Pantai Pok Tunggal dan Jelajah Pantai Seruni

Daerah Gunung Kidul di Yogyakarta sudah cukup terkenal akan wisata pantainya, nama-nama seperti pantai Baron, Sundak, Indrayanti dan Siung pasti sudah tidak asing lagi bagi yang sudah pernah singgah di Kota Gudek tersebut.

Sebenarnya Gunung Kidul masih menyimpan banyak sekali potensi wisata alam berupa pantai yang masih jarang diekspose dan dijamah oleh wisatawan, salah satunya adalah Pantai Pok Tunggal, pantai yang menurut saya keindahannya tidak kalah dengan pantai-pantai yang sudah memiliki nama besar di daerah Gunung Kidul.

Pertemuan saya dengan pantai ini merupakan suatu ketidaksengajaan, berawal dari kedatangan seorang teman dari Jakarta, yang pagi itu secara tiba-tiba sudah sampai di Jogja dan langsung meminta saya untuk mengantarkannya camping dan bermalam di pantai, tapi pantai yang ia inginkan adalah sebuah pantai yang sepi dan belum banyak terekspose.

Terus terang saya tidak tahu ada pantai yang seperti itu di Gunung Kidul, cukup bingung mau saya bawa ke pantai mana tamu saya ini karena setahu saya hampir semua pantai di Gunung Kidul sudah terekspose dan pasti ramai oleh pengunjung, ya sudahlah pikir saya, yang penting sampai dulu di daerah Gunung Kidul.

Berbekal pengalaman beberapa kali bermalam di pantai kawasan Gunung Kidul, berangkatlah kami siang itu juga pukul 1, menggunakan motor dari Jogja, melalui jalan Wonosari melewati kota Wonosari dan menuju ke arah pantai Baron.

Sampai di pintu masuk kawasan objek wisata pantai Gunung Kidul pukul 4 sore, loket pembayaran sudah kosong tanpa penjaga jadi kami tinggal melenggang masuk saja. Satu demi satu, pantai kami lewati mulai dari Baron, Kukup, Drini, Krakal, Sundak, Indrayanti, sampai kurang lebih 2 kilo setelah melewati pantai Indrayanti, saya melihat jalan bebatuan berbelok ke kanan dengan papan nama yang terbuat dari kayu bertuliskan Pok Tunggal, sebuah nama aneh yang benar-benar asing bagi saya karena baru pertama kalinya saya melihat papan tersebut selama 2 tahun saya jalan-jalan di pantai Jogja.

Pastilah sebuah pantai pikir saya, segera saya berbelok, dan melalui jalan terjal dengan kontur setengah bebatuan dan semen yang hanya bisa dilewati oleh motor dan mobil jenis mini bus tapi tidak untuk jenis bus besar dan mobil sedan. Kurang lebih 1 kilo setelah kami terguncang-guncang melewati jalan bebatuan sampailah kami di kawasan pantai Pok Tunggal.

Benar adanya, Pok Tunggal adalah sebuah nama pantai, yang sore itu sepi dari pengunjung, luas pantainya tidak terlalu besar tapi indah, di kiri pantai terdapat sebuah pohon tunggal yang mana asal nama pok tunggal diambil dari pohon tersebut.

Sebuah Pohon yang tumbuh di sisi kiri pantai, menjadi icon sekaligus nama untuk Pantai Pok Tunggal

Setelah memarkirkan kendaraan dan mendirikan tenda saya menyempatkan berkeliling untuk menikmati suasana sekitar pantai, pantai terkesan masih baru, beberapa fasilitas umum seperti toilet dan kamar mandi masih terlihat sangat baru, warung-warung juga merupakan bangunan baru dan tertata rapi, dan bagusnya penempatan lokasi warung ada di sebelah kiri pantai di balik perbukitan, jadi sama sekali tidak mengganggu pemandangan. Pasir di pantai Pok Tunggal berwarna putih dan halus bersih tanpa ada terlihat sampah sepanjang mata saya memandang.

Siluet Pantai Pok Tunggal

Kata orang hal terbaik itu muncul ketika kita tidak sedang mencarinya. dan saya mengalami hal itu di pantai Pok Tunggal, selama 2 tahun saya berkuliah di jogja saya mencari di hampir seluruh pantai Gunung Kidul, sebuah pantai dengan posisi ketika matahari sedang terbenam bisa terlihat dan akhirnya saya temukan di pantai Pok Tunggal. Sebuah sunset yang indah di pantai yang indah.

Sunset Pantai Pok Tunggal

Catch The Sunset

matahari di jari ku

Sunset pun tenggelam dan malam tiba, kami mengeluarkan bekal kami dan mulai memasak makan malam termewah yang bisa kami nikmati dengan suasana malam di pantai Pok Tunggal yang benar-benar sepi dan gelap tanpa ada cahaya lampu, sepertinya hanya ada kami malam itu di pantai Pok Tunggal.

Menjelang malam di Pantai Pok Tunggal

Selesai makan malam saya ingin sedikit meramaikan suasana di depan tenda dengan membuat api unggun dan mulailah saya berkeliling pantai berbekal cahaya senter untuk mencari kayu bakar.

Mencari kayu bakar sembari menikmati suasana malam pantai mempertemukan saya dengan sepasang suami istri paruh baya penduduk asli sekitar pantai yang sedang bermalam di pondok kayu milik mereka. Mereka tau saya sedang mencari kayu bakar dan mereka pun dengan ramah menawarkan kayu bakar dengan harga 10 ribu rupiah satu ikatnya.

Suly nama si bapak, sembari menyiapkan kayu bakar untuk saya cukup banyak perbincangan yang terjadi antara kami, terutama seputar pantai Pok Tunggal yang baru 3 bulan terakhir dibuka sebagai daerah wisata. Menurut penuturan Bapak Suly masih ada beberapa pantai lagi yang lokasinya bersebelahan dengan Pantai Pok Tunggal, tepatnya ada 3 buah pantai lagi, dan pantai yang paling unik adalah pantai yang ketiga, namanya Pantai Seruni. Unik karena di Pantai Seruni terdapat sumber mata air tawar yang airnya mengalir dari atas perbukitan dan jatuh ke pantai, namun pantai-pantai tersebut hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki menelusuri pinggiran pantai disaat air laut sedang surut, hal terakhir yang saya tanyakan kepada Bapak Suly adalah jarak dan waktu menuju ke pantai Seruni, untuk jarak Bapak Suly kurang tau tapi untuk waktu perjalanan menyusuri pinggir pantai kurang lebih 1 jam.

Gembira saya mendengar penuturan dari Bapak Suly dan sekali lagi dalam sebuah petualangan interaksi itu memiliki peranan yang sangat penting, selain membuka wawasan terhadap orang baru, kita juga bisa mendapatkan informasi penting seputar perjalanan kita.

malam hari di Pantai Pok Tunggal

Dan kini api unggun telah menyala, diiringi suara deburan ombak dan dihiasi malam penuh bintang membuat lengkap suasana malam kami di pantai Pok Tunggal, bisa membuat saya sedikit bersabar menunggu pagi tiba untuk menjelajah pesisir pantai menemukan pantai Seruni.

Seiring dengan larutnya malam kami pun tertidur, dan bangun pada pukul 6 pagi, pukul 6.30 kami sudah meninggalkan tenda dan memulai perjalanan menuju pantai Seruni yang diceritakan oleh Bapak Suly semalam.

Karang-karang yang tertutup lumut

Menyisir pinggiran pantai dengan pemandangan bukit-bukit karang yang tinggi menjulang, saling berbaris di kejauhan memberikan kesan tersendiri pada petualangan saya pagi itu. Ketika air laut surut karang-karang cadas terlihat indah, hijau ditutupi lumut, namun di balik keindahan tersebut mengandung resiko yang cukup berbahaya, jika kurang berhati-hati dalam melangkah, karang licin dan tajam siap merobek kulit dan daging kami.

kontur karang yang terbuka di saat air laut pasang

Gelombang air laut yang datang juga menjadi tantangan tersendiri, kami benar-benar harus berlomba dengan gelombang yang datang sambil memperhitungkan jalur yang aman untuk di lewati. Di beberapa tempat yang cukup aman kami sempatkan berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan indah laut dan pantai selatan Gunung Kidul dengan jejeran perbukitan di kejauhan.

Mulai menyusuri pantai

Melewati karang-karang yang tertutup lumut

Beristirahat sejenak sambil menikmati alam

Karakter pantai-pantai di Gunung Kidul ini berbeda dengan pantai lain yang ada di Indonesia, ombaknya yang keras, palung yang dalam dan karang yang tajam menjadikan pantai di kawasan Gunung Kidul biasanya hanya bisa di nikmati dengan mata tidak untuk berenang. Ada juga  beberapa pantai di Gunung Kidul seperti Siung, yang kawasan perbukitan karangnya di jadikan arena rock climbing.

Karang-karang yang terlihat ketika air laut surut

Ciri khas pantai-pantai di Gunung Kidul

Air surut memberikan keindahan tersendiri terhadap bebatuan karang

Ketika  tiba di pantai yang pertama, kebetulan kami bertemu dengan seorang Bapak, penduduk lokal yang sedang mengumpulkan rumput laut, ada pepatah mengatakan malu di jalan sesat bertanya, kami pun memanfaatkan pertemuan dengan si Bapak untuk bertanya.

Foto bersama si Bapak

Menurut si Bapak kami masih harus melewati 1 pantai dan 2 perbukitan karang lagi untuk sampai di Pantai Seruni, si Bapak berpesan kepada kami untuk sangat berhati-hati dan tidak berlama-lama menghabiskan waktu di Pantai Seruni.

Segera kami melanjutkan penjelajahan kami, selepas pantai pertama pemandangan semakin indah dan liar, kondisi bebatuan yang harus di lalui pun semakin sulit. Kami benar-benar harus memilih jalur pijak yang tepat karena jika salah maka harus kembali lagi.

Perjalanan melewati pantai pertama

Bebatuan karang raksasa

Di beberapa lokasi terdapat bebeatuan karang dengan ukuran besar membentuk labirin/lorong, saya cukup menyadari bahwa perjalanan kami ini sedikit berbahaya, jika saja air pasang datang bisa saja kami terjebak di antara lorong-lorng bebatuan karang besar ini dan ombak akan menghempas dan menenggelamkan kami.

Suasana bebatuan menuju pantai kedua

Melewati bebatuan dan karang menuju pantai kedua

Menuju pantai kedua

Pantai kedua berada di balik bukit karang

Tiba di pantai kedua suasana sepi, tidak ada apa-apa disana, hanya ada beberapa jejak kaki di pasir yang mana si pemilik jejak kaki tersebut sedang mencari sesuatu di air, pantai kedua lebih panjang dari pada pantai pertama dan terdapat perbukitan yang tinggi di belakangnya, cukup menyenangkan beristirahat beberapa saat di pantai ini sebelum melanjutkan perjalanan kami. Melewati pantai kedua pemandangan semakin liar di beberapa tempat kami melalui perbukitan karangnya yang di bawahnya membetuk sebuah cerukan, mirip goa

Tiba di pantai kedua

Pantai kedua

Melewati pantai kedua

Bebatuan karang dan pantai, pemandangan setelah melewati pantai kedua

Akhirnya sampailah kami di pantai ketiga, terlihat jejak-jekak kaki yang sudah lebih dulu sampai sebelum kami, yang mana membuat hati saya cukup tenang artinya ada orang lain di pantai ini selain kami, karena kami belum begitu yakin jika pantai ini adalah Pantai Seruni. karena kami tidak melihat sumber air tawan mengalir seperti air terjun seperti yang di ceritakan oleh Bapak Suni semalam.

Pantai Seruni dari kejauhan

Memasuki Pantai Seruni

Tiba di pantai Seruni

Pantai Seruni dan jejak-jejak kaki di pasir

Suasana di Pantai Seruni

Kami terus menelusuri pantai ke tiga dan terlihat di kejauhan seorang ibu-ibu yang sedang mengumpulkan sesuatu di laut, jejak ibu itu lah yang kami lihat membekas di sepanjang pasir pantai, dengan ramah Ibu tersebut menyapa kami dan menjawab setiap pertanyaan kami, dan benar pantai ini adalah Pantai Seruni.

Si Ibu tempat kami bertanya

Mata air tawar yang kami cari letaknya ada di ujung timur pantai yang mengalir dari atas perbukitan karang dan di bawahnya terdapat sebuah goa kecil. Di musim kemarau seperti sekarang ini air yang mengalir tidak begitu deras hanya berupa rangkaian tetesan seperti air hujan. Sumber mata air tawar ini juga merupakan sumber air minum bagi warga sekitar yang di alirkan dengan menggunakan pipa air.

Mata air tawar di Pantai Seruni

Bukit karang pantai Seruni, mata air tawar dan goa

Pantai Seruni adalah pantai yang terisolir dari wisatawan, dan banyak pengunjung pantai Pok Tunggal tidak tahu akan keberadaan pantai ini. Kami merasa berada di tempat antah berantah dengan suasana yang terpisah dari dunia luar. Waktu perjalanan yang dibutuhkan dari pantai Pok Tunggal untuk bisa sampai ke pantai Seruni kurang lebih 1 jam berjalan santai dan sudah termasuk berhenti dan foto-foto.

Pantai Seruni

Cukup lama waktu yang kami habiskan untuk menikmati suasana Pantai Seruni, sampai-sampai kami tidak menyadari waktu sudah hampir pukul 8 pagi, namun ketika kami akan kembali pulang, kami baru menyadari jalur yang kami gunakan untuk datang tadi sudah mulai tertutup oleh air laut yang mulai pasang dan jika memaksakan untuk kembali saat itu juga mungkin perjalanan kami hanya sampai di pantai kesatu. mungkin air pasang inilah alasan si Bapak yang kami temui di pantai ke satu tadi mengingtkan untuk tidak berlama-lama di Pantai Seruni.

Saya tidak begitu cemas karena si Ibu yang tadi kami temui juga masih ada di pantai bersama kami, dan si Ibu kelihatan tenang-tenang saja tetap melanjutkan aktifitasnya mengumpulkan sejenis rumput, kerang, dan bebatuan dari laut.

Pantai Seruni dan Si Ibu yang hendak pulang membawa keranjangnya

Tidak lama si Ibu telah selesai mengumpulkan hasil laut dan menuju ke arah kami sambil membawa keranjangnya, kami kembali bertanya kepada si Ibu tentang jalan pulang kami yang tertutup air pasang, si ibu akhirnya menjelaskan bahwa air laut mulai surut di Pantai Pok Tunggal dari pukul 12 malam sampai pukul 8 pagi dan pada pukul 12 siang sampai pukul 7 malam, dan jika mau pulang ke Pantai Pok Tunggal sebenarnya masih ada satu jalan lain yaitu melalui jalur perbukitan yang mana jalurnya berputar dan jaraknya lebih jauh.

Semak-semak di pantai seruni jalan menuju perbukitan, kembali ke pantai Pok Tunggal

Dari pada kami menunggu air kembali surut sampai sore di sini, lebih baik kami menuruti saran si ibu untuk kembali ke Pok Tunggal melalui jalur yang memutar menelusuri perbukitan. Jalur menuju perbukitan cukup tersembunyi tertutup oleh semak-semak dan pepohonan.

Si Ibu menunjukkan jalan menuju ke perbukitan

Dengan baik hati si Ibu mengantar kami ke semak-semak di balik Pantai Seruni, yang merupakan jalan kembali ke pantai Pok Tunggal melewati perbukitan. Wajar saja si Ibu tenang-tenang saja dengan air pasang karena rumahnya berada di pinggir Pantai Seruni, rumah yang berupa gubuk terbuka tanpa dinding dan aliran listrik.

Bentuk rumah penduduk pantai

Sembari mengantar kami si Ibu bercerita tentang rumahnya, ladangnya, ternaknya, dan sebuah bak penampung air tawar pemberian dari Bapak Bupati. Si Ibu hanya mengantar kami sampai batas ladang-ladang kering miliknya, setelah itu kami mulai lagi petualangan kami menyusuri perbukitan kembali ke pantai Pok Tunggal.

Bak penampungan air pemberian Bapak Bupati, yang sangat di banggakan oleh si Ibu

Kebanyakan penduduk asli Gunung Kidul masih menggunakan bahasa jawa dalam kesehariannya mereka, bisa mengerti bahasa Indonesia tapi kurang fasih dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia, tidak terkecuali si ibu ini, jadi kita mesti pelan-pelan dalam berbicara dan mendengarkan kata-kata dari si Ibu.

Foto bersama si Ibu

Pada awalnya jalan setapak cukup jelas, tapi semakin masuk ke dalam hutan jalan menjadi semakin samar, tidak jelas mengarah kemana kadang terdapat persimpangan yang membuat kami beberapa kali tersesat atau menemui jalan buntu, Untungnya kami sempat berpapasan dengan seorang bapak penduduk sekitar yang menunjukkan kepada kami jalan menuju ke pantai Pok Tunggal, namun petunjuk dari si Bapak hanya seadanya saja dapat saya mengerti, kendala bahasa membuat sulit komunikasi antara saya dan si Bapak.

Melewati lahan-lahan penduduk

Menaiki bukit di belakang pantai Seruni

Perbukitan di balik pantai Seruni

Berjalan melintasi bukit

Melintasi hutan Gunung Kidul

Melintasi hutan Gunung Kidul

Perbukitan ini bukanlah tempat wisata artinya tidak ada pengunjung lain yang akan berpapasan dengan kami di jalan dan tidak ada orang yang akan mencari kami apa bila kami tidak kembali. Sesekali saya melewati rumah penduduk yang kosong dan jarak antar rumah penduduk pun cukup jauh, berteriak pun tidak akan terdengar dari satu rumah ke rumah lainnya. Perlu intuisi dan ketenangan dalam menentukan jalan yang benar ketika kita tersesat, kompas juga sangat membantu karena dapat menentukan posisi awal dari lokasi tujuan. Berhenti dan beristirahat ketika menemukan jalan buntu juga dapat membantu memecahkan permasalahan.

Pemandangan laut dari atas perbukitan, terlihat lahan-lahan milik warga di atas bukit

Melintasi perbukitan Gunung Kidul

Bukit terakhir

Melintasi lahan penduduk, menuju Pantai Pok Tunggal

Pantai Pok Tunggal dari atas bukit

Cukup lama waktu yang kami habiskan berputar-putar di perbukitan, dan saya selalu menuju tempat yang tinggi yang mengarah laut, karena dari tempat yang tinggi saya bisa melihat kondisi sekitar untuk mengukur arah perjalanan dan tujuan kami, beberapa bukit cukup terjal dan jurang-jurang pantai membentang di bawah, jadi jika terjatuh artinya kehilangan nyawa. Sampai kami di atas perbukitan terakhir di mana pantai Pok Tunggal mulai terlihat lega hati saya. Pukul 10 pagi barulah kami tiba kembali di jalan masuk Pantai Pok Tunggal. Bagi sebagian orang perjalanan seperti ini mungkin sebuah aktifitas “kurang kerjaan” tapi bagi saya adalah suatu kesenangan.

Tiba di jalan masuk Pantai Pok Tunggal

Selama perjalanan melalui perbukitan banyak hal yang dapat saya lihat, bahwa masyarakat di sekitar pantai Gunung Kidul hidup dari berkebun, beternak dan memanfaatkan hasil laut, berkebun pun biasanya hanya ditanami sejenis umbi-umbian dan tanaman pisang karena tanah di sini kering berkapur jadi sulit untuk di tanamani tanaman lain, kehidupan ekonomi masyarakatnya pun masih tertinggal dan tidak semakmur seperti di dua kabupaten lain yang ada di Jogja, yaitu Bantul dan Sleman. Terlihat dari rumah-rumah para penduduk yang saya temui selama melewati perbukitan hanya berupa gubuk kayu tanpa dinding penutup, jangankan menonton tv, listrik pun tidak ada.

Salah satu yang bisa meningkatkan sumber ekonomi masyarakat Gunung Kidul adalah dari para pendatang yang berkunjung melalui wisata pantai, penduduk sekitar pantai sangat ramah terhadap pendatang dan sangat menjaga pantai mereka dari sampah dan kotoran agar semakin banyak pengunjung yang datang ke pantai mereka.

Pantai Pok Tunggal

Selain ramah, keamanan kendaraan dan barang pengunjung juga sangat diperhatikan oleh warga sekitar pantai, saya ingat ketika sedang mendirikan tenda tiba-tiba seorang warga mendatangi saya dan meminta untuk memindahkan kendaraan saya ke lokasi yang dekat dengan tenda, karena pada malam hari para petugas parkir harus pulang, mereka takut tidak ada yang mengawasi kendaraan saya. Tenda dan semua barang-barang yang ada di dalamnya pun masih aman selama saya tinggal menjelajah pantai Seruni.

Suasana Pantai Pok Tunggal di pagi hari

Pantai Pok Tunggal bukan lagi sebuah alternatif tapi cukup pantas untuk menjadi tujuan utama berlibur di kota Jogja. Penduduknya yang ramah terhadap pendatang, pantainya yang bersih dan unik dengan pemandangannya yang indah, sangat layak untuk didatangi, ditambah lagi sensasi menjelajah Pantai Seruni mungkin bisa menjadi sebuah petualangan yang tidak terlupakan untuk anda.

Tenda di Pantai Pok Tunggal

Tips mendirikan tenda/kemping di pantai  :

  • Gunakan tenda yang memiliki pelapis luar, jadi ketika hujan air tidak merembes masuk ke dalam tenda.
  • Pastikan di lokasi yang menjadi tempat berdirinya tidak ada bebatuan atau benda-benda tajam yang dapat merobek bagian bawah tenda
  • Pilihlah tempat mendirikan tenda di lokasi pantai yang paling tinggi dan rata dan jangan terlalu dekat dengan bibir pantai, gelombang air pasang pada malam hari dapat meninggi dan akan membanjiri tenda jika salah memilih lokasi.
  • Pastikan pintu keluar tenda menghadap ke laut, selain mendapatkan pemandangan yang bagus ke arah laut, kita juga bisa mengawasi pergerakan arus gelombang laut.
  • Gunakan bebatuan dan kayu-kayuan untuk memperkuat pasak dan pondasi tenda agar kokoh, karena angin laut sangat kencang.
  • Jika membuat api unggun pastikan jaraknya tidak terlalu dekat dengan tenda, karena jika terlalu dekat selain percikan api bisa membolongi tenda, panas api juga bisa melelehkan tenda.
Tagged , , , , , , , , , , , ,

16 thoughts on “Pantai Pok Tunggal dan Jelajah Pantai Seruni

  1. bagz says:

    jadi pengen ke Pantai Pok Tunggal..

  2. Tirta Wahyu says:

    wow… suka banget foto2nya kak..
    keep sharing yah🙂

  3. Beberapa kali ke pantai pok tunggal tapi belum kesampaian sampai pantai seruni…jadi smakin pengen setelah membaca kisahmu…🙂

  4. aad says:

    alternatif wisata jogja yg oke, btw ada yg jual kuliner ngga d sana ?

  5. haaaa, pantai ini emang sepi.
    aku kemaren juga ke sana (cek : http://galautraveler.wordpress.com/2014/07/08/pesona-senja-pok-tunggal-dan-sundak/)

    cuma gak sempet ke seruni gara2 ada anjing😦

  6. teguh says:

    amazing. bisa buat rencana tahun baruan besok.., biar ga ke gunung terus.😀
    salam lestari !!!

  7. NIA says:

    Keren banget❤
    pengen ksana juga😀

  8. Astho says:

    keren.., binkin ngiri…😉

  9. IFQY says:

    sexy pantai nya sensual phographer nya.. dan jujur menceritakannya..
    trima kasih atas sepotong kisahnya..
    kami sgera menyusul ke “gold beach” nya gn.kidul.

    IFQY.

  10. si Oom! says:

    sangat menarik, salam kenal:mrgreen:

  11. […] MOST LIKED POST yaitu tulisan dengan judul “PANTAI POK TUNGGAL DAN JELAJAH PANTAI SERUNI” dari blog Fadhila Tangguh dengan jumlah like sebanyak […]

  12. […] : https://sarangpenyamun.wordpress.com/2012/10/11/pantai-pok-tunggal-dan-jelajah-pantai-seruni/ Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Published: October 11, 2012 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: