bermain air di sri gethuk, jelajah malam goa rancang, makan malam di bukit bintang

Selain penuh dengan wisata alam seperti gunung, pantai, goa dan perbukitan jogja juga memiliki wisata alam berupa air terjun, air terjun pertama di kawasan jogja yang saya dan sahabat-sahabat saya datangi adalah air terjun Sri Gethuk, sekaligus menjadi tempat pertama dalam rencana jalan-jalan setelah ujian akhir semester ini sebelum libur panjang puasa dan lebaran tiba. Daftar rencana jalan-jalan dalam minggu ini antara lain : jumat air terjun sri gethuk, sabtu pantai depok, dan senin gunung sumbing. Tapi disini saya tidak akan bercerita tentang pantai depok dan gunung sumbing.

Rencana kami sederhana seperti biasa menjelajah kawasan air terjun dan bersenang-senang. Perjalanan di mulai setelah sholat jumat berangkat dari jogja pukul 2.30 menggunakan motor, rencananya yang ikut 10 orang termasuk saya, tapi 3 orang sahabat yang lain sudah lebih dulu berangkat dan akan langsung bertemu di air terjun, dan 2 orang sahabat yang lain tertinggal karena masih tidur. Jadi total 5 orang yang berangkat termasuk saya.

Perahu yang membawa pengunjung ke air terjun

Lokasi air terjun ada di desa bleberan, kecamatan playen, gunung kidul. Dari jogja kami melalui jalan yang menuju ke arah wonosari melewati bukit bintang terus sampai bertemu dengan lapangan udara gading (lapangan luas di sebelah kiri) disitu terdapat pertigaan besar (pertigaan gading, jika lurus ke wonosari kanan ke playen) kami berbelok ke kanan ke arah playen, dari situ kami mengikuti petunjuk arah yang ada dan jika ragu tinggal bertanya ke penduduk sekitar. Akhirnya kami sampai juga di pos jaga semacam pintu masuk ke lokasi air terjun, di pos jaga ini kami di minta untuk membayar biaya masuk 3500/motor. Tidak jauh dari setelah melewati pos jaga terdapat sebuah goa, kami memutuskan untuk melewatt goa tersebut dan langsung menuju parkiran air terjun, rencananya setelah dari air terjun baru singgah ke goa tersebut dalam perjalanan pulang, dari goa air terjum kurang lebih 5-10 menit. Lokasi air terjun bisa di tempuh menggunakan motor atau mobil tempat parkir pun tersedia dengan luas, namun sepertinya belum ada angkutan umum yang menuju ke air terjun.

di atas perahu ke air terjun, beberapa orang terlihat berenang untuk kembali ke loket

Akhirnya setelah 1.5 jam perjalanan sampailah kami di parkiran lokasi wisata air terjun Sri Gethuk, untuk biaya parkir 1000 rupiah/motor. Dari parkiran kami masih harus jalan menelusuri tangga ke bawah, dan rupanya untuk menuju ke air terjun dapat melalui dua jalur, yang pertama jalur darat dan yang kedua jalur air, untuk jalur darat setelah habis anak tangga, tinggal mengikuti jalur ke kanan, jalur berupa perbukitan di sepanjang aliran sungai sampai ke air terjun, kami tidak melalui jalur ini karena sepertinya cukup biasa. Kami memilih melewati jalur air menggunakan semacam perahu motor yang di buat khusus, biaya per orang 7500 (pulang pergi). Wisata air terjun ini telah di kelola dengan baik oleh warga setempat, terlihat bahwa tempat wisata ini minim sekali sampah, dan setiap petugas di lokasi wisata ini seperti sudah tau apa tugas nya masing – masing terkesan profesional.

sisi kiri air terjun

Setelah naik ke perahu kami menikmati perjalanan menuju air terjun, di dalam perahu pengunjung tidak duduk tapi berdiri, mengasyikkan jarang saya menemui tempat wisata seperti ini, rasanya seperti sedang dibawa menyusuri sungai amazon, tapi perjalanan menggunakan perahu sangat singkat, kurang lebih cuma 5-10 menit kami sudah sampai di air terjun. Jika mau kami pun juga di perbolehkan untuk berenang dari tempat perahu menuju air terjun.

Air terjun Sri Gethuk

Sesampai di air terjun, suasana disana cukup ramai dengan pengunjung, di luar dugaan saya, ternyata air terjun ini cukup menyuguhkan pemandangan yang bagus, terdapat 3 aliran air terjun dan air terjunnya pun tidak besar tapi suasananya dan pemandangannya yang sangat menarik, air terjun ini selain terbuat secara alami sepertinya juga ditata sedemikian rupa sehingga menjadi lebih menarik. Di bawah air terjun terdapar semacam sungai yang cukup dalam (3-5 meter) disini pengunjung bisa menikmati berenang dan bermain air, untuk yang tidak bisa berenang pun disedikan penyewaan jaket pelampung 5000/buah. Di sisi seberang air terjun terdapat suatu dataran yang cukup tinggi hanya bisa di capai dengan berenang, dan dataran yang tinggi tersebut tempat yang asik untuk  sedikit memacu adrenalin dengan melompat ke dalam air, jika bisa menyeberang dengan membawa kamera dataran ini posisi yang pas untuk mengambil gambar air terjun.

Sungai dalam tempat berenang, dataran di seberang air terjun yang biasa di gunakan pengunjung untuk melompat ke sungai

Awalnya saya hanya ingin menikmati suasana sambil foto-foto tidak ingin berenang dan bermain air serperti yang lain, tapi air terjun ini terlalu menggoda dan akhirnya saya ikut berbasah – basahan juga. Air terjun hanya di buka sampai jam 5 sore dan apabila sudah mau di tutup pengelola atau petugas air terjun memberitahukan ke semua pengunjung segera bersiap – siap untuk meninggalkan air terjun, biasanya jam 6 air terjun ini sudah kosong dari pengunjung. Sore hari (pukul 3-5) waktu yang paling tepat untuk menikmati air terjun ini.

Sisi kanan air terjun, seorang ibu sedang menunggu keluarganya bermain air

Rombongan kami adalah yang terakhir naik perahu  meninggalkan air terjun,  saya berencana menggambil gambar air terjun pada malam hari tapi tidak ada penerangan apapun di air terjun, jadi foto malam air terjun di urungkan. Setiba kami kembali ke loket kami segera berganti pakaian dan melanjutkan perjalanan malam kami ke goa rancang, goa yang tadi kami lewati dalam perjalanan menuju ke air terjun.

Foto bersama di atas perahu

Dari parkiran air terjun kami mengambil jalan yang sama seperti kami berangkat, sekitar 5-10 menit sampailah kami di parkiran goa rancang. Sebelumnya, ketika kami tiba di parkiran air terjun saya sempat bertanya detil tentang goa ini kepada petugas parkir, dan berdasarkan informasi tersebut saya berani memutuskan untuk mengunjungi goa ini pada malam hari.

Ukiran pada dinding goa

Suasana parkiran goa sangat gelap tidak ada satu pun lampu penerangan dan tidak ada satu pun penjaga, jadi penggunaan senter adalah wajib, setelah memastikan kendaraan kami aman, kami mulai berjaln kaki menyusuri anak tangga dari parkiran menuju ke goa, lokasi mulut goa hanya beberapa puluh meter dari parkiran, mulut goa ada di sebelah kanan dan terdapat pohon raksasa, mungkin umur pohon tersebut sudah ratusan tahun.

Jalan masuk menuju ruang goa yang kecil

Untuk masuk ke goa terdapat anak tangga menuju ke bawah, setelah melalui anak tangga kami tiba di satu bagian ruangan goa yang cukup luas (kurang lebih seluas 2 kali lapangan bulu tangkis) dan setelah kami menelusuri lebih dalam lagi ternyat terdapat satu ruangan lagi. Ruangan yang kecil, pengap dan buntu (mungkin hanya cukup diisi 8 orang maksimal).

Goa utama

Ketika saya tanpa sengaja mengarahkan senter ke salah satu bagian diding di dalam ruangan yang sempit ini, saya melihat sesuatu yang menarik, sebuah tulisan yang diukir di dinding goa, tulisan yang melambangkan semangat dan perjuangan bangsa indonesia melawan penjajah, terdapat juga ukiran gambar burung garuda dan bendera merah putih. Sepertinya dahulu kala goa ini di gunakan sebagai tempat berkumpul atau tempat persembunyian para pejuang dalam melawan penjajah.

Kota Jogja pada malam hari dari bukit bintang

Setelah puas kami menjelajah goa, kami pun kembali ke parkiran untuk mengambil motor dan segera bersiap untuk pulang, jalan pulang melalui jalan yang sama seperti kami berangkat. Tapi malam itu jalan antar kota wonosari jogja cukup ramai, bahkan sesekali terjadi antrian kendaraan yang cukup panjang. Bagi saya mengendarai motor dengan kondisi jalanan yang ramai itu cukup melelahkan dan menjemukan. akhirnya dengan perlahan sampailah kami di bukit bintang dan kami memutuskan untuk beristirahat makan malam, sambil berbincang menikmati suasana malam dengan pemandangan lampu – lampu kota jogja dan langitnya yang bertabur bintang.

Tagged , , , , , , , ,

2 thoughts on “bermain air di sri gethuk, jelajah malam goa rancang, makan malam di bukit bintang

  1. mantab ceritanya..rasanya seperti sedang dibawa menyusuri sungai amazon,wahaha.. kayak pernah ke sungai amazon aja..

    • dekill says:

      thanks my bro, belom pernah, cuma liat video dan gambar saja, tapi justru itu lah yang jadi inspirasi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: