Keindahan di balik pendakian Gunung Sumbing – jalur desa butuh, kaliangkrik

gunung sumbing

Sebelum libur puasa dan lebaran semester ini, saya bersama teman-teman memutuskan untuk mendaki satu gunung lagi, rencana awalnya adalah semeru tapi waktu dirasa tidak cukup untuk mendaki gunung semeru, jadi gunung sumbing lah tujuan kami. Belum ada satu pun dari kami yang pernah menjejakkan kaki di gunung sumbing, gunung sumbing juga bukan gunung faforit bagi para pendaki jadi informasi yang dapat di cari di internet pun terbatas. Berdasarkan hasil pencarian di internet terdapat 4 jalur pendakian di gunung sumbing, dan berdasarkan peta google basecamp pendakian paling dekat dari jogja adalah dari selatan yaitu jalur kaliangkrik desa butuh (tepatnya desa butuh, kecamatan kaliangkrik, kabupaten magelang), jalur ini lah yang akan kami pilih sebagai jalur pendakian selain paling dekat dari jogja menurut analisa saya pribadi dari jalur ini kami bisa menikmati sunrise dengan pemandangan gunung merapi dan merbabu (semoga analisa nya tepat). Setelah mengumpulkan semua informasi dan berberkal google map dan mempersiapakan semua keperluan pendakian berangkatlah kami ber-empat.

suasana di depan rumah pak kepada dusun

Memulai perjalanan dari jogja selasa pukul 3 pagi menggunakan motor, jalanan pagi hari cukup lengang, cuma udara dingin di bulan ini yang sangat menyiksa. Sampai di magelang kami langsung menuju ke daerah kaliangkrik, di daerah kaliangkrik kami sempat bertanya arah menuju desa butuh. Kondsi jalanan dari kaliangkrik menuju desa butuh cukup berat bagi motor kami, tanjakan dan turunannya yang sangat curam dan licin, namun pemandangan sepanjang perjalanan cukup memuaskan mata kami. Pastikan kendaraaan dalam kondisi baik untuk melalui jalur ini. Desa butuh merupakan desa terakhir di ketinggi 1500 mdpl, sampai di desa butuh kami bertanya kepada warga lokasi rumah kepala dusun, dan warga dengan ramah dan senang hati mengantarkan kami ke lokasi rumah pak kadus. Desa butuh berada tepat di kaki gunung sumbing, tata letak rumah – rumah disini cukup unik, desa terbelah oleh jurang menjadi dua sisi, sisi kanan dan sisi kiri, dan itulah yang membuat desa ini menarik, andai saya tidak naik gunung cuma sekedar  jalan-jalan di desa ini pun cukup menyenangkan, teringat kalimat seorang sahabat saya desa ini mirip rio de janero (mungkin ia pernah pergi ke sana sehingga bisa berkomentar demikian). Sayangnya kabut pagi itu sangat pekat jadi saya tidak bisa mendapatkan gambar desa butuh yang cukup jelas.

Foto bersama pak muchsinun kepala dusun butuh sebelum memulai pendakian

Basecamp pendakian di desa ini merupakan rumah pribadi kepala dusun butuh, namanya pak muchsinun, kami tiba pada pukul 6.30 pagi. Bapak muchsinun sendiri merupakan orang yang ramah, begitu pula dengan para penduduk di desa tersebut sangat – sangat ramah. Pagi itu kami habiskan dengan berbicang dengan pak muhsinun, seputar jalur pendakian dan hal – hal yang berhubungan dengan pendakian kami, kami juga sempat tidur-tiduran sejenak. Tidak ada warung yang menjual makanan seperti basecamp pendakian gunung pada umumnya, tapi di rumah pak muchsinun ini kita bisa meminta tolong di buatkan sarapan atau makanan, biasanya berupa mie atau nasi goreng. Biasanya kita juga di minta untuk mengisi data pribadi sebelum mendaki, dan di rumah pak muhsinun ini pendaki juga bisa bermalam dan menitipkan barang – barang yang tidak diperlukan. Kendaraan pun bisa di titipkan di rumah pak muhsinun, motor di titipkan di rumahnya sedangkan mobil di depan pasar beberapa meter ke bawah dari rumah pak muchsinun. (pendaki tidak di pungungut biaya untuk melapor, untuk menginap dan bahkan untuk meminta di buatkan makanan, tapi justru itulah yang membuat kami memberikan uang secara sukarela yang sedikit kami lebihkan sebelum kami meninggalkan rumah pak muchsinun sebelum pulang ke jogja).

Orang tua warga dusun butuh yang turun setelah mengambil kayu

Selesai melakukan ceking ulang peralatan dan keperluan pendakian tidak lupa untuk foto-foto bersama, jam 10 pagi kami baru mulai perjalanan mendaki kami. Dari rumah pak kadus, jalur berupa tanjakan serius dan tangga – tangga yang sangat panjang panjang, dengan hamparan perkebunan di kanan kiri nya (hampir sama dengan tangga-tangga di gunung lawu tapi tangga di sini tidak begitu membosankan seperti di lawu karena pemandangan disini cukup menarik). Kami juga sering berpapasan dengan para penduduk setempat yang turun membawa hasil tanaman atau kayu. Warga dusun sangat ramah, setiap kali berpapasan bukan cuma tergur sapa basa basi biasa tapi juga obrolan – obrolan yang sedikit panjang pun terjadi, sayangnya bahasa jawa wajib disini bagi saya yang tidak bisa berbahasa jawa hanya bisa menjawab dengan nje atau iya.

Jalur pendakian perbatasan antara kebun warga dan hutan pinus

Setelah melewati perkebunan warga kami tiba di hutan pinus, jalur masih menanjak berbentuk tangga tapi sudah berupa tanah, setelah melalui hutan pinus, kami tiba di pos satu berupa area datar di sebelah kiri jalur yang dibentuk pas untuk mendirikan tenda. Stamina sangat – sangat di uji di jalur ini pastikan kondisi stamina prima sebelum memutuskan mendaki gunung sumbing melalui jalur ini.

Sungai ke 6 terdapat pertigaan samar-samar, disinilah banyak pendaki yang tersesat, ke atas kiri adalah jalur menuju puncak

Setelah pos satu jalur sedikit mendatar, dan jalur sudah berada lereng lereng gunung terbuka tidak banyak pepohonan tinggi di jalur ini hanya padang – padang ilalang, yang menarik adalah sungai sungai yang memotong jalur pendakian, pada musim seperti sekarang sungai ini kering hanya berupa bebatuan hitam tapi pada musim hujan sungai ini mengalirkan air yang bisa menjadi air terjun – air terjun kecil. Yang perlu di perhatikan adalah ketika sampai di sungai ke 6 akan terdapat percabangan ke kiri dan ke kanan, jalur untuk menuju ke puncak adalah yang ke kiri (menuju ke atas) sedangkan yang ke kanan (menuju ke bawah) adalah jalur yang biasa di gunakan penduduk untuk mengambil kayu.

Jalur pendakian setelah melewati sungai ke 6

Sampai di sungai ke 6 waktu sudah pukul 5 sore, kami terus berjalan hingga bertemu sungai ke 9 (jika saya tidak salah hitung) merupakan sungai terakhir, dari sini jalur mulai sedikit ekstrim dan semakin menanjak uji stamina pun masih berlanjut. Beberapa rekan perjalanan saya sedang dalam kondisi tidak fit dan cukup kaget dengan jalur pendakian yang di luar dugaan. Rencananya kami akan bermalam di kawah dan mendirikan tenda di padang savananya, tapi hingga jam 7 malam kawah yang kami tuju tersebut belum juga terlihat, untungnya kondisi jalur tidak dipenuhi pepohonan rindang hanya tumbuhan tumbuhan ilalang sepanjang mata memandang.

Pemandangan malam hari dari pos pohon tunggal

Kami terus berjalan menanjak pelan menggunakan senter sebagai penerangan, namun kondisi fisik beberapa anggota dan dinginnya suhu membuat kami harus segera mencari tempat untuk mendirikan tenda, saya berjalan paling depan untuk mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda, akhirnya saya menemukan sedikit tempat datar di padang ilalang yang ditandai dengan satu buah pohon yang paling besar yang ada disitu (tempat ini akhirnya kami namakan pos pohon tunggal), disinilah kami mendirikan tenda malam itu. Selesai mendirikan tenda seperti biasa makan malam dan cerita malam yang penuh dengan kehangatan.

Pemandangan dari pos pohon tunggal di pagi hari

Di tengah dingin nya cuaca di bulan juli saya menyempatkan untuk keluar tenda sebentar untuk melihat pemandangan dan memperkirakan masih berapa jauh perjalanan kami menuju kawah. Dan benar sekali perkiraan saya ternyat pemandangan dari tempat kami berkemah sangat sangat menakjubkan, indah langit malam terang bertabur bintang, di kejauhan nampak gunung merapi dan merbabu. Sungguh beruntung kami bisa bermalam di pos pohon tunggal malam itu. dan menurut saya bermalam di sini pemandangan lebih indah di banding dikawah.

Tiga orang sahabat yang pemberani, beristirahat di jalur menuju puncak

Kembali ke tenda, saya sangat sulit untuk bisa tidur di tenda malam itu udara yang sangat sangat sangat dingin membuat saya sulit untuk terlelap, entah berapa kali saya terbangun dan terbangun, akhirnya pagi tiba, pukul 5 pagi kami semua keluar dari tenda, sungguh pemandangan yang menakjubkan, cahaya kunung matahari yang terbit, awan awan, tenda, pohon, merapi dan merbabu menyambut pagi kami dari kejauhan. Tiba tiba gunung ini menjadi gunung faforit saya, tidak banyak orang yang mendaki gunung ini apalagi dari jalur ini itu juga mungkin yang menjadikan gunung ini adalah yang paling bersih, paling sedikit sampah dan vandalisme dari semua gunung yang pernah saya datangi di jawa tengah, belum lagi warga sekitar yang sangat ramah dan sangat welcome terhadp pendatang.

Pertigaan kiri menuju kawah, kanan kembali ke pos pohon tunggal, lurus ke depan puncak

Tidak lama setelah kami menikmati matahari terbit terdengar suara sayup – sayup dari bawah, rupanya beberapa rombongan pendaki menuju ke tenda kami, betapa senang nya kami akhirnya kami bertemu dengan pendaki lain, setelah bertegursapa dan bercerita kami sama – sama melanjutkan pendakian menuju puncak, rombongan pendaki lain itu berjumlah 13 orang menggunakan 2 orang porter, mereka berangkat jam 12 malam dan mereka tidak melalui desa butuh (saya lupa mereka melalui desa mana)

Kawah dan savana gunung sumbing, biasa digunakan para pendaki untuk mendirikan kemah dan bermalam

Dari tempat kami berkemah puncak kurang lebih 1.5 jam sampai 2 jam (tergatung kondisi stamina masing masing pendaki), sebenarnya pos pohon tunggal sudah cukup dekat cuma jalur pendakian sangat menanjak parah membuat kecepatan mendakian relatif lama. Akhirnya kami tiba di pertigaan yang mana ke kanan menuju kawah dan ke kiri menuju puncak. dari pertigaan ini jarak ke kawah kurang lebih 20 menit, dan puncak 5-10 menit, kawah cukup kami lihat dari jauh saja, mungkin suatu saat jika berkunjung ke gunung ini lagi kami akan bermalam di kawah (berdasarkan informasi yang saya terima kawah hanya bisa di capai melalui jalur kaliangkrik).

Puncak Gunung Sumbing dari desa butuh kali angkrik

Kawah berupa lobang berdia meter lebih dari 900 meter di titik pusat gunung dan dinding dinding puncak gunung mengelilingi kawah ini. Selesai berisitirahat sebentar  kami langsung melanjutkan menuju puncak sumbing (puncak melalui jalur ini bukan puncak tertinggi karena puncak tertinggi ada di seberang puncak ini, hanya beda beberapa meter).

Pemandangan dari puncak

Setelah menikmati suasana dan foto-foto di puncak kami pun turun kembali ke tenda, di perjalanan turun menuju tenda pos pohon tunggal kami berpapasan dengan rombongan 13 orang yang terpencar-pencar, ada yang sedang tertidur di jalur karena keletihan, ada yang sedang bercengkrama, sambil menunggu rekan rekannya yang sedang tertidur. Sampai kembali di pos pohon tunggal, kami langsung menyiapkan makanan, beres-beres, bongkar tenda dan bersih – bersih kawasan pos pohon tunggal, lalu turun, (awalnya kami ingin membuat semacam papan informasi atau tanda “pos pohon tunggal, msc ugm” di pohon ini, tapi kami tidak membawa perlatan yang di butuhkan) jadi kami langsung turun.

Pos Pohon Tunggal, bersih – bersih sebelum turun

Kami memulai perjalanan turun kami dari pos pohon tunggal pukul 11.30 melalui jalur yang sama ketika naik dan akhirnya sampai kembali dengan selamat di rumah pak kadus pukul 15.30 sore. Perjalanan turun lebih menguras stamina, dan menguji kekuatan kaki, sangat di saranakan untuk mempersiapakan stamina dan kekuatan kaki sebelum mendaki gunung sumbing melalui jalur ini. Setelah beristirahat dan bersih – bersih, jam 4 sore kami berpamitan untuk kembali ke jogja.

Perjalanan turun dari puncak, perbatasan antara hutan pinus dan kebun warga

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

48 thoughts on “Keindahan di balik pendakian Gunung Sumbing – jalur desa butuh, kaliangkrik

  1. woey.. kalau muncak jangan lupa mampir! di desa ngempon pagersari! kecamatan temanggung! jalur lewat sini juga bagus kok??

  2. bisa minta kontak yang bisa di hubungi mas ?
    pin BB atau nomer hape gitu ?
    matur suksma
    7D338F27

  3. ghozaliq says:

    gunungnya asyik nih… makin terjal makin seru😀

  4. zacky says:

    kpn nie pada muncak lg gan? boleh gabung,sya anak salaman,mgl🙂

  5. Muhamad faqih says:

    Waah pemandangannya kreen,sya blm prnh lwt jlur butuh,biasannya lwt grung,klo kesna lg blh ikut gak?slm lestari,dari ARCOPODO(Unite Anak Rimba)

  6. syarif hidayat says:

    tempat pendkian yg 1 lg d kaliangkrik tepatnya d desa mangli kaliangkrik, dsana lbih mudah d cari trus jarak pendkian lbh pendek d bandingkan dri desa butuh. Klo ad yg mau ksana dri jogja, mgl, ato smarang nant bsa breng karna sya jga blum k punck sumbing pdahal suka maen ke lereng sumbing. Cp: 08992986794

  7. o89oo842145 says:

    kalo dibanding kan dengan jalur garung, lebih berat jalur mana ya ma? kebetulan saya mau naik nih tanggal 11 hehehe

  8. alamsyah says:

    Om sbtu minggu ini rencana mau ke sumbing via kaliangkrik…misalkan mw ngecamp di kwah..kira2 perjalanan dri pak mucsinun brapa jam untuk stamina normal? Terimakasih

    • dekill says:

      kurang lebih 8 jam, usahakan berangkat sepagi mungkin dari rumah Pak Muchsinun agar bisa sampai dikawah sebelum gelap, selamat mendaki🙂

  9. wahhh, udah lama gak nguji adrenalin ,, pengen bgt kembali ndaki kyk dulu,,
    tpi skrng tag ada temen yg bsa nemenin lgi,, heheehee
    om dekill kalo kpn2 mw naek sumbing ato slamet kbrin ya,, saya dari semarang, kalo boleh sich pengen gabung,,

  10. nopexoyex pengemar remuankpeyex says:

    ..thanks mas ud mromosi’in dusun q…

    semoga laen kali anda bissa ksni Lgi

    [[@]]

  11. Muriansa says:

    mhn info kontak person bp. Muchsinun berapa … ? Trimss ….

  12. coba rute pestan bang , medan ke puncaknya lebih wow🙂

  13. abi azhar says:

    kalau dari kaliangkrik ke desa Butuh it makan waktu brpa jam ?

  14. wie says:

    wah keren mas.
    oiya, jalurnya ada petunjuk jalan atau papan petunjuk pos gitu ngga ya?
    saya insyAllah akan ke sana akhir maret nanti.
    tapi masih bingung untuk kendaraannya dari stasiun lempuyangan. ada masukan barangkali?🙂

    • abi azhar says:

      stasiun lempuyangan naek transjogja jurusan terminal jombor rp 3rb,,trus naek bis kterminal magelang rp 8rb…dari magelang -kaliangkrik bisa sewa motor 30rb/hr….

    • dekill says:

      terakhir saya ke sana minim papan pentunjuk, jadi mesti bekal informasi dengan lengkap sebelum berangkat, untuk kendaraan bisa coba saran dari abi azhar,🙂

  15. Siget HD says:

    ada pengalaman mistis gak bro?

  16. galang says:

    mantab, bro tgl 15 nov sampe 18 nov naek gunung mana di jateng….

    • dekill says:

      terima kasih sudah mampir salam kenal, maaf baru bisa respond karena banyak sekali kesibukan belakangan ini, mungkin saya baru tahun depan jalan-jalan lagi karena sedang menyelesaikan penelitian akhir

  17. kita dari solo, insya alloh 13 okt ini mau lewat kaliangkrik,, ada saran??

    • dekill says:

      siap pak🙂 kalo berdasarkan pengalaman pendakian bulan juli kemarin :

      cuaca sangat dingin di musim kemarau dan tidak ada air di sepanjang jalur pendakian karena sungai2nya kering, jadi bawa air 1 orang minimal 2 botol besar air mineral + air cadangan secukupnya.

      jalur pendakian menanjak jadi sangat di butuh stamina yang baik

      waktu terbaik untuk memulai pendakian, berangkat dari rumah kepala desa Pak Muchsinun paling telat jam 7 pagi, agar bisa tiba di kawah (savana) sebelum gelap, savana tempat yang nyaman untuk bermalam tanahnya cukup datar.
      jika memang tidak bisa sampai di kawah sebelum gelap, usahakan sampai di pos pohon tunggal sebelum gelap, karena hanya di kedua tempat itu lah ada cukup dataran yang rata untuk mendirikan tenda dan terlindung dari angin.

      jika ingin menikmati sunrise, pukul 4.50 pagi sudah harus keluar dari tenda, tempat terbaik untuk sunrise itu di puncak, atau di pertigaan (kawah, puncak, turun), atau di pos pohon tunggal. pada dasarnya selama ada tempat terbuka menghadap ke timur pasti akan mendapatkan view sunrise yang bagus, karena hanya dari jalur kaliangkrik ini lah sunrise di gunung sumbing bisa di nikmati.

      selepas sunrise dan sarapan, setelat2nya jam 12 sudah mulai kembali turun menuju ke basecamp agar tidak kemalaman.

      kalo ingin menginap 2 malam, persediaan air dan makanan harus di tambah lagi🙂

      jika ingin menggunakan porter bisa langsung di bicarakan dengan Pak Muchsinun mungkin beliau bisa membantu, atau coba bapak baca pada beberapa komentar ke bawah ada penduduk kaliangkrik yang menawarkan jasa nya.

      mungkin itu saja saran berdasarkan pendakian yang lalu, selamat mendaki ya pak, semoga perjalanannya aman. salam🙂

  18. A wink says:

    Luar biasa

  19. penyaringteh says:

    foto2 yang menarik🙂 salam ..

  20. Fino says:

    saya penduduk asli Kaliangkrik
    Jika minat untuk mendaki , dapat menghubungi saya

  21. Shinta Meiriska says:

    klo mau gabung bisa ga kk???bagaimana caranya???makasih

  22. Shinta Meiriska says:

    klo mau gabung bisa ga bro???bagaimana caranya…makasih

  23. sandalian says:

    Gunung Sumbing memang bukan favorit kebanyakan pendaki, terlalu terjal. Dulu pernah naik lewat Wonosobo, lalu tidak ada yang mau mengulang lewat sana karena kering dan persawahan sudah lebih dari setengah badan gunung.

    Kapan-kapan ingin mencoba jalur ini, sepertinya cukup menarik.

    • dekill says:

      halo bro, iya, patut di coba sangat menarik, jangan lupa persediaan air yang cukup terutama di musim kemarau, kalo lokasi di jogja semoga suatu saat bisa jalan bareng🙂

    • jeung says:

      klo untuk pemula, lwt jalur wonosobo d sarankan tidak?
      Trims…

  24. pempala says:

    pempala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: