Kemeriahan Malam Pergantian Tahun Di Pantai Siung

The Future Of Rock and Roll

Malam pergantian tahun bagi sebagian orang memiliki arti yang cukup penting, malam dimana orang-orang tersebut biasanya merefleksikan diri dengan apa yang sudah dilaluinya selama 1 tahun kebelakang dan biasanya orang-orang tersebut membuat suatu resolusi baru agar di tahun yang akan datang menjadi lebih baik  dari tahun-tahun sebelumnya.

Bagi saya malam pergantian tahun kurang lebih sama dengan malam-malam yang lain, yang berbeda adalah saya memilih untuk menghabiskan malam itu bersama dengan orang-orang terdekat.

Sepanjang tahun 2011 waktu hidup saya di habiskan di sebuah kota bernama jogja yang mungkin masih akan berlanjut untuk 1 atau 2 tahun ke depan dan masih akan di ramaikan oleh berbagai macam orang-orang terdekat.

Dan recananya kami semua akan menghabiskan malam pergantian tahun di pantai Siung, sebuah pantai yang eksotis di daerah Gunung Kidul. Mengapa di pantai, karena awalnya saya kira di pantai akan sepi pada saat malam pergantian tahun, tidak seperti di tempat-tempat lain yang biasanya akan sangat ramai.

Jumlah orang-orang yang ikut cukup banyak, semua ada 16 orang, yang akan panjang jika saya sebutkan satu-persatu nama-nama mereka.

Sudah merupakan suatu kebiasaan sebelum berangkat dalam suatu perjalanan, sebaiknya melakukan persiapan dan memperkirakan hal-hal apa yang mungkin terjadi selama dalam perjalanan.

Persiapan yang pertama adalah masalah logistik (makanan), kami harus mempersiapakan makanan untuk 16 orang, dan biasanya jika kami membeli makanan dalam jumlah besar, kami berbelanja di Mirota Kampus di Jalan Kaliurang km 0, kegiatan belanja ini buat saya juga merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Persiapan yang kedua adalah masalah peralatan kemping, mulai dari tenda, nesting (alat masak), matras, flysheet, dan peralatan lain yang nantinya bisa berguna untuk 16 orang dan jika perlatan yang kami miliki kurang biasanya kami menyewa peralatan tersebut di suatu tempat penyewaan alat pendakian dan kemping bernama Bivak, lokasinya ada di jalan Kaliurang km 5.5, tepatnya di gang masuk menuju Hotel Ishiro. Walaupun pelayan di bivak kurang ramah, tapi peralatan yang disewakan cukup lengkap dan harganya sangat murah.

Persiapan yang ke tiga adalah persiapan individu dari masing-masing personal yang akan ikut, mulai dari persiapan kondisi fisik, kendaraan, rain coat, pakaian, tas, senter, obat-obatan dan perlengkapan pribadi lainnya.

Ritual penting yang juga tidak boleh terlupakan sebelum berangkat adalah briefing singkat dan berdoa bersama, setelah semua siap saatnya untuk berangkat. Waktu keberangkatan kami adalah pukul 1 siang dari Kota Jogja, sedikit lebih cepat karena kami tidak ingin perjalanan kami terhambat oleh kemacetan menjelang malam pergantian tahun, karena lazimnya hampir di setiap kota besar pasti mengalamai kemacetan sedari sore menjelang malam pergantian tahun. Kendaraan yang kami gunakan pada waktu itu motor dan mobil, para laki-laki menggunakan motor dan para perempuan menggunakan mobil.

Bersama di Pantai Siung

Kami tiba di pantai siung pukul 4 sore dengan suasana pantai yang sudah cukup ramai oleh tenda-tenda milik para pengunjung lain, kami langsung mendirikan tenda di lokasi yang paling luas, yang cukup untuk 4 buah tenda yang kami bawa, karena semakin lama pengunjung semakin semakin banyak yang berdatangan dan semakin sulit untuk mencari tempat yang pas untuk 4 buah tenda. Susunan tenda kami bentuk menjadi huruf U menghadap kelaut, agar semua tenda memiliki pemandangan menghadap ke laut, dan akan sangat pas jika di tengahnya menjadi tempat membakar api unggun.

Suasana di depan tenda

Setelah tenda bediri, acara selanjutnya adalah memberikan kejutan berupa penceburan ke laut untuk teman kami yang kebetulan berulang tahun hari itu, ini orangnya dan ujung-ujungnya hampir semua prempuan yang ada di lokasi juga ikut di ceburkan ke laut. Setelah berbasah-basah, teman-teman yang lain melanjutkan acara sore di pantai dengan bermain bola plastik, sedangkan saya sibuk dengan acara saya sendiri berkeliling sekitar pantai dan mengambil gambar.

Senja di pantai Siung

Bermain bola di pinggir pantai

Senja Jingga

Suasana pantai di saat senja

pantai, senja, tenda, awan bergulir, muara

Sore itu senja di pantai Siung cukup indah walaupun ada sedikit gerimis, dan semakin sore pantai Siung semakin ramai oleh para pengunjung yang tak henti-hentinya berdatangan, kebanyakan adalah para muda-mudi yang berkuliah di Jogja. Malam tiba saatnya makan, para perempuan menyiapkan makan malam, sedangkan para laki-laki ada yang sibuk bermain gitar dan ada juga yang mempersiapkan api unggun, malah ada pula yang sibuk bertelponan dengan pacar.

Para wanita sedang memasak

para pria yang sendang bermain gitar dan bernyanyi

Selesai makan malam kami mulai meramaikan suasana dengan membakar api unggun dan kembang api, yang mana setiap orang berkumpul mengelilinginya, sambil di iringi alunan nada dari dawai gitar, kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk yang berulang tahun, tidak lupa juga acara tiup lilin walaupun cuma seadanya, sebuah panci yang diisi kacang dan kripik yang di tengahnya di beri satu buah lilin. Namun keseruan sedikit terhenti ketika ada salah satu teman yang mengalami pisang sebelah mata, mungkin karena kurang istirahat.

Tiup lilin ala pantai Siung

Berkumpul merayakan ulang tahun

bernyanyi selamat ulang tahun bersama-sama dihiasi kembang api

Api unggun

Mengelilingi api unggun

Setelah sempat terhenti sejenak keseruan kembali dilanjutkan dengan acara loncat api, ada yang tau olah raga loncat api??? olah raga ini hanya ada di pantai Siung, sebuah olah raga agar malam menjadi ramai, setiap dari kami bergantian meloncati api unggun yang sudah di buat meninggi, mungkin api unggun kami bukan yang paling besar di pantai Siung malam itu tapi pasti api unggun kami adalah yang paling meriah, dan tentu saja keseruan acara loncat api bukan hanya menjadi milik kami tapi menjadi sebuah tontonan yang menarik dan seru bagi pengunjung pantai Siung yang lain.

meloncati api

Orang ini hanya bergaya melompati api

ini orangnya

ini orangnya

ini dan ini

ini orangnya

ini orangnya

ini orangnya

Hingga pukul 11 malam gerimis mulai sedikit-sedikit kembali membasahi pantai, tapi keseruan tidak berakhir, semua orang mulai duduk tenang manantikan apa yang akan terjadi di detik-detik pergantian tahun.

Wajah-wajah menunggu pergantian tahun

Menjelang lewat tengah malam, di detik-detik habisnya tahun 2011 kembang api satu per satu mulai berterbangan menghiasi langit dan menerangi seluruh area pantai, lebih dari 30 menit kemeriahan kembang api terus belangsung, bergantian tanpa henti dan ketika semua kembang api telah habis menyala, pantai Siung ramai dipenuhi suara tepukan tangan dan teriakan puas dari semua orang yang ada di pantai malam itu. Sangat meriah suasana pantai Siung malam itu benar-benar diluar dugaan dan benar-benar malam pergantian tahun yang tidak akan terlupakan.

Meriahnya malam pergantian tahun di pantai siung

bayang wajah yang ku kenal

menikmati kembang api

percikan kembang api

kembang api pantai siung

Sepertinya hampir setiap orang sudah mempersiakan diri mereka dengan kembang api, namun malam belum berakhir, tidak ingin kalah kami pun juga memiliki sisa kembang api yang sengaja kami sipan untun di nyalakan setelah semua kembang api habis, tapi sayangnya kembang api kami adalah kembang api yang biasa di mainkan oleh anak-anak yang di hanya bisa di pegang dan baru akan terbang jika di lempar, entah siapa yang membeli kembang api semacam itu.

Selama pagelaran kembang api berlangsung saya sangat serius dalam mengambil gambar, sendiri berdiri di bagian paling belakang tenda memegang tripod dan mengarahkan kamera saya ke arah langit untuk menangkap setiap kembang api yang menyala di udara. Satu kali saat saya melepas kamera untuk menghidupkan rokok, tanpa sengaja mata saya melihat sesuatu, sesuatu yang bisa membuat saya lupa akan objek yang sedang saya foto, sesuatu yang tanpa di sadari mampu membuat saya terdiam beberapa detik, sesuatu yang kemudian membuat saya tersenyum.

Apa yang saya lihat adalah sosok teman-teman yang sedang merebahkan badan mereka di atas pasir pantai, saling tidur berjejer dan duduk bersebelahan merangkul satu sama lain sambil memandang kelangit menikmati cahaya kembang api, sesekali cahaya kembang api itu menerangi wajah-wajah mereka yang tampak sangat memancarkan kegembiran, wajah-wajah yang terlihat polos apa adanya, yang sesekali mereka saling memandangi, lalu tawa, moment seperti inilah… moment terindah untuk orang yang belum menikah, uh… suatu hari nanti saya akan merindukan moment ini, terutama merindukan orang-orang itu yang sedang tidur-tiduran menikmati kembang api layaknya anjing laut.

kembang api terakhir

Ketika keseruan berganti dengan keheningan, sedikit terbersit di benak saya sebuah kondisi yang berbeda dari tempat saya berdiri saat itu dan saya merasa sangat bersyukur bisa ada di sana dalam keadaan sehat, berkumpul bersama dengan orang-orang terdekat dan membaur bersama setiap orang asing yang ada di pantai Siung, terbayang di satu tempat lain mungkin ada orang-orang yang karena sakit atau karena cacat mereka tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan malam itu, sebuah keseruan di dalam kebersamaan.

setelah habis kembang api

Pukul 2 dini hari, suasana pantai mulai sepi karena hujan turun cukup deras, semua orang mulai kembali ke tendanya masing-masing, saya pun mulai menuju tenda saya menunggu untuk tertidur, tapi suara ramai canda tawa dari teman-teman yang lain masih terdengar seru di luar tenda. Dua kali saya berusaha menahan tawa di dalam tenda ketika mendengan suara “AAAWWWW” yang pertama adalah suara orang yang kakinya tersangkut tali pasak tenda, dan “AAAWWW ADDDUUUHHHH… ASUU” yang kedua adalah suara orang yang kakinya menginjak bara api sisa bekas api unggun yang masih panas, saya sudah tau dengan pasti hasil pekerjaan iseng siapa itu, tidak lain dan tidak bukan adalah orang ini.

merusak foto

perhatikan wajah-wajah mereka

loncat

entah foto apa ini

loncat tanpa baju

Di pagi hari, pukul 8 saya terbangung oleh gangguan suara-suara teriakan dan tawa di luar tenda, rupanya temen-teman yang lain sudah mulai terbangun untuk mempersiapkan sarapan pagi, saya masih sangat mengantuk dan saya pun kembali tidur lagi, saya baru benar-benar bangun ketika makan pagi masuk ke dalam tenda saya.

Selepas makan pagi, acara berikutnya adalah packing dan checking, tidak lupa cleaning-cleaning pantai dari sampah, lalu driving pulang kembali ke jogja.

Saatnya pulang

Tagged , , , , , , , , , , ,

3 thoughts on “Kemeriahan Malam Pergantian Tahun Di Pantai Siung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: