dari penanjakan Gunung Bromo, ke segara anakan Pulau Sempu

Bagi saya, masa selesai UAS adalah saat – saat yang paling menyenangkan karena libur kembali tiba. Itu berarti saatnya kembali berpetualang dan bersenang-senang.

Awalnya saya dan teman-teman hanya berencana untuk berangkat ke Bromo, tapi beberapa hari menjelang keberangkatan, cerita tentang pantai pulau Sempu sampai di telinga saya. Setelah mencari informasi dan bertanya-tanya dari beberapa sumber, sepertinya Sempu adalah pulau yang sangat menarik dan cukup worth it untuk disambangi. Sayang rasanya untuk melewatkan sensasi pulau Sempu jika sudah sampai di kota Malang. Akhirnya, kami memutuskan bahwa pulau Sempu juga dimasukkan ke dalam daftar tujuan setelah gunung Bromo.

7 orang termasuk saya memulai perjalanan dari stasiun Lempuyangan Jogja menggunakan kereta api ekonomi tujuan Probolinggo. Kereta tiba di stasiun lempuyangan tepat jam 7 pagi dan kami masih sibuk memarkirkan motor kami di tempat parkir inap stasiun. Dengan bergegas kami berlari membawa keril menerobos pintu masuk stasiun dan langsung menuju pintu masuk kereta yang sudah mulai bergerak pelan. Syukurlah kami masih sempat. Pelajaran berharga pagi itu : jika menggunakan kereta datanglah setengah jam sebelum waktu keberangkatan karena kereta tidak akan pernah menunggu.

Suasana di dalam kereta ekonomi menuju probolinggo

Pagi hari di dalam gerbong kereta ekonomi, suasana masih cukup lenggang dan sepi. Kursi-kursi masih banyak yang kosong belum terisi. Kami menghabisi waktu dengan obrolan canda tawa di kereta sembari menyantap sarapan pagi kami. Tak lama, beberapa dari kami mulai tertidur pulas. Ada juga yang membaca buku, ada juga yang sibuk mengotak-atik hpnya. Sedangkan saya sibuk dengan lamunan saya sendiri sambil memandang keluar jendela kereta. Sesekali saya berpindah ke pintu kereta untuk menikmati rokok saya dengan nyaman. Seiring berjalannya kereta, gerbong mulai penuh terisi. Tapi yang berbeda adalah kereta ekonomi sekarang tidak diperbolehkan mengangkut penumpang tanpa tiket sehingga tidak ada penumpang yang berdiri atau tidur di sepanjang gerbong, namun pengamen dan penjual makanan tetap berseliweran. Bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup karena walaupun banyak penjual makanan dan minuman, kita tidak tau kebersihan makanan dan minuman tersebut. Jangan lupa uang receh untuk diberikan kepada pengamen yang silih berganti mengalunkan lagu di setiap gerbong. Menggunakan kereta ekonomi sungguh merupakan suatu cerita tersendiri.

Suasana Stasiun Probolinggo di sore hari

Akhirnya kami tiba di Stasiun Probolinggo pukul 4 sore. Dari stasiun, kami melanjutkan perjalanan dengan menyarter mobil tipe mini bus menuju Cemoro Lawang. Kurang lebih 3 jam melewati perjalanan yang berkelok dan menanjak, kami tiba juga di cemoro lawang dan langsung minta diantaran ke rumah penginapan yang murah. Cukup banyak rumah yang disewakan dengan fasilitas dan harga yang bervariasi, jadi pintar-pintar kita saja untuk memilih dan bernegosiasi. Setalah melihat kondisi rumah dan harganya yang cocok, kami memutuskan untuk bermalam di rumah tersebut. Lagipula si bapak penjaga rumah adalah orang yang cukup ramah. Rumah tempat kami bermalam tidak jauh dari pertigaan yang jika ke kanan menuju ke penanjakan dan kiri menuju lautan pasir.

Suasana warung makan di dekan penginapan 

Malam hari kami habiskan di salah satu warung di dekat pertigaan tersebut sambil makan-malam dan berbicang dengan pendaki lain. Banyak juga pendaki dari mancanegara yang singgah di warung tersebut. Bromo tampaknya selalu ramai dikunjungi turis mancanegara. Bagi yang malas untuk berjalan ke penanjakan dan lautan pasir, sudah tersedia jasa penyewaan jeep yang harganya bisa dibilang cukup mahal, yaitu 400 ribu 1 mobil yang bisa terisi maksimal 6 orang. Saya sempat berbincang dengan salah satu sopir jeep di warung itu yang sambil menawarkan jasanya, tapi buat kami berjalan lebih nikmat dan lebih terasa gunungnya.

Penanjakan gunung bromo hujan, angin, kabut dan dingin

Jam 10 malam kami kembali ke rumah yang kami sewa untuk beristirahat menyiapkan tenaga untuk besok pagi. Suhu udara malam di sana sangat dingin. Walaupun tidur di dalam kamar dan kamarnya ada di dalam rumah, saya masih menggunakan sleeping bag saya. Jam 4 pagi, kami mulai pendakian menuju ke Penanjakan 1 (pertigaan ke kanan). Baru 15 menit berjalan, hujan angin mulai datang disertai kabut tebal, namun kami tetap melanjutkan perjalanan dengan flysheet di atas kami. Kami bertujuh berjalan beriringan, berteduh di bawah flysheet dengan senter sebagai penerang jalan kami. Hujan dan kabut dingin malah menambah kenikmatan dan keseruan petualangan kami.

Foto bersama setelah badai reda

Sampai di Penanjakan 1 pukul 5.30 pagi, cuaca masih belum berubah. Hujan malah semakin deras dan kabut semakin tebal. Gagal menikmati pemandangan mentari terbit gunung Bromo yang tersohor, kami hanya bisa pasrah dan menikmati suasana yang ada saja. Suasana berjubel menghiasi Penanjakan 1 yang sebagian besar adalah turis mancanegara. Mungkin hanya kami bertujuh saja yang merupakan orang asli Indonesia. Karena kondisi tidak berubah, akhirnya kami singgah di warung terdekat tepat di bawah Penanjakan 1 hingga cuaca mulai cerah pada pukul 8 pagi.

Beberapa pendaki menuruni jalur penanjakan dengan latar gunung batok dan kawah bromo

Foto sejuta umat khas gunung bromo

Matahari sesekali memunculkan sinarnya, lalu kembali hilang tertutup kabut. Kami melanjutkan perjalanan ke Pure Luhur Poten dan Kawah Bromo. Dari Penanjakan, kami memotong jalan melalui padang savana menuju ke Pure (tidak kembali ke pertigaan dekat dengan rumah tempat kami bermalam), di savana inilah kami beristirahat sejenak sambil menikmati santapan pagi yang sudah kami siapkan.

padang savana, jalan menuju pura dan kawah

pendaki sedang menikmati sarapan pagi di padang savana

Menuju kawah bromo

Lautan pasir menuju pura dan kawah bromo

Pura Luhur Poten, Gunung Bromo

Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Pura Luhur Poten, tapi sayangnya Pura sedang ditutup sehingga kami langsung lanjut menuju kawah. Buat anda yang malas untuk berjalan di depan Pura ini ada banyak para penunggang kuda yang menyewakan jasa kudanya sampai ke tangga kawah dengan harga 50ribu. Jalan menuju kawah berupa perbukitan pasir, kadang angin kencang membawa pasir-pasir beterbangan menyulitkan para pendaki untuk melihat dan bernafas sebaiknya menggunakan masker dan penutup kepala.

jalur pendakian menuju kawah bromo

angin dan pasir, jalur pendakian kawah bromo

Tepat di bawah jalur menuju kawah sudah dibuat tangga-tangga batu yang tersusun rapi. kita tinggal menaiki tangga tersebut untuk sampai ke bibir kawah. Angin di atas kawah sangat kencang sehingga perlu keberanian dan kehati-hatian ekstra untuk melangkah di sekitar bibir kawah.

Kawah Bromo

Suasana di bibir kawah Bromo

Foto bersama di kawah Bromo

Tangga menuju kawah

Turun dari kawah, kami kembali ke rumah penginapan melalui lautan pasir, yaitu jalur yang dilalui oleh mobil-mobil jeep pengantar turis. Berjalan melalui lautan pasir cukup mengasyikan terutama ketika angin kencang datang, kita seolah-olah sedang berjalan di tengah badai
pasir. Hanya coklat dan pasir saja. Sebaiknya gunakan jelana panjang,  jaket, penutup kepala dan masker, karena angin badai pasir disini bisa sangat sangat kencang.

Beberapa pendaki berfoto di jalur menuju kawah, dengan latar lautan pasir

menyeberangi lautan pasir

Penunggang kuda harus turun dari kudanya, menunggu datangnya badai pasir 

Suasana badai angin dan pasir, di lautan pasir gunung bromo

Kembali ke pertigaan kami mampir dulu di warung tempat kami makan malam untuk berisitrahat dan makan siang. Jam 11 siang, kami sudah kembali ke rumah penginapan untuk bersih-bersih dan packing. Jam 12 siang, mobil sudah menjemput kami di depan rumah. Mobil mengantarkan kami sampai Terminal Bayuangga Probolinggo. Di sini rombongan kami berpisah, 2 orang sahabat langsung menuju ke Bali untuk menghadiri resepsi pernikahan rekan kampus, 1 orang sahabat kembali ke Jogja, sedangkan saya dan 3 orang yang lain tetap melanjutkan perjalanan ke pulau Sempu.

Dari Terminal Bayuangga, kami berempat melanjutkan perjalanan ke kota Malang menggunakan bus ekonomi dan sesampainya kami di Terminal Arjosari Malang, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam sedangkan pantai Sendang Biru masih jauh. Saya tidak tau apakah malam hari masih ada kendaraan umum menuju ke sana. Untuk menuju Sendang Biru, sebelumnya kami harus menuju Gadang dan Turen.

Seperti layaknya sebuah terminal, terkadang terminal bukanlah tempat yang ramah khususnya untuk orang yang awam seperti kami. Kami mesti sangat ekstra hati-hati, waspada, dan pandai melihat kondisi terutama dengan siapa kami bertanya, karena banyak orang yang akan memanfaatkan kondisi ketidaktahuan kami.

Awalnya kami bertanya ke beberapa kondektur bis AKAP tentang kendaraan umum ke Sendang Biru. Kondektur malah mengarahkan kami kepada rekannya yang menawari kami untuk mencarter mobilnya menuju pantai Sendang Biru malam itu juga, tapi biayanya terlalu besar. 500ribu hanya sekali jalan. Karena malam itu tidak ada lagi kendaraan dari Gadang yang menuju ke Turen dan Turen menuju Sendang Biru, meski ada yang menuju Gadang jika berangkat dari terminal, saya akhirnya memutuskan untuk makan malam dulu sambil memikirkan apa yang akan kami lakukan setelahnya. Kami makan di salah satu warung bakso yang ada di terminal. Tempatnya sih lumayan bersih, tapi baksonya lumayan tidak enak. Pelayannya galak dan sangat tidak ramah. Harga baksonya pun cukup luar biasa mahal. Bakso 4 mangkok sama teh botol 68 ribu rupiah.

Dan ketika kami bersiap untuk meninggalkan warung bakso, tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri kami, mungkin laki-laki ini mendengarkan percakapan kami. “Mau ke mana to mas sama mba nya”, laki-laki itu bertanya. “Kami mau ke Gadang terus ke Turen mau ke pantai Sendang Biru”, saya menjawab. Dengan tatapan membujuk culas coba meyakinkan kami, si laki-laki menjawab, “Oh, Sendang Biru. Ndak ada yang namanya Gadang di sini, mas. Kendaraan umum pun sudah tidak ada ke Sendang Biru kalo malem gini. Kalo mau saya antar yok pake taksi kijang saya saja”. “Berapa mas?” saya bertanya. “600 ribu langsung saya antar ke sana”, jawab si mas. Sambil tersenyum saya menjawab, “Wah kaya’nya malem ini kami menginap di pinggir jalan aja dulu mas, menunggu besok. Kami naek kendaraan umum saja”. Lalu dengan ketus dan sedikit mengancam si lelaki menjawab, “Ya terserah masnya saja tapi hati-hati saja di jalan”. “Ya terima kasih, mas”, jawab saya. Seketika si mas meninggalakan kami.

Akhirnya jalan terakhir, jalan yang paling tidak mau saya ambil adalah menghubungi sepupu saya yang tinggal di malang. Mau tidak mau tanggung jawab lebih penting ketimbang ego pribadi. Setelah menelpon sepupu saya, malam itu juga kami langsung naik kendaraan umum menuju Gadang karena sepupu saya akan menjemput kami di sana. Dari Gadang kami menuju Kepanjen, rumah sepupu saya tempat kami menginap malam ini.

Perempatan tempat kami beristirahat sambil ngopi dan makan gorengan sembari menunggu jemputan

Pagi harinya setelah sarapan dan pamit, kami melanjutkan perjalanan dari Kepanjen ke pantai Sendang Biru. Sepupu saya yang baik hati meminjamkan mobil dan sopirnya. Perjalanan dari Kepanjen ke Sendang Biru ternyata cukup jauh. Kami berangkat jam 11 siang dan baru sampai ke Sendang Biru jam 2.30 sore. Saya langsung menuju ke kantor resort konservasi wilayah pulau Sempu yang mengurusi perizinan masuk ke cagar alam pulau Sempu.

Kapal – kapal nelayan yang berlabuh di pantai Sendang Biru

Pulau Sempu adalah pulau kecil tanpa penghuni dan merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi. Saya langsung menemui kepala kantor yang kebetulan sedang santai dengan beberapa orang yang sepertinya juga sedang meminta izin untuk menyeberang ke pulau sempu, tapi ternyata berita yang mengejutkan adalah kami tidak diizinkan masuk karena sejak kemarin ada satu orang pengunjung yang hilang dan sampai sekarang belum juga di temukan.

Kantor dinas kehutanan Pulau Sempu, tempat mengurus perizinan masuk

Saya sedikit memaksa dengan pendekatan persuasif, tapi tetap saja si bapak bersikeras tidak memberikan izin karena bukan cuma saya saja yang ingin masuk, namun dari pagi banyak orang yang ingin masuk. Agak sedikit kecewa saya kembali ke mobil dan bercerita dengan teman-teman yang lain. Semua perjalanan jauh sudah mengantarkan kami sampai di sini. Pulau Sempu sudah di depan mata malah tidak mendapatkan izin. Tetap tenang sambil memikirkan langkah selanjutnya, saya dan teman-teman memutuskan untuk makan-makanan laut di dekat kantor resort koservasi wilayah pulau sempu, juga sambil menunggu perkembangan terbaru.

Santapan khas pantai Sendang Biru

Selesai makan, kantor sudah terlihat sepi dari pengunjung yang meminta izin masuk. Kebanyakan pengunjung mengurungkan niat mereka. Hanya ada 4 pemuda dari Jakarta yang dari kemarin sudah menunggu untuk masuk ke pulau Sempu saja yang masih bertahan. Mereka masih cukup muda, bisa dibilang kurang berpengalaman, tapi kejujuran, semangat dan kebersamaan mereka cukup mengingatkan saya ketika masih seumur mereka.

Pantai Sendang Biru dan sebagian pulau sempu

Saya mengajak mereka berbincang-bincang sejenak bercerita tentang rencana penyeberangan ke pulau Sempu dan mereka memutuskan akan tetap menunggu karena tujuan mereka dari Jakarta hanya untuk ke pulau Sempu. Mereka sempat memberitahukan saya bahwa penduduk sekitar berani menjanjikan dan menjamin mereka untuk dapat masuk ke pulau Sempu, tapi menunggu kantor sepi dari pengunjung lain terlebih dahulu, yaitu ibu Mamik yang akan menanggung mereka. Ibu Mamik biasa menjadi koordinator penduduk sekitar pantai untuk mengurusi para pengunjung sempu yang rumahnya biasa dijadikan base camp para pengunjung Sempu untuk menginap dan berisitirahat. Kepada ibu Mamik inilah saya melakukan pendekatan dan bernegosiasi. Akhirnya ibu Mamik coba berbicara langsung kepada kepala kantor untuk meminta izin 4 orang dari jakarta dan 4 orang rombongan saya dan rekan saya. Akhirnya ibu Mamik berani menjamin kami masuk walaupun bapak kepala tidak bertanggung jawab terhadap kami. Kami masuk dengan catatan harus menggunakan 2 orang guide peduduk lokal, 1 orang untuk masing-masing rombongan dan menyewa beberapa sepatu di tempat penyewaan, serta membayar uang perizinan untuk petugas kehutanan. Ibu Mamik cukup mengerti perasaan kami dan kami pun cukup mengerti kebutuhan para penduduk sekitar pantai Sendang Biru. Bagi penduduk sekitar, para pendatang seperti kami inilah merupakan salah satu sumber pendapatan dan mata pencarian mereka.

Menaiki kapal menuju Pulau Sempu

Wajah-wajah penuh kelegaan, rasa haru dan senang terpancar dari 7 orang teman saya. Akhirnya kami bisa masuk juga ke pulau Sempu. Waktu sudah pukul 4 sore, segera kami menyiapkan semua perlengkapan terutama membeli air minum tambahan karena di pulau Sempu tidak ada sumber air tawar. Kami berpamitan dengan mas sopir sepupu saya dan bergegas menuju kapal yang sudah menunggu kami.

Sore hari di atas kapal menuju Pulau Sempu

Sore yang sangat-sangat indah di pantai Sendang Biru, perasaan yang tidak dapat terekspresikan, langit biru, pantulan sinar matahari, gelombang – gelombang kecil yang menggoyang kapal kami dan hanya senyuman yang terpancar hampir dari setiap wajah manusia yang ada di kapal.

Air surut sehingga kapal tidak bisa berlabuh lebih dekat untuk menurunkan penumpang

Saya dan beberapa rekan – rekan dari jakarta

Menyeberang dengan kapal dari Sendang Biru ke pulau Sempu hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit saja. Ada banyak jalur masuk kapal menuju pulau Sempu. Salah satunya adalah Teluk Semut yang digunakan kapal kami berlabuh untuk menurunkan kami.

Teluk Semut

Dari sini kami melanjutkan dengan berjalan kaki menuju danau Segara-anakan. Hari sudah mulai sore ketika kami mulai berjalan, pemandu mengambil jalan di depan dan kami mengikuti dari belakang. Suasana pulau cukup ekstrim. Beberapa pohon besar terlihat tumbang karena badai. Cuaca bulan ini memang cukup tidak bersahabat, angin kencang disertai hujan bahkan badai melanda beberapa daerah di Indonesia.

Suasana jalur di dalam pulau sempu

Jalur masuk tidak terbentuk, becek dan penuh dengan lumpur yang dalam. Hanya ada beberapa jejak-jejak kaki acak di dalam lumpur. Wajar saja banyak yang tersesat di dalam pulau Sempu, ditambah lagi tidak ada papan penujuk arah. Untung kami menggunakan guide karena kami menghabiskan sebagian perjalanan dengan kondisi langit yang sudah mulai gelap.

beristirahat di tengah hutan pulau sempu

Kembali senter memegang peranan penting dan akhirnya ketika kami sampai di danau Segara-anakan, langit sudah mulai menggelap dan mentari sudah terbenam. Terbayar sudah semua perjalanan kami.

Danau Segara Anakan Pulau Sempu

Setelah mengambil nafas dan mengumpulkan diri, saya langsung membangun tenda di lokasi sesuai dengan yang diarahkan oleh guide. Setelah tenda kami siap, kembali kami membangun tenda dadakan untuk rombongan dari Jakarta karena mereka tidak membawa tenda. Untungnya guide kami juga cukup cekatan dan insiatif dalam membantu kami. Mereka juga mau berbagi cerita bersama kami. Setelah tenda siap, saatnya makan malam.

Ikan dan Kepiting bakar

Beberapa menyiapkan makanan seperti mie instan, kopi dan beberapa mencari kepiting dan ikan berasama si guide. Setelah semua makanan siap, saatnya makan malam dan bercengkrama. Inilah kenikmatan sejati dari suatu petualangan; berbagi cerita, makanan, kebersamaan, tawa dan canda.

Ular laut yang terbawa arus pasang menuju tenda, ular yang sangat berbisa tapi memiliki ukuran mulut yang kecil jadi jarang menggigit manusia

Pukul 11 malam air mulai pasang dan guide kami cukup baik memperhitungkan posisi air pasang sehingga tenda kami aman dari air pasang yang hanya beberapa senti mengalir dari tenda kami. Sekali lagi untung kami dipaksa menggunakan guide.

Danau segara anakan di pagi hari

Pagi hari keesokan harinya, saya adalah orang terakhir yang keluar dari tenda. Teman-teman yang lain sudah menikmati pagi hari di pulau Sempu. Terdengar suara mereka di luar tenda. Segera saya menggerakkan badan untuk keluar tenda dan betapa tercengangnya saya seketika keluar dari pintu tenda. Tiada kata selain kepuasan dan perasaan damai. Keindahan sejati pulau sempu, alam indonesia yang dianugrahkan oleh tuhan ada untuk kita nikmati dan kita jaga sampai anak cucu kita.

Jurang dan karang di belakang danau

Keluar dari tenda saya langsung menuju ke bukit bebatuan untuk menikmati matahari yang terbit dengan pemandangan lautan luas membentang, ombak-ombak sesekali menghantam karang yang ada di depan kami, dilanjutkan dengan berenang bersama di danau Segara-anakan.

Camping ground danau segara anakan

Airnya tidak dalam dan arusnya tidak keras. Pagi itu pulau Sempu serasa milik kami pribadi. Danau Segara-anakan terbentuk karena ada air laut yang masuk melaui celah-celah karang. Saya agak sedikit kecewa karena masih terlihat sampah yang terbawa  masuk oleh arus dari luar ke dalam danau.

Bermain air di danau segara anakan

Pantai danau segara anakan

Berendam di danau segara anakan

Suasana pantai di danau segara anakan

Pulau Sempu adalah salah satu surga dunia yang ada di Indonesia. Sebaiknya memang harus tetap seperti itu dan tetap menjadi cagar alam yang dilindungi karena semakin banyak yang datang maka kemungkinan pulau ini semakin kotor akan semakin besar. Di pulau ini juga banyak monyet liar yang siap merampas makanan kita atau peralatan kita, jadi jangan biarkan makanan berada di luar tenda.

Tenda Flysheet, para manusia sedang memandangi para monyet

sebelum meninggalkan pulau sempu

Setelah puas, kami lanjutkan dengan packing dan bersih-bersih pulau, tidak lupa kami membawa semua sampah kami keluar pulau Sempu. Saatnya kembali pulang. Pukul 10 kami meninggalkan danau Segara-anakan melalui jalur yang sama seperti kami datang. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan beberapa orang yang mencari keluarganya yang hilang 2 hari lalu yang sampai hari ini belum ditemukan. Setelah berbicang sebentar, kami melanjutkan perjalanan.

Dua perempuan petualangan yang luar biasa

Jalur kembali menuju teluk semut

Pukul 12 kami sampai kembali ke Teluk Semut. Teluk Semut berupa cerukan kecil terbuka yang cukup untuk menurukan penumpang. Tidak lama kapal jemputan kami datang. Sepanjang penyeberangan pulang semua hanya diam. Rasa lelah dan puas terpancar dari semua orang yang ada di kapal.

Kapal penjemput menuju pantai Sendang Biru

menaiki kapal kembali menuju pantai sendang biru

Suasana di atas kapal menuju sendang biru

suasana di atas kapal

berlabuh kembali di pantai sendang biru

Sesampainya di Sendang Biru, es kelapa muda sudah menghadang. Lalu kami menyempatkan diri untuk singgah di basecamp rumah bapak dan ibu Mamik untuk membersihkan diri dan ngobrol dengan pak Mamik sambil menunggu angkot menuju Turen. Dari turen kami lanjut menggunakan bus ke terminal Gadang, dan dari Gadang menuju Malang kami menggunakan angkot. Kami memutuskan untuk menggunakan travel untuk kembali ke jogja. Tiba di Jogja kami langsung diantar ke stasiun Lempuyangan untuk mengambil motor-motor kami.

base camp rumah bapak dan ibu mamik, yang biasa di jadikan tempat beristirahat, disini juga biasanya angkot menuju turen mangkal, jangan lupa siapkan kantong plastik ukuran besar (kantong krupuk) untuk membungkus keril agar tidak kotor dan basah jika hujan, sebelum di letakkan di atas angkot.

Rincian biaya perjalanan :
Kereta ekonomi Jogja – Probolinggo = 30ribu/orang
Stasiun Probolinggo – Cemoro Lawang = 200ribu/mobil
Cemoro Lawang – Penanjakan, kawah, lautan pasir = gratis (jalan kaki)
Penginapan di Cemoro Lawang : 250 ribu /malam
Cemoro Lawang – Terminal Bayu Angga (Probolinggo) = 200ribu/mobil
Terminal Bayu Angga – Terminal Arjosari Malang = 12 ribu
Terminal Arjosari Malang – Gadang = 5 ribu
Perizinan masuk Sempu = terserah, biasanya 20 ribu.
Kapal Sendang Biru – Pulau Sempu = 100 ribu 1 kapal, max 8 orang, antar jemput
Sendang Biru – Turen = 12ribu
Turen – Gadang = 5 ribu
Gadang – Malang = 5 ribu
Travel Traveline Malang – Jogja = 100ribu/orang diantar sampai tujuan

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

5 thoughts on “dari penanjakan Gunung Bromo, ke segara anakan Pulau Sempu

  1. Dio says:

    Kalo biaya guide di Pulau Sempu berapa, Mas?

  2. diana safitri says:

    keren banget asli

  3. ummu says:

    perjalanan panjang yang sangat menyenangkan, wow bromo dengan badai pasirnya, yup2 tampak wajah senang krn akhirnya dgn penuh perjuangan dpt izin masuk ke p.sempu, lebih excited lg pas nyampe di segara anakan-nya wooow..pengeeen kesana lg..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: