rasa pagi di tabanan

Seperti pagi kemarin dan kemarinnya lagi, pagi ini saya masih menjadi orang terakhir yang bangun di rumah Pt tempat saya menginap di tabanan, beranjak dari tempat tidur menuju ke teras rumah yang khas dengan ukiran-ukiran bergaya bali, teras rumah Pt adalah tempat paling pas untuk menikmati pagi. Sepiring nasi kuning dan segelas kopi pun sudah tersedia di atas meja, Ibu Pt tau benar bagaimana memperlakukan tamu yang merepotkan seperti saya. Sembari melahap nasi kuning terbayang perjalanan kemarin ke Bedugul dan Tanah Lot yang masih seperti mimpi. Lengkap sudah sarapan nikmat di akhiri dengan sebatang rokok, pagi yang sempurna untuk mengawali hari. Jadi teringat kata-kata Bapak “warna di pagi hari menentukan warna sepanjang hari”.

Rasanya setiap hari saya ingin pagi yang seperti ini, jadi terpikir untuk membeli rumah di tabanan suatu saat nanti dimana saya dan keluarga bisa berlibur di akhir pekan, ya tentu saja itu pun jika saya sudah berkeluarga suatu saat nanti.

“Sudah bangun dek…” tiba-tiba suara ramah Ibu Pt mengejutkan dan sekaligus membuyarkan lamunan saya “Itu ada nasi kuning sarapan dulu…” , “iya Bu… sudah Bu, ini sudah saya habiskan ” Saya menjawab. Ibu Pt tersenyum dan seolah-olah tau kebingungan saya “Itu Putu sama temennya yang satu lagi ada di belakang, lagi liat Paman nya Putu buat lawar dan sate lilit untuk upacara besok… susul aja kebelakang sana dek…”, “Iya Ibu” jawab saya.

Tude (keponakan Pt), Ummu, Tunik (Pt) sedang asik menggerecoki Paman nya Pt yang sedang membuat lawar dan sate lilit

Bergegas saya bangun mengambil kamera dan menuju ke belakang, rupanya di belakang sudah ramai, semua terlihat sedang asik mengerjakan sesuatu entah mengerjakan apa, diiringi dengan obrolan dan canda. Melihat saya muncul semua tersenyum ramah dan dengan ekspresi gembira. “Heyyyy dekill” sapa ummu ketika saya muncul, kemudian dilanjutkan dengan Pt “Heyyyyy di, udah lama bangun…, sarapan dulu tu ada nasi kuning di atas meja…” , “sudah T… lagi pada ngapain sih” jawab dan tanya saya, “lagi buat lawar, sini di… sini… duduk sini, ini paman ku” sambil memperkenalkan Pamannya yang sedang membuat lawar dan sate lilit.

Paman Pt sedang membuat racikan sate lilit

Lawar adalah masakan yang berupa campuran sayur-sayuran dan daging cincang yang dibumbui, sedangkan sate lilit adalah daging yang di haluskan dan di campurkan dengan suatu racikan bumbu-bumbu kemudian di lilitkan pada potongan bambu atau lidi. Lawar dan sate lilit adalah makanan khas bali yang biasanya lazim di sajikan ketika upacara keagamaan di Bali.

Sembari melanjutkan perbincangan dengan Paman Pt yang sedang membuat Lawah dan Sate lilit, kami juga membahas rencana jalan-jalan kami hari ini ke Pantai Sanur, bersambung…

Tagged , , , ,

2 thoughts on “rasa pagi di tabanan

  1. arsa says:

    wahhh ada part selanjutnya ini di?? hahahahha mantaf.. lanjut part 2

  2. […] Tangguh : https://sarangpenyamun.wordpress.com/2012/09/17/rasa-pagi-di-tabanan/ Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Published: September 17, 2012 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: