Romantisme Jembatan Setan – Gunung Merbabu

IS, DS, ES, UR, PAP

Bagi saya gunung Merbabu adalah gunung paling menawan yang berada di wilayah Jawa Tengah, karena gunung ini sangat memanjakan pendaki dengan pemandangannya yang indah dan jalur pendakian yang tidak membosankan, selain itu  lokasinya pun cukup dekat dari kota Jogjakarta, jadi saya bisa kapanpun mengunjungi gunung ini.

Ada 4 jalur pendakian yang bisa dipilih untuk mendaki gunung Merbabu, salah satunya yaitu jalur Wekas, saya memilih jalur wekas karena teman saya yang tahu jalur yang menyarankan selain itu jalur ini merupakan jalur tersingkat untuk mencapai puncak. Transportasi menuju basecamp pendakian jalur Wekas bisa menggunakan motor ataupun mobil.

Saya berangkat bersama dengan 5 orang teman (tiga diantaranya belum pernah mendaki gunung), kami mulai perjalanan kami dari Jogja sekitar pukul 2 sore dengan mengendarai motor, tiba di basecamp jam 4 sore, kami akan bermalam di basecamp dan besok paginya kami baru mulai “muncak”. Dua buah moment alam yang saya ingin rasakan di puncak Merbabu adalah sunset dan sunrise.

Sore hari saya habiskan dengan berkeliling sekitar desa, lalu kembali ke basecamp dilanjutkan dengan obrolan hangat seputar perjalan menuju basecamp tadi dan rencana esok hari. Suasana basecamp sore itu cukup ramai oleh pendaki yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Istirahat dan menginap malam ini di basecamp cukup penting bagi kami untuk mengumpulkan tenaga dan membiasakan kondisi pegunungan untuk pendakian esok hari.

Keesokan paginya, setelah foto-foto dan sarapan kami mulai meninggalkan basecamp pada pukul 8. Kami berjalan sangat santai sambil menikmati suasana pegunungan, melewati perkebun warga, hutan, dan baru tiba di pos 2 kurang lebih jam 12 siang.

foto bersama sepuh dari jogja, sebelum memulai pendakian

Cuaca biasa cepat berubah di pos2 tanpa bisa di prediksi, pada awalnya cerah namun secara tiba-tiba saja berubah menjadi berkabut, pos 2 merupakan tempat lapang yang cukup luas dan terbuka, banyak pendaki yang memasang tenda disini selain itu di pos 2 terdapat mata air yang dialirkan melalui pipa menuju ke ladang penduduk.

Kami pun beristirahat sambil bertukar cerita dengan para pendaki lain. Setelah cukup istirahat, makan siang dan sholat, kami melanjutkan lagi perjalanan kami. Di Pos 2 banyak sekali monyet liar yang biasanya memakan sisa-sisa makanan yang ditinggalkan oleh pendaki bahkan tidak segan-segan untuk memasuki tenda, oleh karena itu sebaiknya jangan tinggalkan tenda tanpa dijaga di pos 2.

Suasana makan siang di Pos 2

Foto bersama pendaki lain di Pos 2

Melewati pos 2 jalur semakin curam dan tertutup pepohonan, hingga mencapai pertigaan vegetasi mulai berubah dan jalur mulai terbuka (pertigaan yang kiri ke puncak pemancar, kanan ke puncak sarif, kenteng songo), mulai dari pertigaan ini jika tidak berkabut pendaki akan sangat dimanjakan dengan pemandangannya yang menawan.

Setelah melewati Pos 2

Setelah pertiggan beberapa titik penting yang kami melewati yaitu pos helipad, inmemoriam, dan jembatan setan. Yang paling membuat saya terkesan adalah jembatan setan, yang merupakan sebuah jalur sempit dengan kiri kanan berupa jurang, jalur berupa bebatuan terjal, menurut dan menanjak, mirip seperti jembatan gantung makanya disebut jembatan setan dan sore itu jembatan setan  terlihat begitu romantis. Menguras stamina namun memuaskan, apapun yang tubuh saya dan teman-teman saya rasakan hanya kegembiraan yang terlihat diwajah kami.

jembatan setan

Jam 5 sore kami sampai dipertigaan tepat di bawah puncak sarif, pertigaan ini adalah pertemuan jalur yang menuju ke puncak syarif dan jalur menuju ke puncak Kenteng Songo, yang mana kedua puncak tersebut merupakan puncak tertinggi dari gunung Merbabu. Kami tidak menemukan tempat lain yang sepertinya cukup luas dan nyaman untuk mendirikan tenda, karena beberapa spot sudah lebih dulu ditempati oleh pendaki lain.

senja dari pertigaan

Dipuncak Syarif terdapat banyak spot untuk mendirikan tenda tapi sepertinya bukan pilihan yang tepat karena tempatnya sangat terbuka. Saya teringat cerita dari seorang teman yang dulu pernah bermalam di sana, dia menceritakan pengalamannya ketika dilanda badai angin dan hujan yang sangat hebat, begitu kencangnya angin hingga bisa mematahkan frame tenda yang mereka tempati. akhirnya kami memutuskan untuk memasang tenda di pertigaan, tepat dibelakang batu besar. Tidak lama setelah tenda berdiri hujan pun turun disertai angin kencang, untungnya lokasi tenda kami berada dilekukang  dan batu besar yang cukup melindungi tenda dari terpaan angin.

Malam hari kondisi ditenda sangat dingin hanya cerita dan tawa yang membuat suasana di dalam tenda menjadi hangat, saya hanya berharap hujan cepat reda dan besok pagi cuaca cerah tidak berkabut.

suasana mendirikan tenda

Lewat pukul 5 pagi kami baru terbangun ketika ada beberapa pendaki lain yang memanggil dari luar tenda, segera kami bergegas keluar tenda menuju puncak sarif untuk menikmati sunrice.

Kami mungkin beruntung, tidak semua pendaki bisa menikmati sunrice yang begitu indah seperti yang kami lihat pagi itu, merbabu benar-benar menujukkan keindahannya. Hamparan awan seperti permadai yang terbuat dari kapas dan matahari perlahan timbul diujungnya.

Pagi itu cuaca benar-benar cerah, dari puncak syarif tampak dengan jelas beberapa gunung lain yang ada di wilayah Jawa Tengah. Gunung Merapi di selatan, Sedikit ke barat terlihat Gunung Sindoro, Sumbing, Dieng, dan di timur terlihat Gunung Lawu.

Saya benar-benar bersyukur atas pagi itu, atas teman-teman perjalanan yang menyenangkan, atas gunung dengan pemandangan yang menawan, dan berharap semoga perjalanan turun kami nanti lancar.

suasana pagi dari tempat kami mendirikan tenda

Gunung Sindoro, Sumbing dan Dieng dari puncak Syarif

Sunrise di puncak Syarif

Gunung Lawu dari puncak Syarif

matahari di puncak Syarif

Suasana di Puncak Syarif

Foto bersama di puncak Syarif

Berlama-lama di puncak Syarif tubuh serasa membeku, dan sebelum matahari meninggi kami segera kembali turun ke tenda. Kembali ke tenda saatnya mengeluarkan bekal dan alat masak untuk meramu menu sarapan pagi yang istimewa, semenjak berangkat hingga pagi ini semua terasa menyenangkan, tapi sarapan pagi yang paling menyenangkan.

Sarapan yang menyenagkan

Setelah sarapan dan bersantai menikmati suasana pagi pegunungan, kami mulai membongkar tenda, packing dan  membersihkan semua sampah yang kami bawa, agar gunung ini tetap bersih dan indah sampai anak cucu nanti.

Suasana tenda

Kami mulai perjalanan pulang kami melalui jalur yang sama seperti kami naik, perjalanan turun kami lebih cepat dari pada naik kemarin namun lebih banyak menguras tenaga dan stamina, lagi lagi alam berpihak kepada kami, cuaca sangat cerah sepanjang perjalanan turun, kabut baru terlihat ketika kami sampai di Pos2.

Kami tiba di basecamp pukul 3 sore, pukul 5 kami sudah melanjutkan perjalanan pulang menuju Jogja.

Secara posisi gunung merbabu berada di tengah – tengah gunung yang ada di seputar jogja, jadi jika langit cerah hampir semua gunung di sekitar jawa tengah bisa di lihat dari puncak syarif. Gunung ini tidak terlalu sulit bagi yang baru pertama kali mendaki, jalur pendakian tidak terlalu sulit dan extreme tapi cukup menantang dan tidak membosankan, pemandangannya pun cukup membuat seorang pendaki ingin lagi menikmati mendaki gunung. Jangan lupa management perjalanan penting untuk keselamatan dan mendapatkan moment yang bagus.

Tagged , , , , , , , , , , , , , , ,

14 thoughts on “Romantisme Jembatan Setan – Gunung Merbabu

  1. ikut baca, persiapan naik merbabu dan salam kenal

  2. sigit says:

    lawu is very2 beautyful.im like it!!!!!!!!!!!!!!!!!

  3. cild says:

    hahahaha blog pean keren juga mas….foto2nya itu loch bikin orang mupeng….:)

  4. diantara langit dan bumi tersimpan keindahan alam yang menakjubkan dari yang maha kuasa………………
    salam kenal…

  5. sugianto says:

    thanks kisah xpdc d merbabu,foto2nya ok bgt..jadi kngen pngin naik lagi,terakhir aq th2003.

    • dekill says:

      thanks juga salam kenal🙂, wah sudah lama banget 2003, 3 minggu lalu saya kesana lagi, puncak kenteng songo berubah jadi hitam akibat kebakaran beberapa bulan yang lalu

  6. arimbi says:

    aq jg mau kesana.. tunggu aq merbabu

  7. dekill says:

    indahnya Indonesia kita hahahah, ummu memang luar biasa, hahaha next time zaint, anda harus ikut

  8. zaint says:

    aiss.. kenapa tiap ke tempat ini saya nda pernah bisa ikut… sial…

  9. ummu says:

    woww merbabuu !! pendakian pertamaku, jembatan setannya sereeem tp asik😀, pengen kesana lg menikmati indahnya berada diatas awan dan sunrise, keren bangeeett..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: