Monthly Archives: June 2012

oase di lintas timur palembang lampung

Masjid H Bajumi Wahab

Rutinitas saya yang baru adalah menggantikan ayah saya untuk mengurus sebuah impian dan cita-cita nya yang paling berharga, rutinitas baru ini bagi saya sendiri adalah sebuah petualangan hidup yang sebenar – benar nya dan nyata, rutinitas baru ini juga lah yang membuat saya menjadi sering berkendara melalui jalan lintas timur palembang – lampung, dari kota palembang menuju ke daerah danau teluk gelam yang memakan waktu kurang lebih 3 jam (dari kota kayu agung lewat sedikit), bisanya seminggu sekali atau seminggu 2 kali. Continue reading

Tagged , , , , , , , , ,

kata tanpa berbicara

Sejujurnya

aku iri pada tukang sayur, tukang pengambil sampah yang hampir setiap hari bercanda gurau penuh tawa dengan bapak.

iri pada para penjaga malam yang berbincang ramah dengan bapak di temani kopi dan gorengan di pos depan, di sela sela kesibukan bapak.

iri pada tukang kebun yang biasa bercakap capak dengan bapak, sembari mereka membersihkan kebun dan bapak merawat setiap tanamannya.

iri pada penjual koran yang hampir setiap pagi bertegur sapa dengan bapak.

iri pada bapak pengambil cacing di parit parit yang hampir setiap sore berbagi cerita akrab dengan bapak dan menjadi sahabat bapak

iri pada teman dan sahabat lama yang sering bersilaturahmi ke rumah bapak atau sekedar berbincang melalui telpon atau meminta saran kepada bapak

iri pada rekan kerja bapak, yang hampir setiap hari bekerja sama dengan bapak, baik di dalam pekerjaan maupun pertemanan

iri pada penjaga kebun, penjaga rumah bapak, pegawai bapak, yang biasa di tugasi, di bimbing, di ayomi oleh bapak

iri pada teman-teman yang pada pernikahan kalian bapak menjadi saksinya.

iri pada orang orang yang setiap hari berinteraksi dengan bapak

iri kepada adik adik ku.

iri pada kalian semua yang menganggap bapak sebagai orang tua kalian, dan bapak menyayangi kalian seperti anaknya.

Dari mulut saudara, adik, kakak, om, tante, anda dan kalian semua aku mendengar kisah manis kenangan tentang bapak, cerita yang masih aku ingin dengar dari mulut saudara, adik, kakak, om, tante, anda dan kalian semua, semua cerita kebaikan yang menenangkan hati, di penghujung umurnya yang mengejutkan setiap saudara, adik, kakak, om, tante, anda dan kalian semua, bapak pun masih sibuk memikirkan orang lain, betapa kalian merasa sangat kehilangan figur dan sosok bapak, tangisan kalian lebih haru dari pada tangis ku anaknya, tetes air mata kalian lebih mengalir dari pada air mata ku anaknya.

Aku tidak ingat kapan terakhir aku menghabiskan waktu dengan bapak, kapan aku berbincang dengan bapak, kapan aku bercerita dengan bapak, kapan aku meminta saran bapak, kapan aku bercanda dengan bapak, kapan aku berpetualangan dengan bapak, kapan aku memeluk bapak… aku sibuk dengan kesibukanku, mengarungi waktu yang aku sebut petualangan, belajar demi seuatu yang di sebut gelar, mencari pengalaman dan jati diri yang aku sebut pengalaman, berkumpul dengan sahabat yang aku sebut keluarga, menegakkan keangkuhan yang aku anggap kejantanan, hingga akhirnya aku pulang untuk tinggal menyolati dan menguburkan Bapak. (9 Juni 2012) rasanya baju penuh tanah merah ini tak ingin aku lepas.

Semua terasa singkat dan tanpa sadar telah banyak waktu yang aku lewatkan, aku anak laki laki nakal bapak, yang selalu menyusahkan, yang sering kali mencoret moret nama bapak, tapi bapak selalu mengerti, bapak selalu sabar, bapak selalu percaya, bapak selalu dan selalu paham dengan anak laki laki nya. Andai semua kata bisa aku unggkap dengan berbicara langsung kepada bapak. anda semua cerita bisa aku bagi dengan bangga kepada Bapak.

Maafkan anak laki laki Mu ini belom bisa membuat Mu bangga, Pak. Tapi anak laki laki Mu ini akan selalu bangga menjadi anak Bapak, anak laki laki Mu akan selalu tangguh seperti nama yang Bapak berikan kepada ku dengan bangga, dan anak Mu ini akan selalu seperti Mu, untuk melanjutkan jejak Mu, untuk meneruskan cita-cita Mu, untuk mengingat setiap kata dari Mu, untuk melindungi dan menjaga keluarga. Bapak beristirahatlah dengan tenang… sekarang biar aku anak laki laki pertama Mu. Terima kasih Bapak

Senter (Flashlight) – Selalu Update

Senter sebuah alat penerangan yang bagi saya keberadaan cukup penting, selalu ada di kantong celana atau tas kemanapun saya bepergian dan siap di gunakan di kala genting. Tak terhitung sudah jasa sebuah senter dalam perjalanan hidup saya, sedikit cerita singkat tentang senter apa saja yang pernah dan yang masih saya miliki berdasarkan perjalanan waktu :

*catatan : yang di coret sudah tidak dipakai lagi

1. Senter Bulp berbagai macam jenis

Dari kecil saya sudah di ajarkan untuk menggunakan senter, dari jaman jadul sd, smp dan sma, senter yang saya gunakan berupa senter bulp (bohlam), merknya bermacam-macam ada yang menggunakan batre 2xAA, ada yang menggunakan batre 2 x C (senter nya warna silver merk tiger kalo gak salah), ada juga yang segede batu bata menggunakan batre 4 x D merek nya saya lupa. Pada masa itu ukuran senter cukup besar dan berat jadi saya tidak mengantongi senter ke mana-mana seperti sekarang, senter saya gunakan hanya ketika dibutuhkan, ketika mati lampu, kegiatan outdoor, mancing di malam hari, mencari sesuatu di kegelapan, dsb. Pada masa itu juga sinar yang dihasilkan tidak begitu terang, se terang – terangnya senter saya paling hanya berjarak 20 meter maksimal, dengan runtime (waktu hidup) yang cukup pendek, konsumsi batrai pun boros, apalagi senter yang menggunakan batre D (batre segede batu), senter juga tidak memiliki fitur anti air jadi jika terendam air senter mati tapi jika di keringkan bisa hidup lagi, dan bulp (bohlam) senter juga gampang putus jika terlalu panas. Harga senter yang saya miliki pada waktu itu bisa dibilang sangat murah. Sekarang saya tidak ingat lagi kemana perginya senter-senter itu.

2. Maglite Solitaire (1 x AAA)

maglite solitaire di bungkus dengan tali kermantel/tali gunung agar tidak licin dan bisa di gigit (kiri), victorinox farmer warna merah (kanan)

Continue reading

Tagged , , , , , , , , , , , , , ,