Puncak Tertinggi Bali – Gunung Agung

Siapa yang tidak mengenal Bali, pulau eksotis yang menjadi tujuan berlibur bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia, berkunjung ke Bali menjadi impian hampir semua orang yang ingin menikmati liburan termasuk juga saya. Setelah sekian lama memendam keinginan berpetulangan di pulau ini, akhirnya tercapai juga. Dari sekian banyak tempat yang saya rencanakan, ada satu tempat yang sangat mendorong hasrat saya untuk bisa mejejakkan kaki-kaki kecil saya di puncaknya yaitu Gunung Agung.

Gunung agung di pagi hari dari pantai sanur

Gunung Agung dengan ketinggian 3.142 mdpl sekaligus menjadi gunung tertinggi di Bali, yang masih disakralkan dan disucikan bagi masyarakatnya.

Sama halnya dengan gunung di manapun, setiap gunung memiliki kharismanya masing-masing tidak terkecuali gunung agung, hal inilah yang membuat saya begitu mengidam- idamkan untuk bisa mendaki gunung agung.

Beruntung bagi saya memiliki beberapa sahabat yang tinggal di Bali, dan salah satunya memiliki hobi yang sama. Jauh sebelum saya datang ke Bali, sahabat saya yang satu ini sudah berjanji untuk menemani saya apabila saya berkunjung ke Bali untuk mendaki agung.

Bersama sahabat saya inilah saya menghabiskan jalan-jalan di Bali. Ia juga mengajarkan banyak kepada saya tentang budaya dan tradisi Bali, sehingga saya tidak mengalami kesulitan untuk membaur dengan masyarakat dan budaya Bali.

Pura Besakih gerbang masuk gunung agung

Ada 2 jalur pendakian yang bisa di pilih melalui untuk mendaki Gunung Agung melalui Pura Pasar Agung atau melalui Pura Besakih. Biasanya wisatawan yang tidak tahu jalur dan belum pernah mendaki ke gunung harus menggunakan jasa guide dengan tarif yang sudah di tentukan. Setelah mempertimbangkan dengan matang jalur pendakian yang kami pilih adalah melalui Pura Besakih tepatnya di kecamatan selat, karang asem, bisa di tempuh dengan menggunakan roda dua atau rode empat.

Melaui jalur pendakian inilah puncak tertinggi gunung agung bisa dicapai, Pura Besakih merupakan pura sentral dan merupakan suatu kompleks pura terbesar di Bali, letaknya tepat berada di kaki gunung agung. Di pura inilah masyarakat hindu Bali ber-sembahyang ketika ada hari raya atau upacara besar keagamaan, dan biasanya Gunung Agung ditutup untuk pendaki apabila ada upacara keagamaan.

Untungnya hari itu tidak ada upacara keagamaan, rencana kami mendaki hari itu bisa terlaksana, sebelum mendaki sahabat saya menyempatkan untuk berdoa dan memohon izin di Pura Pengubengan, pura yang merupakan pintu masuk ke jalur pendakian, namun tidak seperti biasanya ketika kami biasa mendaki gunung lain bersama, kali ini terlihat kegelisahan dimata sahabat saya, tanpa perlu menceritakan saya cukup sadar penyebab kegelisahan itu adalah faktor cuaca yang tidak menentu, hujan disertai badai hampir setiap hari, belum lagi kabut yang selalu menutupi puncak agung.

Sebelumnya juga beberapa orang telah memberikan saran yang sama kepada saya untuk menunda pendakian terutama dalam bulan-bulan seperti sekarang ini karena kondisi cuaca yang cukup parah, tapi tekad saya sudah bulat, untuk tetap melanjutkan pendakian. Karena inilah waktu yang saya punya dan saya tidak tau kapan lagi saya bisa berkunjung kembali ke pulau Bali ini.

Pura Pengubengean

Akhirnya pukul 1 siang kami memulai pendakian, jauh terlambat dari rencana awal jam 8 pagi, curah hujan yang tinggi membuat pepohonan di hutan gunung agung amat rindang dan basah, kabut juga membuat suasana hutan menjadi gelap membuat jarak pandang kami pun menjadi pendek. Hujan deras terus mengiringi langkah kami, melalui track menanjak, terjal licin berlumpur, sesekali kami berhenti untuk minum dan mengatur nafas. Kami tidak lagi menggubris binatang penghisap darah yang dengan nyaman menempel di hampir seluruh bagian tubuh kami.

Jalur pendakian gunung agung

Lima jam perjalanan tapi tebing boyke yang kami tunggu belum juga terlihat, hanya kabut dan pepohonan. Akhirnya sebelum hari bertambah gelap kami memutuskan untuk mendirikan tenda, beruntung kami menemukan sedikit tempat datar, dan saya pun tidak lagi mementingkan sunset dan sunrice yang pada awalnya menjadi target utama saya, yang ada di benak saya hanya satu yaitu sampai di puncak dan kembali turun dengan selamat.

Tebing Boyke

Malam harinya di dalam tenda sedikit pun saya tidak merasa ngantuk. Saya hanya duduk melawan dingin memperhatikan sahabat saya yang mulai terlelap, bersama kopi hangat menikmati perasaan melankolis yang muncul terbang mengikuti kemana pikiran saya mengalir, seketika lamunan pun buyar karena gempa yang cukup keras menggoncangkan tenda, tapi itu tidak lama hingga akhirnya saya bisa terpejam waspada, sesekali saya masih terbangun karena gempa.

Beristirahat di tebing Boyke

Pukul 6 pagi saya terbangun tidak lagi menghiraukan sunrise yang memanggil di luar tenda, udara dingin yang menggoda saya untuk tetap terlelap berlindung di balik sleeping bag saya acuhkan, saya memilih untuk tega membangunkan sahabat saya yang masih terlelap. Sungguh sahabat yang sangat memberi arti pendakian saya kali ini. Setelah sarapan pukul 7 pagi kami melanjutkan pendakian, tapi kali ini tanpa membawa carier dan tenda pun kami tinggal, hanya berbekal survival kit, kamera, tripod dan logistik yang cukup untuk sampai puncak dan kembali lagi ke tenda. Cuaca pagi itu cerah untuk sesaat sebelum kabut kembali datang, tapi untung hujan tidak turun.

Pura Kori Agung

Akhirnya pukul 8 pagi sampailah kami di tebing boyke, tebing perbatasan vegetasi gunung agung. Di tebing ini terdapat satu pura terakhir yaitu Pura Kori Agung. Sahabat saya menyempatkan untuk berdoa di sini. Dari tebing boyke ini kami mendapatkan satu teman lagi yaitu seekor kera yang selalu membuntuti kami. Setelah melewati tebing boyke tidak ada lagi tanaman hijau hanya bebatuan kecil dan bebatuan besar, di musim hujan bebatuan ini sangat licin dan berlumut.

Sesekali kabut mulai terbuka, akhirnya kami merasakan juga hangatnya sinar matahari, jelas terlihat jalur menuju puncak agung dengan lebar hanya setengah meter dan jurang di tiap sisinya dengan kemiringan 30 – 55 derajat. Medan yang terbuka membuat angin bertiup sangat kencang, butuh konsentrasi yang sangat tinggi untuk melalui jalur ini.

Jalur pendakian menuju puncak agung

Ada 2 puncak yang mesti dilewati sebelum mencapai puncak agung, biasa disebut puncak 1 dan puncak 2. Sesampai kami di puncak 1 dari sini puncak agung sudah bisa terlihat di kejauhan, kami beristirahat sejenak sambil membuka bekal logistik yang kami bawa, tentu sahabat kami si kera pun ikut menikmati. Di sinilah kabut mulai kembali turun dan menutupi jalan, awan mendung kembali sudah terlihat, saya dan sahabat saya pun memutuskan jika kabut semakin tebal, kami tidak akan berlama-lama menunggu kabut hilang tapi kami harus segera turun.

Beristirahat di jalur pendakian yang berkabut

Hingga akhirnya kami sampai di puncak 2 kabut lebat terus menutupi pandangan kami, waktu sudah pukul 11 siang setelah menimbang-nimbang rasanya sulit untuk kami melanjutkan pendakian, cuaca dan waktu tidak memungkinkan untuk itu, akhirnya kami pun memutuskan untuk turun, ini pertama kalinya saya tidak mencapai puncak dalam suatu pendakian, tidak ada sedikit pun rasa kecewa, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan puncak agung kembali mengajarkan bahwa manusia harus mengikuti alam, puncak gunung agung bukanlah segala-galanya, tetap hidup adalah yang utama

penunggu tetap gunung Agung

Perjalanan turun kami lalui dengan sangat cepat, berlomba dengan awan mendung dan hujan, setelah berpisah dengan sahabat kami si kera di tebing boyke, tidak lama kami sudah sampai kembali di tenda lebih dulu dari hujan, segera kami makan siang dan melanjutkan dengan packing. Pukul 1 siang kami mulai perjalanan turun, hujan deras menyiram kami tapi tidak menghambat langkah kami untuk terus bergerak turun. Sekali lagi kembali para penghisap darah berpesta pora menghisap darah-darah kami, dan akhirnya diluar dugaan pukul 2.30 sore kami sudah kembali di halaman pura pengubengan.

Pacet

Sambil beristirahat di halaman pura dan merenungi perjalanan yang telah saya lalui, sungguh perjalanan yang luar biasa bersama sahabat yang luar biasa. mungkin suatu saat nanti saya akan datang lagi.

90 persen jalur pendakian melalui Pura Besakih adalah menanjak dan hanya sedikit sekali sisi datar. Tidak di sarankan untuk mendaki gunung agung di saat musim penghujan karena Hujan dan kabut bisa menyulitkan, jalur juga sangat dingin, basah, licin, berlumpur. Perlu ekstra hati-hati di jalur menuju puncak karena cukup berbahaya sempit, menanjak dengan jurang di kanan dan di kiri terpaan angin juga sangat kencang.

Saya dan puncak agung

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

2 thoughts on “Puncak Tertinggi Bali – Gunung Agung

  1. Saindra Santyadiputra says:

    Saya suka ini.
    When adventurer meets blogger, ya gini deh jadinya :2thumbsup:
    *eh salah dink, ini wordpress yah :hammer:

    ~ane boleh like yang ini kan?😀

  2. […] beberapa hari yang lalu menikmati petualangan di gunung Agung, malam ini saya dan beberapa sahabat berdiri di salah satu terminal kedatangan Bandar Udara […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: