa, tangan mulai merayap mencari jam tangan kesayangan untuk melihat pukul berapa saat ini, waktu di bagian bumi yang sedang saya tiduri, tapi tangan sama sekali tidak merasakan benda yang menyerupai bentuk sebuah jam tangan, biasanya setiap pagi benda itu pasti berada tidak jauh dari kasur yang sedang saya tiduri, mungkin terselip di bawah bantal atau terselip di sela-sela tempat tidur, saya memaksakan bangun dan mengenakan kacamata untuk mencari keberadaan jam tangan, tetap saya tidak bisa menemukan jam tangan di lokasi yang mungkin di dalam kamar. Tidak ada jam tangan saya coba untuk mengambil handphone di atas printer, tapi tidak jadi karena saya baru saja melihat jam tangan saya masih terpasang di pergelangan tangan kiri saya.

Pukul 9.30  pagi, lagi-lagi saya tidak sholat subuh, jadi teringat ibu, akan pesannya “jangan tidur malem-malem di, biar pagi bisa bangun, sholat subuh”.

Perlahan saya mulai berdiri, menghidupkan penghangat air pada dispenser dan menuju ke lemari untuk mengambil cangkir kesayangan bergambar tazmania, cangkir yang sudah menjadi tempat minum saya sejak 2003.

Berdiri di depan lemari sambil mengambil cangkir, sebuah sosok membuat saya sedikti terkejut, sosok itu adalah sosok diri saya sendiri yang tampak pada cermin yang di tempelkan di dinding berhadapan dengan lemari. Saya tidak lupa ada cermin di situ hanya saja sepertinya saya sudah lama tidak bercermin.

Selama beberapa detik saya hanya terdiam kosong di depan cermin, masih dengan keadaan setengah sadar oleh rasa kantuk memandang ke dalam sosok laki-laki angkuh keras kepala yang sedang berdiri di depan saya. Hanya menggunakan celana pendek hitam yang sudah 5 hari di pakainya tanpa ganti. masih sedikit terlihat otot otot di tubuh namun jauh terlihat lebih kurus dari biasanya, belang karena terbakar matahari sangat tampak pada bagian punggung telapak tangannya akibat terlalu banyak bersepeda di siang hari, sorot matanya yang masih dan selalu tampak tajam namun itu seperti tidak ada semangat, tidak ada ambisi, mata yang tampak lelah tidak tau apa penyebabnya, mata yang tanpa cahaya. Entah apa yang sedang terjadi dengan orang yang berdiri di depan saya ini… mungkin butuh sebuah inspirasi, inspirasi untuk sebuah karya

“tek” bunyi dari dispenser menandakan air panas sudah siap yang seketika menyadarkan saya, segera saya meninggalkan laki-laki yang berdiri di hadapan saya untuk membuat secangkir kopi. Bungkus terakhir kopi instant yang ada di kamar sudah saya seduh, ya selalu menyenangkan memulai hari dengan kopi, kemudian tidak lama rokok pun sudah mulai tersulut api.

Saya butuh sebuah inspirasi untuk hari ini dan tempat yang paling membuahkan inspirasi bagi saya adalah kamar mandi, saya tidak ingin buang air besar pagi ini tapi tetap saya ingin duduk di atas toilet dengan masih menggunakan celana, meletakkan cangkir kopi saya di pinggir bak dan kembali menghisap asap dari gulungan tembakau yang terbakar terselip di dua jemari tangan…  membiarkan kemana pikiran saya berlayar mencari inspirasi…

Seketika saya teringat Om Arfan seorang teman kampus yang sudah cukup berumur, orang asli kupang tapi dengan wajah campuran papua dan timor leste, baru semalam saya bercakap-cakap dengan Om Arfan di teras platinum. Kopi pagi ini yang mengingatkan saya akan om arfan,

“dil kalo sering begadang yang bagus itu minum air putih, aku liat kamu ini minumnya air yang berwarna terus”, “aku juga dulu sama, selalu minum air berwarna, tapi setelah ada efek tidak enak, dan aku baca-baca artikel, air putih itu kuncinya”, “hal simple, tapi bahaya loh kalo kurang minum air putih, ginjal nanti bisa kena”

Kalimat yang bukan hanya sekali, tapi sering kali saya dengar, dan terakhir saya dengar adalah semalam, kalimat yang seketika langsung menghajar isi kepala saya. Lama-lama Om Arfan ini mirip seperti Ibu saya selalu bawel mengingatkan untuk minum air putih. Om arfan memiliki tampang preman tapi hati sangat keibuan. “ah kamu ini bisa aja dil”  jawaban Om Arfan kalo mendengar kata balasan dari saya. Yah sebagusnya jangan cuma ngomong aja tentang air putih, tapi tolong sediakan lah air putihnya di depan saya, karena saya malas sekali minum air putih walaupun galon air berada 1 meter di depan saya.

Teringat akan Om Arfan dan kesehatan, teringat juga akan asap rokok yang sedang saya hisap di kamar mandi. Sampai detik ini belum ada niatan sedikitpun untuk berhenti, walau efeknya sudah lama sangat terasa, sekarang ini satu hembusan nafas manusia normal sebanding dengan 3 kali hembusan nafas saya, belum lagi jika di hitung dari awal saya menjadi pemerokok yaitu sejak kelas 3 smp sampai sekarang, kurang lebih 15 tahun saya hidup dengan rokok, jika sehari saya menghabiskan 10 ribu untuk rokok, di kalikan 360 hari kemudian di kalikan dengan 15, kurang lebih sebanyak 54.000.000 uang sudah saya hamburkan.

Saat ini rokok sudah sangat melekat dengan hidup saya, padahal jika di analogikan berpisah dengan rokok itu sama saja ketika saya berpisah dengan orang yang sudah terbiasa mengisi hari-hari saya, orang yang terbiasa membangunkan saya tiap pagi, terbiasa menemani saya sampai tertidur, terbiasa membereskan semua perlengkapan hiking ketika saya turun dari ngegunung, dah banyak hal lain yang sudah menjadi kebiasaan. Pasti… pada awalnya memang sulit bagi tubuh, pikiran dan perasaan untuk bisa tapi jika sudah biasa maka semua akan berjalan dengan sendirinya. Yah intinya saya belum mau berhenti merokok.

Kaki saya mulai kesemutan jongkok di atas tolilet dan rokok pun sudah habis namun isnpirasi sepertinya tidak ada tanpa boker. Saya buang putung rokok ke dalam toilet dan membawa cangkir kopi yang masih berisi setengah gelas larutan kopi di dalamnya.

Kembali duduk di atas kasur sambil menyenderkan tubuh ke tembok, masih dalam keadaan setengah telanjang saya membuka sedikit pintu kamar agar cahaya matahari bisa masuk, seorang anak balita berdiri tepat di depan pintu kamar saya sambil senyam-senyum, dan tertawa sangat lucu, saya pun tersenyum kepada anak kecil yang belum bisa berbicara itu, kemudian anak itu berlari entah kemana, entah anak siapa itu.

Membayangkan minggu pagi bagi sebagian besar teman-teman SMA dan teman S1 saya adalah waktu mereka untuk keluarga, dimana mereka semua bercanda dengan anak dan istri mereka…

Pagi ini suhu udara sangat panas, angin sepoi -sepoi yang masuk dari pintu kamar yang terbuka, cukup sekit memberi saya penyegaran.

Tidak lama kembali lagi saya hidupkan sebatang rokok, sambil mulai melihat handphone. Terdapat 1 miss call dan 3 pesan.

Pesan pertama dari operator, isinya mengatakan bahwa saya mendapatkan 980 sms gratis ke sesama operator…  yang mana tidak pernah berpengaruh buat saya, karena ketika saya sedang sering smsan, tidak pernah dapet sms gratis, ketika saya tidak sedang ingin bersmsan malah dapet sms gratis.

Sms ke dua dari ummu, isinya adalah selamat pagi untuk saya dari kota Surabaya, dan ucapan terima kasih sudah membuatnya tidur dengan nyenyak semalam karena di perbolehkan mendengarkan saya bermemain gitar melalui telpon hingga ia tertidur. Yah memang terasa sepi juga jogja semenjak Ummu berangkat ke Surabaya. Ummu… bukan lah seorang perempuan yang spesial, tapi apa yang selalu di lakukkannya itu lah yang membuatnya spesial, begitu juga masakannya sangat-sangat spesial, masakan terbaik yang ada di jogja adalah masakan ummu, yang rasanya seperti membawa saya pulang ke rumah. Ah… saya malas melanjutkan pemikiran saya… karena pasti harus membayangkan bagaimana nanti jika semua urusan di Jogja sudah selesai.

Sms ke 3, sms dari nomor tidak jelas, isinya bapak minta pulsa bla… bla… bla… entah bapak nya siapa

1 buah misscall rupanya dari Zaky seorang sahabat baik saya sedari SMA sampai sekarang, yang baru saja menikah awal tahun 2012 lalu, dan sekarang di tugaskan di Aceh, entah kenapa dia menelpon, tanya kabar mungkin atau seperti biasa tanya kapan saya menikah dan menyarankan untuk segera menikah, dan seterusnya dan seterusnya, nantilah saya telpon balik sahabat saya itu.

Saya letakan handphone kemudian mengambil softcase berwarna merah muda yang kontras dengan saya, tidak sedikit orang yang tertawa ketika melihat saya mengeluarkan softcase laptop berwarna merah muda tersebut dari tas saya. Saya juga merasa aneh pada diri saya kok mau mau nya membawa softcase merah muda ini kemana-mana.

Saya letakkan di pangkuan dan saya hidupkan laptop tipis yang sudah mulai dekil, sambungkan modem, buka web browser, cek email dan membuat new post di wordpress, sudah 1 minggu ini koneksi internet saya seperti orang yang susah boker, 5 menit saya menunggu halaman inbox email saya tapi belum terbuka juga, sembari menunggu saya menulis sedikit demi sedikit dan setikitnya lagi memikirkan apa yang ingin saya tulis, dan saya hanya menulis saja.

3 hari ke belakang saya rutin bersepeda pukul 8 malam menuju platinum, untuk mengupload gambar yang jumlahnya tidak sedikit pada tulisan saya, dan hari ini saya lelah sekali, lelah untuk menulis panjang lebar tentang perjalanan saya yang masih sangat banyak untuk di ceritakan dan saya lelah memilih gambar dari ribuan gambar yang ada lalu mengedit gambar-gambar tersebut yang kemudian mengupload gambar-gambar tersebut. 1 buah tema tulisan saja butuh waktu 1 hari penuh untuk saya selesaikan, hari ini saya hanya ingin menulis biasa saja, yang masih belum terpikirkan menulis apa.

Akhirnya saya malah bersender di tembok kamar meletakkan laptop di kasur, dan mulai memandang kosong ke kamar kos, kamar yang sudah berantakan lagi, abu rokok berserakan di lantai, plastik-plastik bekas dan kotak rokok kosong bertebaran, kamera, charger, tas, kaos, sendok, uang receh, hp, pisau, senter, buku catatan, gelas dan air yang tumpah semua berserakan jadi satu di lantai, padahal baru kemarin sore kamar ini di bersihkan, hanya dalam waktu beberapa jam sudah kembali normal.

Saya terdiam ketika memandang ke arah buku berwarna hijau, buku yang baru saya beli beberapa minggu yang lalu, judulnya pencarian berbasis semantik, ingin sekali rasanya saya memulai menggali semua hal tentang tema tesis saya tapi saya harus sabar menunggu 31 hari mcs menulis selesai, lagi pula rasa malas benar-benar sedang menjadi teman baik saya.

Masih belum terpikirkan apa yang saya mau tulis hari ini, benar-benar tidak terpikirkan, tidak ada ide, tidak ada inspirasi, tidak ada… hanya kosong yang ada di otak saya yang berumur 29 tahun ini.

Inspirasi… Cukup banyak telinga saya mendengar dari mulut orang lain, bahwa kata-kata saya, pekerjaan saya, aktifitas saya pernah menjadi inspirasi untuk orang-orang tersebut, tapi apakah kalian tau bahwa SAYA JUGA BUTUH INSPIRASI.

Ada segenap emosi yang sedikit meluap entah karena apa, saya hanya terbangun dan mulai meninju kosong ke udara, meninju bergantian dengan kedua tangan dan menendang dengan sekuat tenaga, hingga saya lemas dengan napas memburu dan tubuh di penuhi keringat, terkadang saya ingin ada lawan yang bisa membalas pukulan saya, seperti kala muda dulu.

Terasa otot-otot lengan dan perut yang sudah mulai lembek dan sendi mulai kaku, sudah 3 minggu ini saya tidak seperti biasanya tidak berolah raga setelah bangun dari tidur, saat ini bangun dari tidur saya hanya duduk termenung, buat kopi dan merokok, ruang kamar sempit ini sudah seperti ruang hampa yang tidak mengenal waktu, seolah-oleh terpisah dari dunia luar yang ada di balik pintu yang sedang terbuka itu, pintu menuju dunia di luar yang terus berputar dengan waktu yang terus berjalan.

Rasanya baru kemarin, saya berdua menikmati matahari terbit sambil berjalan kaki di sekitaran patung Pak Tani berdua dengan almarhum ayah saya, rasanya baru kemarin saya mengenakan pakaian putih abu-abu, baru kemarin saya meninggalkan jakarta, baru kemarin saya tiba di jogja, baru kemarin saya berlebarn di Palembang, seketika terbayang wajah orang-orang yang pernah saya temui, ada yang sudah meninggalkan dunia, ada yang sudah ini, ada yang sudah itu… andai dari dulu sudah ada kamera digital pasti sudah abadikan foto wajah mereka semua satu persatu.

Saya tidak berubah tapi saya menyadari bahwa saya sudah tidak sama, memori sepanjang hidup mejadikan saya sedikit lebih bijak, mengajarkan bagaimana, baik atau buruk, bla.. bla.. bla…

Akhirnya saya malah mengambil gitar, yang dari semalam di senderkan di sebelah kasur dan sempat jatuh di kepala saya, membuat saya terbangun sambil menahan sakit.

Lagu pertama yang saya mainkan seadanya adalah “goin where the wind blows” dan lagu kedua adalah “tears in heaven” lagu ke dua ini dari semalam sepulang dari platinum tanpa henti saya mainkan, lagu “tears in heaven” ini juga yang membuat Ummu tertidur di telpon, kata orang kalo tehnik bermain gitar seseorang itu baik orang yang mendengarkan itu seperti tersihir, tapi jika orang yang mendengarkan itu tertidur artinya orang itu bosan, jika Ummu tertidur artinya ummu bosan mendengarkan saya bermain gitar, saya jadi tertawa sendiri.

Tapi saya begitu menghayati bermain gitar pagi ini, setelah 2 lagu tersebut selesai saya mainkan, saya lanjutkan dengan alunan blues tidak jelas, blues versi saya, blues dari hati saya, blues sampai pegal jari-jari saya.

Halaman email sudah terbuka, tapi saya malah ke Gading Mas yang ada di seberang kos untuk membeli 1 kotak kopi instan, 2 buah roti dan 1 bungkus rokok.

Kembali ke kamar kos saya mulai membuat 1 cangkir kopi yang kedua, dan waktu sudah jam 1 siang. Saya mulai membuka halaman email tapi tidak ada email penting hanya notifikasi dan bla… bla…bla…

Lanjut dengan membuka facebook, masih sama tidak ada info penting hanya beberapa teman yang membuat status tidak jelas. Yang suka kopmuter menulis tentang kopmuter, yang suka gunung menulis tentnang gunung, yang tidak jelas menulis hal yang tidak jelas pula di fbnya, yang lagi kesal menulis maki-makian, yang lagi senang kata-kata senang tertulis di fbnya, yang kesal dengan sistem dan aparat yang ada di negara ini sibuk mengkritik… padahal itu tempat kerjanya sediri, kalo memang capek ya tinggal berhenti jadi PNS, jangan di bawa susah dan sibuk mengeluh ngedumel merendahkan orang lain dan diri sendiri, bla.. bla.. bla..

Nah… rupanya Awing sudah membuat tulisan barunya untuk hari ini, tulisan awing ini selalu menjadi hiburan tersendiri bagi saya, memang tidak ada yang penting di dalamnya tapi sangat menghibur, saya tidak perlu berpikir untuk membacanya, kalimatnya yang selalu spontan, ngasal, tapi simple mengena. dan tidak lama Awing melanjutkan dengan mempublis foto dari blognya yang pada hari ini mencapai 1000 hits.

Lanjut ke tulisan Nova, tulisannya agak aneh, tapi lumayan untuk di baca-baca

Tulisan Evan masih sama, melanjutkan tulisan yang kemaren tentang managemen proses pada sistem operasi kopmuter, yang mana bagi saya sangat membosankan.

Pt dan Arsu belom ada tulisan baru, udah kaya super hero mereka berdua ini keluarnya belakangan.

Habis facebook, saya lanjut membuka halaman twitter, tidak ada yang penting di twitter, hanya beberapa teman yang mempublis foto-foto bersepedanya pagi ini, yang mana gaya dan sepedanya di foto keren, tapi belum tentu dengan orangnya. Leo dan Awing yang paling banyak muncul di twitter, yah tanda-tanda orang labil yang kurang kerjaan, terlihat dari twit mereka yang tidak jelas, tapi selabil-labilnya meraka adalah teman saya.

Saya juga sempat menuliskan awal bait lagu “tears in heaven” di twitter, karena tanpa sadar terus terlantun bait lagu itu dari mulut saya. Kebanyakan orang yang ada di twiter saya ini, terutama yang perempuan, orang-orang yang ingin dimengerti dan dihargai tapi mereka tidak sadar mereka saja tidak belajar untuk mengerti dan menghargai orang lain…. Tiap orang sibuk berceloteh di twiter.

Namun saya suka jika melihat perubahan menjadi lebih baik terlihat dari beberapa teman, semoga bukan hanya sebentar dan semoga bukan hanya “pencitraan” saja

Melihat isi asbak, sudah 8 batang rokok saya habiskan dari pagi tadi, dan baru saja saya membuka bungkus rokok yang baru saya beli, dan mulai menghidupkan sebatang lagi dan melanjutkan sebatang lagi dan sebatang lagi dan sebatang lagi.

Pukul 3 sore, saya tidak merasa lapar walaupun badan sudah gemetar, dari pagi saya hanya memakan 2 roti, 4 gelas kopi. Malas rasanya membeli makanan dan keluar dari kamar, kemarin juga sama seperti ini… tidak lama saya berdiri dan saya pushup hingga lemas dilanjutkan dengan situp hingga lemas, lalu di lanjutkan dengan mandi dan sholat asar, karena dzuhur tadi saya tidak sholat. Dan seperti biasa saya sms bapak penjual mie ayam di seberang kos dan ternyat tidak di balas, setelah saya datangi ternyata sudah habis, masuk saya ke burjo dalam keadaan gemetaran, memesan sebungkus nasi telur.

Di dalam burjo, beberapa orang yang sepertinya mahasiswa S1 melihat saya dengan tatapan tajam dan saya pun melihat balik dengan tersenyum tapi mereka malah mempertajam tatapan mereka entah apa maksud mereka dan entah apa salah saya…. hal ini sudah sering kali saya alami sedari saya kecil, dan sampai sekarang, tapi saat ini saya memilih untuk melewatinya saja, dari pada langsung menamparnya…. seperti layaknya saya yang dulu.

Saya pernah muda dan gila, sekarang pun saya masih muda tapi mungkin agak lebih bijak. tetap saja.. dalam hati kecil sebenarnya berharap para anak muda tadi memanggil saya dan melanjutkan segala sesuatunya di luar burjo, dasar anak-anak muda sekarang hanya angkuh di tatapan saja. Para anak muda tadi menggunakan celana model kerucut yang kedodoran hingga celana dalemnya kelihatan, celana yang besar di bagian paha tapi menyempit di bagian bawah kaki, melihat gaya seperti saya jadi ingat Leo.

Entah lah mungkin sekarang saya jauh menjadi lembek, tapi bagi saya lebih baik seperti ini, lembek bukan berarti lemah, tapi lebut dan bijak

Kembali ke kamar kos, saya makan dengan lahap, namun kali ini saya sangat berhati-hati, karena seminggu yang lalu, terakhir kali saya makan dalam keadaan gemetaran, sangking laparnya mungkin, sampai garpupun tanpa sadar ikut saya gigit hingga gigi depan saya sedikit gompal.

Tidak lama setelah makan pikiran saya mulai beralih ke teman-teman nyata saya di Jogja, sedang apa mereka semua saat ini, Arsa, Zen, Leo, Mba Erma, Pt, Awing, Pak Tarigan, Dwi, Has bro, Cris dan teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan… sedang apa mereka semua saat ini, apa yang ada di pikiran mereka detik ini, rasanya ingin menghubungi mereka satu persatu, hanya ingin berkata HAI saja, tapi saya urungkan, rasanya saya enggan menjadi pengganggu bagi mereka di waktu-waktu sibuk seperti sekarang ini, ingin rasanya detik ini juga mengajak mereka semua berkumpul seperti biasanya dulu tapi pasti mereka akan sangat malas. Pikiran terus berlanjut dan tanpa sadar saya pun kembali tertidur karena kekenyangan dan rasa lelah yang entah karena apa.

Saya baru terbangun pukul 7 malam, magrib pun terlewatkan, langsung di sentuh dengan rokok, melihat handphone ada miscall, rupanya ummu. Tiba-tiba saja saya teringat dengan Pak Tarigan, ingat obrolan sore itu di teras rumahnya, ketika itu saya baru kembali dari Palembang setelah pemakaman ayah saya, terjadi obrolan yang hangat antara saya dan Pak Tarigan, obrolan tentang segala hal, dan satu pertanyaan Pak Tarigan yang paling saya ingat “apa di rasanya tidak ada bapak sekarang? biar aku tau rasanya”

Dari jam 7 malam sampai 10 malam saya lanjutkan dengan menonton sebuah film korea tidak jelas, yang pasti bukan film cinta, hanya tinggal film itu satu-satunya yang belum tertonton di hardisk saya, judulnya “book of doom” atau “note of doom” saya lupa dengan pasti judulnya. Film itu mengisahkan 3 buah cerita yang berbeda, pada awalnya tentang sebuah virus yang menyebar, merubah manusia jadi zombie seperti game Resident Evil. Tapi lalu tiba-tiba cerita berganti kemasa depan dimana manusia hidup dengan robot, namun robot-robot tersebut sudah seperti manusia yang memiliki rasa, emosi, pemikiran, intuisi, penalaran terhadap suatu permasalahan hingga manusia mulai takut robot tersebut mengalahkan manusia. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan cerita dimana bumi akan di hantam sebuah meteor, mirip seperti film Armagedon, tapi bedanya meteor tersebut adalah bola biliard angka 8 raksasa. Lalu film habis, saya masih belum tau apa inti dari film tersebut.

Pukul 10 malam saya mulai melanjutkan tulisan saya, yang sedari tadi saya tulis berkala, tanpa di baca ulang tanpa di edit karena rasa malas.

Tiba-tiba saja saya ingin ngegunung, ada ajakan dari Maya ke semeru beberapa hari yang lalu, tapi sepertinya situasi dan kondisi tidak memungkinakan untuk berangkat, hati saya pun sepertinya tidak ingin untuk berangkat, ditambah lagi kalimat dari Pt beberapa malam yang lalu, ketika kami mencari tempat pembuatan kaos “nanti aja di selesain aja dlu semua urusan, kalo udah selesai semua, sama aku nanti kita berangkat bareng-bareng” kalimat yang memantapkan hati saya untuk tidak berangkat, kalimat itu juga mengingatkan saya bahwa dulu pernah berjanji, untuk gunung Semeru kita berangkat bersama teman-teman terdekat di Jogja.

Memang Maya sepertinya butuh bantuan untuk mengurusi pendakian bersama teman-teman perempuannya yang belum pernah mendaki, sebuah ide yang sedikit gila dengan mengajak 4 orang perempuan yang belum pernah mendaki gunung dan gunung pertama yang akan di daki adalah Semeru, tapi saya yakin Maya bisa mengatasinya, saya lebih baik mulai mengurusi diri sendiri yang mulai kehilangan semangat dan inspirasi ini.

Dan… sebentar lagi pukul 12, satu hari untuk dunia di luar pintu kamar saya kembali terlewati

sekarang sudah pukul 11.50, saatnya saya untuk menekan tombol publis.

Rasa sangat lelah seharian ini mungkin adalah akumulasi dari semua lelah yang selama ini tidak pernah saya acuhkan, di tambah lagi dengan melakukan aktiftas yang sama berulang-ulang dan selalu sendiri tanpa sosialisasi juga interaksi menyebabkan munculkan dua rasa yang disebut dengan ke bosanan dan kejenuhan. Mungkin besok semua lelah sudah berganti dengan semangat, saya ingin hujan malam ini, saya suka hujan… menyegarkan…

5 thoughts on “tanpa judul

  1. arsa says:

    tapi ngomong-ngomong om arfan ada darah timor lestenya ya?? wkwkwkwkkw

  2. arsa says:

    super sekali pak adi… hehhe

  3. […] : https://sarangpenyamun.wordpress.com/2012/10/14/tanpa-judul/ Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Published: October 14, 2012 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: