Hari ini, 2 Tahun Yang Lalu dan semua yang pertama

Tepat hari ini dua tahun yang lalu, kala itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya saya melangkahkan kaki-kaki kecil saya di kota Jogja demi mengikuti Pra kuliah dan ujian masuk kuliah. Bawaan saya juga tidak banyak hanya sebuah tas keril kesayangan dan sebuah tas slempang kebanggaan. Setiba di bandara Adi Sutjipto Jogja, seorang sahabat lama saya Ucil sudah menunggu dan langsung membawa saya ke rumah kontrakan tempat dimana beliau tinggal, yang mana untuk beberapa hari kedepan saya pun akan menumpang tinggal di rumah kontrakannya tersebut.

Ucil dan kamar kontrakannya

Hari pertama di Jogja tidak banyak yang saya lakukan, hanya mengunjungi calon kampus baru untuk melihat pengumuman jadwal Pra kuliah yang ternyata hari pertama perkuliahan Pra dimulai besok, padahal saya berharap Pra kuliah baru dimulai minggu depan.

Hari pertama Pra kuliah, saya datang terlambat dan otomatis duduk di bangku paling depan karena semua bangku bagian belakang sudah terisi, wajah – wajah asing dengan logat-logat bahasa yang juga asing, yang nantinya selama 3 bulan kedepan orang-orang asing tersebut akan menjadi teman seperjuangan yang mengisi hari – hari dan mewarnai Pra kuliah saya.

Manusia asing yang pertama saya kenal adalah Arsa yang berasal dari Bali dan kosan milik manusia asing yang pertama saya datangi adalah kosan Zen pemuda asal Manado.

Bos Arsa

Kamar Zen, kandang basecamp bersama

Aktifitas saya pada minggu – minggu pertama di Jogja adalah berkeliling mengenal lingkungan kampus, berkeliling mengenal kota Jogja dan mulai menempati kosan baru. Kiriman paket dari rumah 1 buah motor kesayangan yang entah sudah berapa gunung cinta saya lalui bersama motor itu, dan satu paket lagi berupa kardus besar yang berisi semua peralatan bertualang saya juga sudah tiba diminggu pertama saya tinggal di Jogja.

Pertama pindah dari kontrakan Ucil ke kosan baru

Isi paket saya membuat sahabat lama saya Ucil cukup bingung dan sempat berkomentar sengit “ini anak mau kuliah apa mau jalan-jalan, inget umur bon”. Seperti layaknya calon mahasiswa baru, mengenal tempat baru, lingkungan baru, orang-orang baru itu sangat menyenangkan, memulai segala sesuatunya dari nol. Tapi saya selalu menyisakan hal-hal baru tersebut agar tetap terasa baru selama saya tinggal di Jogja hingga saya meninggalkan Jogja.

Pertama kali meniduri kamar kos

Warung makan yang paling terkenal di kalangan mahasiswa jogja dan selalu ada di hampir setiap sudut Kota Jogja adalah warung Burjo, Burjo pertama saya adalah Burjonya si Neng Lela (bukan nama sebenarnya), anda ingat dengan burjo Neng Lela? Pastinya. Saya ingat sekali waktu itu sepulang perkulihan di minggu pertama berbondong-bondong saya dan teman-teman Pra sengaja datang dari kampus MIPA km 5 ke Pasar Colombo km 7.5, padahal burjo di dekat kampus banyak tapi hanya burjonya Neng Lela yang paling enak😀.

Neng Lela

Minggu – minggu pertama di kampus merupakan minggu-minggu yang penuh kejutan dan tekanan, yang mana kami semua diberitahukan bahwa dalam waktu 3 bulan, kami semua satu angkatan Pra harus lulus toefl, TPA, dan ujian Pra dengan grade yang sudah ditentukan untuk bisa diterima berkuliah di Jurusan Magister Ilmu Komputer dan Elektronika, Fakultas MIPA, UGM. Awalnya saya pikir semua tes tersebut cuma formalitas tapi ternyata sebuah realitas dan untuk menghadapi semua tekanan tersebut Kantin MIPA lama adalah solusinya, tempat bagi saya dan teman-teman melepaskan semua beban, mungkin sebagian besar waktu kuliah saya kebanyakan dihabiskan bersama teman-teman di kantin MIPA.

Suasana di kantin lama MIPA

Kegilaan pertama Leo yang mulai terlihat

Perjuangan di dalam kampus dilanjutkan dengan perjuangan di luar kampus, hampir satu minggu 2 kali saya dan teman-teman Pra mengadakan pertemuan dan belajar bersama di rumah Bapak Tarigan, beliau merupakan teman satu angkatan Pra yang tertua dan dituakan. Total waktu belajar biasanya selepas magrib sampai lewat tengah malam, waktu belajar maksimal adalah 10 menit awal yang sisanya dihabiskan dengan belajar mendengarkan cerita, curhat, pengalaman, dan bercanda gurau.

Kau pe muka biasa sa

suasana di dalam kelas

Satu bulan pertama saya di Jogja, tepatnya pada bulan Oktober 2010 Gunung Merapi meletus, saya ikut merasakan langsung bagaimana rasanya berada di daerah yang terkena dampak letusan Gunung berapi. Kepanikan, tekanan, ketakutan dan trauma dirasakan hampir oleh semua warga Jogja di sekitar Sleman. Biasanya saya hanya mengikuti kejadian bencana alam seperti ini melalui TV di rumah saya yang aman dan nyaman. Tapi bisa ikut merasakan langsung merupakan suatu cerita dan pengalaman yang tiada duanya. Letusan pada tahun 2010 cukup besar dibanding letusan pada tahun-tahun sebelumnya, meratakan banyak desa di sekitar kaki Merapi, hampir seluruh warga di radius 25 Km dari Merapi diungsikan.

Hari pertama letusan merapi, pertama kalinya dari pagi siang dan malam makan mie instan di kos, karena semua warung sekitar kos tutup, dan jogja di selimuti kabut coklat pekat

Warung-warung makan semua tutup, kuliah pun diliburkan selama 2 minggu. Kota Jogja sepenuhnya berwarna coklat akibat debu dari letusan gunung. Kebanyakan mahasiswa mengungsi ke kota lain atau pulang ke rumahnya masing-masing. Orang tua dan keluarga saya pun sibuk menelpon saya menyarankan untuk pulang karena mereka sudah tau saya pasti tidak akan pulang, entah kenapa saya hanya ingin tinggal di Jogja kala itu, mungkin sesuatu dari saya bisa sedikit membantu dengan menjadi relawan, dan benar saja beberapa kali saya meneteskan air mata ketika berkunjung ke posko pengungsian Merapi di Stadion Maguwoharjo suasanaya persis seperti lagu Ebit G Ade yang judulnya saya lupa.

puncak tertinggi di kinah rejo beberapa minggu setelah lutusan

Betapa berharganya bantuan dari semua pihak kala itu walaupun hanya sebungkus pembalut wanita saja. Beberapa minggu setelah Merapi meletus saya juga ikut meramaikan beberapa teman relawan yang berangkat ke desa Kinahrejo. Betapa terkejutnya saya melihat kondisi di sana yang rata dengan tanah, hanya ada sisa puing-puing rumah, kendaraan dan entah masih ada berapa mayat yang masih tertimbun di bawah tanah atau reruntuhan rumah. Suasana yang begitu mencekam kala itu tapi Kinahrejo kini kembali Hidup.

Zen membopong Taufik, yang untuk pertama kalinya keluar rumah tanpa kursi rodanya dan yang untuk pertama kalinya juga merasakan karokean – Foto ini selalu membuat saya terharu, Zen salah satu manusia luar biasa yang pernah saya kenal

Satu tahun pertama saya di Jogja, merupakan tahun-tahun yang paling seru, penuh warna dan bermakna. Semua rasa terangkai bersama susah, senang, gembira, tertawa, galau, jutek, marah, ngambek, pusing, capek, kesal, suntuk, manis, asam, asin, dll, tapi apapun itu intinya teman-tetaplah teman. Tetap bagi saya waktu paling banyak ya di habiskan dengan berkumpul ria jenaka bersama para sahabat, melewati petualangan-petualangan yang seru. Pantai dan gunung mulai menjadi tempat bermain kami, ruang-ruang karaoke menjadi tempat menggila kami, sudut sudut kota jogja di kala malam menjadi tempat nongkrong kami, tapi tetap kantin mipa menjadi solusi buat kami.

Pertama kali jalan bersama ke Malioboro dan Alun-alun kidul – Ucil biasa menyebut mereka Maho Ranger

Suasana di dalam tenda di Gunung pertama yang di daki selama tinggal di jogja, Ummu, Ikbal, Derwin, Pt, Mba Erma, Saya

Karokean bersama untuk pertama kalinya selepas Pra

Pertama kalinya menjadi pembicara di salah satu stasiun radio swasta di jogja – ingat kata-kata Leo “Jagalah PIN anda seperti menjaga kehormatan anda”

Pertama kali naik Trans Jogja, Hampir semua orang dalam bus tertawa memperhatikan kegilaan kami.

Tak terasa waktu berlalu, akhirnya sampailah saya pada saat ini, dimana saya duduk menulis tulisan ini sepulang dari perpus, dan sebagian besar waktu mulai dihabiskan sendiri, menekuni bahan-bahan penelitian akhir. Saya berharap hal yang sama juga dari sahabat-sahabat saya yang lain, sedang duduk menekuni bahan penelitiannya masing-masing.

Pertama kali Foto bersama di bawah Gedung SIC

Ingin saya bercerita lebih banyak tapi waktu sudah memaksa saya untuk mengumpulkan tulisan saya, mungkin di lain waktu saya akan menuliskan cerita yang lebih bermakna dan berwarna tentang saya dan “keluarga MCS” dalam perjalanannya 2 tahun di jogja. Sampai jumpa di Grahasaba Pramana teman-teman.

Tagged ,

10 thoughts on “Hari ini, 2 Tahun Yang Lalu dan semua yang pertama

  1. yayangebm says:

    🙂 Nggak sengaja searching-searching tentang S2 Ilmu Komputernya UGM nemu tulisan ini, dan ternyata “Ucil” is my college teacher😀 , kisah yang luar biasa, semakin semangat tuk ngelanjutin S2 di UGM juga :)) Salam kenal kaka :))

  2. […] banyak sekali saya terkejut malam ini. Betapa ramainya alun-alun kidul sekarang ini, seingat saya 2 tahun yang lalu belum seperti ini, dulu jalan yang mengelilingi alun-alun masih bebas dari hambatan kini […]

  3. kakakdikes says:

    tolong itu neng lelanya ditemukan segera!

  4. euchant says:

    four thumbs up !! kereeenn mas adi … *sambil ngelap air mata terharu

  5. arsa says:

    hahhaha…. neng lela….. wkwkwkwkw……. tertawa jadinya… plus terharu juga seh… hihihihi… mantaf kkk adi…..

  6. eryzha says:

    Jadi terharu bacanya….cemungud temans

  7. […] : https://sarangpenyamun.wordpress.com/2012/09/27/hari-ini-2-tahun-yang-lalu-dan-semua-yang-pertama/ Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Published: September 27, 2012 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: