Kinahrejo Pagi Ini

“ajining menungsa iku gumantung ana ing tanggungjawabe marang kewajibane” 
“kehormatan seseorang dinilai dari tanggung jawab terhadap kewajibannya”
~Mbah Marijan

Pagi ini pukul 5.30 pagi sahabat saya Pt membangunkan saya melalui telpon, karena pada pagi ini saya bersama bung Pt dan beberapa sahabat rekan-rekan MCS yang lain, yaitu bung Ikbal, adik Efan, bung Takin, kakak Nova dan kakak Ricky akan bersepeda dari kampus MIPA UGM menuju ke desa Kinahrejo, sebuah desa di kaki Gunung Merapi yang pada tahun 2010 lalu luluh lantak, rata dengan tanah akibat terjangan awan panas dari letusan Gunung Merapi. Kinahrejo juga merupakan tempat tinggal dan meninggalnya Mbah Marijan juru kunci Gunung Merapi yang juga gugur dalam mengemban tugas akibat keganasan awan panas letusan Gunung Merapi.

Mobil bak pengangkut sepeda, sambil menunggu rekan-rekan yang lain

Rute perjalanan kami pagi ini cukup simple, berangkat dari kampus MIPA UGM menuju Kinahrajo dengan menggunakan jasa angkutan mobil bak terbuka, dan dari Kinahrejo kembali lagi ke kampus MIPA UGM dengan menggunakan sepeda. Menggunakan jasa angkutan mobil bak terbuka merupakan satu pilihan yang bijak karena track menuju Kinahrejo bukan track main-main, terutama untuk saya yang tidak terbiasa bersepeda. Salah satu yang menjadi alasan utama saya bersedia untuk ikut bersepeda ya karena berangkat dengan menggunakan mobil bak terbuka, alasan lain karena Pt mendapatkan sepeda pinjaman untuk saya.

Dalam perjalanan di atas bak mobil

Ikbal dan para pencinta sepeda tua

Salam dan lambaian dari para orang tua pencinta sepeda tua

Perjalanan menggunakan mobil bak terbuka di pagi hari sangat dingin, menyenangkan dan penuh sensasi terutama setelah melewati jalan Kaliurang km11, jalanannya yang menanjak dan berkelok memberikan nuansa keseruan yang mencemaskan, pastinya kami juga menjadi pusat perhatian dari pejalan kaki dan pengguna jalan raya yang lain. Jogja memang penuh dengan keramahtamahan yang sudah melekat di dalam hati masyarakatnya dan menular kepada para pendatang yang tidak pernah saya temui di kota-kota lain di Indonesia. Selama saya dan teman-teman duduk bersama sepeda di bak mobil, cukup banyak lambaian tangan yang datang kepada kami mulai dari pengendara motor, mobil, bahkan para pesepeda yang sedang ngos-ngosan mengayuh sepedanya, mereka masih sempat untuk melemparkan senyuman kepada kami, dan yang paling menarik adalah ketika kami melewati rombongan para kakek-kakek penggemar sepeda-sepeda ontel tua yang sedang berkumpul di pinggir jalan Kali Urang, semua dari mereka melambaikan tangan dan senyuman memberi salam kepada kami, sayangnya udara yang dingin dan mobil yang bergoyang membuat hasil foto saya juga ikut bergoyang. Sudah lama saya tidak menikmati jalan-jalan menggunakan mobi bak terbuka seperti ini, jadi teringat mobil kijang bak terbuka berwarna hijau milik ayah saya yang dulu biasa saya gunakan berkeliling kota dan kebut-kebutan sewaktu SMA.

Sibuk menurunkan sepeda

Foto bersama sebelum bersepeda ke rumah Mbah Marijan

Suasana minggu padi di Kinahrejo yang masih sepi dari pengunjung

Beristirahat sejenak di persimpangan

Biaya masuk kawasan desa Kinahrejo hanya 3 ribu rupiah per orang dan sampai di Kinahrejo Pak Sopir menurunkan kami dan sepeda di kawasan parkir kendaraan bermotor, dari kawasan parkir rumah Mbah Marijan kurang lebih 1 Km menanjak ke atas. Kami melanjutkan perjalanan bersepeda karena untuk menuju ke kawasan rumah Mbah Marijan pengunjung hanya boleh berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan berupa motor trail jenis terbaru saat ini yang sudah tersedia untuk disewakan dengan biaya 50 ribu per jam. Namun walau hanya 1 Km track dari parkiran menuju rumah Mbah Marijan sangat sangat sangat menguras stamina dan meremas dada, hanya beberapa meter saja kami mampu menggowes sepeda-sepeda kami, selanjutnya kami berjalan kaki sambil mendorong sepeda kami.

Sisa sisa mobil relawan yang hancur akibat awan panas

Museum mobil milik relawan dan baliho berisi informasi para relawan yang gugur

Sisa-sisa gamelan dan alat musik tradisional jawa

Kinahrejo, Kami dan Merapi

Disini dulunya berdiri rumah Mbah Marijan

Warung cindera mata milik putra-putri Mbah Marijan

Satu-satunya warung kopi di belakang museum rumah Mbah Marijan

Setiba saya di kawasan rumah Mbah Marijan saya terkagum, Kinahejo yang sekarang berbeda dengan Kinahrejo ketika saya datang dulu pada tahun 2010 tepatnya 1 minggu setelah letusan Merapi, rumah Mbah Marijan dan sekitarnya yang dulu rata dengan tanah, dengan suasana yang kelam dan asap asap yang keluar dari tanahnya kini menjadi kawasan museum yang menarik dan bercerita. Secara keseluruhan Kinahrejo seperti di sulap menjadi daerah wisata pegunungan yang bersih dengan alamnya yang mulai kembali hijau, bangunan-bangunan kembali berdiri, warung-warung berjejer rapi di sepanjang kawasan parkir, yang bagusnya lagi fasilitas umum seperti WC umum cukup banyak tersedia.

Si Akin beratraksi dengan sepeda gunungnya

Suatu bentuk romantisme klasik dalam bersepeda

Setelah berkeliling dan melihat-lihat  kawasan museum rumah Mbah Marijan, kami menghabiskan waktu cukup lama di satu-satunya warung makanan di belakang museum, dengan obrolan dan canda tawa kami bersama Ibu si pemilik warung sembari menikmati teh hangat dan wedang jahe buatan si Ibu.

Kami meninggalkan museum rumah Mbah Marijan pada pukul 9.30 dan ketika kami turun para pengunjung mulai ramai berdatangan baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Ramainya para pengunjung membuat perekonomian para penduduk di sekitar Kinahrejo dan kaki gunung merapi semain membaik. Tapi untung bagi kami yang datang lebih pagi jadi minggu pagi di Kinahrejo tetap milik kami.🙂

Mobil Jeep yang bisa di sewa untuk mengantar pengunjung berkeliling Kinahrejo

Para pengunjung Kinahrejo

Suasa Kinahrejo yang mulai ramai oleh pengunjung

Pengunjung yang mulai ramai berdatangan

Saatnya pulang adalah moment yang paling saya tunggu-tunggu, menikmati sensasi meluncur dengan sepeda berkecepatan tinggi melalui track aspal pegunungan yang curam dan berkelok binal, wohoooooooooo rasanya seperti terbang bagai burung dan menikung bak valentino rossa. Keseruan yang benar-benar nyata, untungnya sepeda yang saya pakai adalah sepeda pinjaman yang cukup mewah jadi kegilaan saya bisa sangat saya bendung. Sedikit saran buat semua rekan-rekan MCS yang lain wajib untuk mencoba petualangan yang satu ini sebelom lulus, apalagi bagi anda yang datang ke jogja untuk berlibur juga harus coba down hill dari Kinahrejo, penyewaan sepeda banyak kok di jalan Kaliurang.

Foto bersama di jembatan entah apa nama jembatannya

Foto bersama di jembatan entah apa nama jembatannya

Foto bersama di jembatan dalam perjalanan pulang, yang mana saya masih lupa nama jembatannya

Sekali lagi keramahtamahan Jogja memang luar biasa sepanjang perjalanan saya turun bersepada, sampir setiap penduduk yang saya temui selalu menyapa dengan senyuman dan anggukan, yah suatu saat nanti pasti saya akan sangat merindukan kota ini, Jogja memang istimewa🙂

Perjalanan turun dari Kinahrejo kembali ke jalan Kaliurang km 6 kurang lebih 1 jam, itu sudah termasuk waktu kami berhenti untuk foto-foto. Semoga saja kedepannya kegiatan ini bisa menjadi kegiatan rutin mingguan dan saya juga berharap di kemudian hari tidak adalagi korban yang jatuh dalam siklus 4 tahunan Gunung Merapi.

Tagged , , , , , , , ,

8 thoughts on “Kinahrejo Pagi Ini

  1. […] serunya bersepeda bersama rekan-rekan MCS ke Kinahrejo beberapa minggu yang lalu, membuat saya merasa membutuhkan sebuah sepeda. Setelah kurang lebih 1 […]

  2. […] masih tertimbun di bawah tanah atau reruntuhan rumah. Suasana yang begitu mencekam kala itu tapi Kinahrejo kini kembali Hidup. Zen membopong Taufik, yang untuk pertama kalinya keluar rumah tanpa kursi rodanya […]

  3. tudipa says:

    foto apik, tulisan ciamik, sangat suka🙂

    • dekill says:

      saya juga berterima kasih atas sepedanya🙂 kalau bisa segera direalisasikan jadi agenda mingguan, sekalian juga bantu ajak temen-temen yang lain, mungkin bisa di usahakan pinjem sepeda UGM dalam jumlah banyak buat temen2 yang gak punya sepeda termasuk juga saya🙂

  4. akin says:

    Super sekali bung!!

  5. […] : https://sarangpenyamun.wordpress.com/2012/09/23/kinahrejo-pagi-ini/ Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Published: September 22, 2012 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: