air dan cinta

Setengah dari hari ini saya habiskan di ruang Tesis Perpus Pusat UGM untuk sekedar membaca-baca bahan yang berhubungan dengan penelitian saya, sambil sesekali memikirkan apa yang akan saya tulis sehubungan dengan tema tulisan hari ini yaitu ‘air’. Sampai ketika saya hendak pulang dan sedang membereskan semua peralatan dari atas meja perpus, tidak sengaja saya melihat sebuah tulisan samar-samar yang sepertinya judul blog, dari layar laptop si mba manis yang duduk di samping saya, merasa diperhatikan si mba manis pun menoleh ke arah saya namun si mba menyadari yang saya sedang perhatikan adalah layar laptopnya sekejap si mba kembali lagi memposisikan wajah manisnya ke depan layar laptop. Tulisan di layar laptop tersebut bagaikan sebuah suntikan tetanus berisi ide di tengah kebuntuan, sebuah ide tentang air dan cinta. *sumpah saya geli nulis ini😀

Air adalah unsur yang paling dibutuhkan mahluk hidup untuk tetap hidup, dalam kondisi survival manusia dapat bertahan hidup 2 minggu tanpa makanan namun hanya 3 hari tanpa air. Bayangkan jika hidup kita tanpa air, semua akan kering, perlahan-lahan tumbuhan mati, hewan mati, manusia mati dan bumi ini pun akan mati, begitu juga jika hidup kita ini tanpa cinta, mati.  Cinta adlah sebuah kata clasik yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, setiap orang mencari, mendambakan dan menantikan cinta sejatinya dalam hidup. Cinta itu merupakan suatu bentuk abstrak dari perasaan seseorang layaknya air yang mampu mengisi setiap bentuk ruang yang ditempatinya. Cinta sama seperti air juga memiliki daya yang disebut kapilaritas yang mampu menjalar dan meresap kesela-sela tersempit unsur kehidupan.

Cinta itu mengalir bak air, yang mengalir dari mata air di pegunungan terus jauh turun ke bawah membentuk suatu sungai dan mampu mengairi persawahan, rumah-rumah penduduk dari desa hingga ke kota, dan akhirnya akan bermuara ke laut. Agar air tidak kotor bercampur dengan limbah yang nantinya bisa mengotori ekosisitem perairan di laut, sungai haruslah di jaga. Begitu juga dengan hati kita, hati kita layaknya sungai, kita harus menjaganya agar cinta tidak terkotori dari hal-hal yang dapat mengotorinya dan merusak ekosistem percintaan. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memiliki hati yang kotor seperti limbah yang cintanya sudah bercampur dengan berbagai macam jenis kotoran. Jika limbah saja bisa diolah dan didaur ulang begitu juga dengan cinta, bisa kok diperbaiki dengan berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama dan belajar dari kesalahannya tersebut, juga dengan mau memperbaiki diri dan mau menjaga hatinya dengan tidak membuang sampah ke sungai. *entah apa yang saya tulis ini

Pernahkan kita sadari, bahwa sebenarnya kita sudah terlalu banyak menyia-nyiakan cinta, seperti keran air rusak yang airnya dibiarkan menetes terus menerus, bayangkan jika dikumpulkan tetesan tersebut berapa banyak air yang sudah terbuang percuma sia – sia, padahal masih banyak manusia di belahan lain bumi ini yang membutuhkan air, di Afrika misalnya. Ketika anda menyia – nyiakan cinta hanya untuk menunggu orang yang tepat, atau mencintai seseorang yang tidak mencintai anda, tidak terbayangkan berapa banyak cinta yang terbuang percuma padahal di belahan lain bumi ini masih banyak manusia yang membutuhkan cinta anda, ya contohnya di Afrika.

Air memiliki batasan berupa titik didih dan titik beku. Begitu juga dengan cinta, ketika kita terlalu panas dalam mencintai maka molekul-molekul cinta itu akan memuai menguap menjadi udara dan menghilang, dan ketika kita terlalu dingin dalam mencintai maka molekul-molek cinta tersebut perlahan akan mengeras, membeku menjadi sebongkah es. Jadi bercintalah sewajarnya.

Janganlah mencintai dengan berlebihan karena cinta yang terlalu berlebihan itu sangat berbahaya dan akan membawa kita kepada kematian, cinta berlebihan sama seperti air berlebihan yang disebut tsunami. Namun jangan pula mencintai dengan penuh kekurangan, karna rasanya akan seperti selesai buang air tapi tidak memiliki cukup air untuk cebok. Jadi mencintai itu kuncinya adalah harus pas – pasan.

Dalam keseharian cinta itu seperti air yang mampu memberikan kesegaran setelah kita bermain futsal, memberikan semangat ketika kita terseok-seok lelah mendaki gunung, memberikan harapan ketika kita muak putus asa mengerjakan tugas akhir. Hanya cinta yang mampu menggabungkan kedua unsur yang berbeda menjadi satu, seperti air yang menyatukan elemen pasir dan semen, menjadi bangunan-bangunan yang indah tersusun rapi, tinggi, kuat, kokoh berdiri. Maka dari itu adalah merupakan tanggung jawab masing-masing kita untuk menjaga cinta seperti kita menjaga air, agar tetap suci hingga dikemudian hari.

Air itu obat haus dan kopi itu obat mengantuk, saya haus dan saya mengantuk, maka saya berhenti menulis dan segera membuat air kopi.

Tagged , , , , ,

7 thoughts on “air dan cinta

  1. centerjava says:

    “Jangan pula mencintai dengan penuh kekurangan, karna rasanya akan seperti selesai buang air tapi tidak memiliki cukup air untuk cebok.” sumpah ngakak bacanya bang… air=cinta , air untuk cebok jadi cinta adalah untuk cebok, larinya cinta ke pantat juga bang akhirnya… haha piss:

  2. arsa says:

    wkwkwkkwkwkw…… kau lama2 kayak pujangga…… hahhahaha ini dia keluar aslinya.. tulisan yang seperti ini… hahahaha……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: