perjalanan ke banyu wangi

Setelah sebulan berpuasa dan berlebaran di rumah, waktunya untuk saya kembali ke jogja dan berangkat menuju ke banyu wangi, jawa timur sebelum perkuliahan di mulai, untuk menghadiri pernikahan salah satu rekan kampus saya, dan jika waktu juga memungkinkan sekalian jalan-jalan ke kawah ijen dan taman nasional baluran. Pengetahun saya tentang banyu wangi sangat minim, berbekal arahan dari ervin yang akan menikah di banyu wangi berangkatlah saya dan beberapa teman kampus.

Awalnya dari jogja kami ingin menggunakan jasa kereta ekonomi, tapi tiket sudah habis terjual sampai dengan beberapa hari kedepan, satu satunya transpotasi menuju ke banyu wangi adalah dengan menggunakan bus ekonomi ac (akas). Sudah terbayang di pikiran saya bagaimana menderitanya nanti menggunakan bus ekonomi ac.

Kami berangkat dari terminal giwangan jogja pukul 4 sore, bus masih dalam keadaan kosong jadi kami bebas memilih tempat duduk yang paling pas, dan saling bersebelahan. Tidak lama kami duduk bus sudah dalam keadaan penuh, bus ekonomi ac ini sebenarnya tidak jelek – jelek banget, cuma tempat duduk nya yang benar-benar di press agar bisa menampung penumpang sebanyak-banyaknya, alhasil kenyamanan penumpang lah yang di korbankan, jangankan untuk bergerak ke kanan dan ke kiri meluruskan kaki saja sulit, belom lagi keril 50 liter yang saya bawa harus saya pangku. sebenarnya bus besar ini juga di lengkapi dengan bagasi, si kondektur pun menawarkan agar tas saya di taruh di bagasi atau di bagian belakang bus, tapi saya tidak pernah akan mau berjauhan dengan keril saya karena saya tidak yakin akan keaman keril dan isinya.

peristirahatan di kota probolinggo

Selain kursi utama biasanya bus ini juga menambahkan kursi – kursi cadangan plastik di sepanjang koridor bus, otomatis menambah sumpek dan sempit nya isi di dalam bus. Mau tidak mau saya harus menikmati berada dalam posisi ini selama 15 jam dari jogja menuju ke banyu wangi, menahan pegalnya nya kaki, bokong dan punggung. Harga tiket bus dari jogja sampai banyu wangi 85 ribu, bus berenti 1 kali selama 20 menit di probolinggo untuk beristirahat, yang mana buat saya terasa seperti surga dunia.

Pukul 7 pagi kami turun di benculuk sesuai tuntunan dari ervin. Benculuk berjarak 1 jam sebelum kota banyuwangi. Di benculuk beberapa orang sudah menjemput kami menggunakan motor dan membawa kami langsung ke tempat tinggal ervin. dari benculuk rumah tujuan kami masih sekitar 20 menit, masuk ke pedalaman desa banyuwangi melewati hutan-hutan jati.

Hutan jati 

Rupanya tempat tinggal rekan saya ervin ini berada di daerah ujung dan paling bawah pulau jawa tepatnya di daerah purwoharjo, desa kecil dekat dengan pantai yang masyarakatnya beraneka ragam. Dalam perjalanan saya melihat banyak sekali tempat ibadah seperti pura, wihara, gereja dan masjid yang berdiri saling bersebelahan namun masyarakatnya hidup rukun dan damai, saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Pusat kota purwoharjo, tidak ada bank hanya pegadaian dan beberapa ATM

Setiba kami di kediaman ervin, kami di sambut dengan suasana kekeluargaan yang kental di tengah ramainya para sanak saudara dan tetangga yang sedang bekerja mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara resepsi pernikahan besok. Rumah yang kami datangi ini sangat khas pedesaan, sederhana namun bersahaja begitu pula dengan pemiliknya hidup dengan penuh kesederhanaan.

Tuan rumah sepertinya sudah tahu benar jauh nya perjalanan yang kami tempuh untuk bisa sampai di kediaman nya, berbagai makanan kecil dan minuman langsung tersuguhkan di hadapan kami, sambil beristirahat dan menikmati suguhan dari tuan rumah kami saling berbincang seputar perjalanan kami dan rencana kami selama di banyu wangi. dan tidak lama kemudian sarapan besar pun sudah tersaji.

Suasana makan siang

Setelah beristirahat, sarapan dan membersihkan badan saya mulai berkeliling menikmati suasana sekitar rumah sambil melihat persiapan pernikahan ervin besok, mulai dari dapur sampai ke pekarangan rumah, setiap orang cukup sibuk dengan tugasnya masing-masing tapi tuan rumah tidak mengizinkan kami sedikitpun untuk repot membantu persiapan pernikahan. Tampaknya memang tak ada yang bisa kami lakukan siang itu selain tidur-tiduran menunggu sore tiba untuk jalan-jalan ke pantai grajagan.

Para bapak-bapak sedang membuat kembar mayang

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: