Gunung Ungaran

Gunung dengan ketinggian 2050 mdpl berdekatan dengan kota semarang, kami berangkat dari jogja menggunakan bus AC jurusan semarang dari terminal jombor, dan berhenti di jimbaran (beberapa kilo sebelum kota semarang), dan melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju pasar jimbaran, pukul 4 sore kami sampai di pasar jimbaran dan langsung melanjutkan perjalanan menuju basecamp (pos lapor) gunung ungaran untuk melapor dan membayar retribusi, jalan dari pasar jimbaran menuju pos lapor cukup jauh lebih baik menyewa ojek atau carter kendaraan, banyak juga pendaki yang menggunakan kendaraan pribadi dan di titipkan di basecamp.

Setelah  istirahat dan melapor jam 8 malam kami melanjutkan pendakian, cuaca cukup cerah sepanjang pendakian malam kami, jalur pendakian pun cukup menyenangkan melewati hutan-hutan pinus yang disirami cahaya bulan, track pun merupakan jalur berbatu yang sudah di susun dan di atur,  jika pendakian di lakukan pagi hari mungkin akan terasa lebih menyenangkan. Selepas hutan pinus sampai lah kami di lokasi perkebunan teh disini terdapat semacam perkampungan kecil yang terdapat warung-warung yang biasa di gunakan pendaki untuk menginap dan beristirahat. Setelah makan dan tidur-tidur-an, jam 12 malam kami lanjutkan pendakian.

Lepas dari kebun teh jalur pendakian mulai berubah menjadi tanjakan berbatu terjal, dan sekonyong konyong tanpa ada tanda badai kabut dan hujan pun muncul, tepat di tengah jalur terjal yang tidak menentu, badai cukup keras jangan kan untuk berjalan, untuk berdiri saja sulit, jadi kami harus maju dengan merangkak melalui jalur yang memiliki celah untuk melindungi kami dari badai, beberapa kelompok pendaki terlihat memutuskan untuk tidur di setiap celah celah yang bisa mereka temui sampai badai berhenti. Kami tetep melanjutkan pendakian kami dan akhirnya kami sampai di puncak ungaran pukul 4 pagi, segera kami mendirikan tenda sebelum kabut bertambah tebal, di pagi harinya pukul 6 saya bangun untuk melihat keadaan sekitar, ternyata kabut masih sangat tebal tapi hujan dan angin hanya datang sesekali.

Salah satu yang terkenal di gunung ungaran adalah pemandangan lenskep nya, kita bisa melihat hampir semua gunung yang ada di jwilayah jawa tengah, tapi dengan kondisi badai pagi itu saya hanya bisa mengambil gambar seadanya. Setelah sarapan pukul 8 pagi kondisi cuaca tetap sama tidak ada perubahan, dan akhirnya kami memutiskan untuk turun, jalur turun yang kami ambil berbeda dengan jalur naik, kami turun melalui jalur gedong songo, kondisi jalur dan vegetasi yang berbeda dengan jimbaran, jalur menurun dengan suasana hutan alami yang basah dan gelap karena badai kabut.

Pukul 11 kami sampai di lokasi komplek wisata candi gedong songo, kami beristirahat sejenak mengisi tenaga untuk perjalanan pulang ke jogja, kondisi hujan dan berkabut membuat kami tidak merhasrat untuk mengekplorasi lokasi wisata candi gedong songo, menurut informasi selain terdapat candi juga ada air terjun dan sumber air panas disini, ya mungkin lain waktu kami akan main main lagi ke gunung ini lagi, turun dari komplok wisata awalanya kami memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke jalan utama lalu naik angkot menuju jimbaran, jalan yang cukup panjang, tapi untung kami bertemu beberapa pendaki muda dari UNES yang menawarkan kami untuk bareng menggunakan truck yang sudah mereka pesan, sudah cukup lama saya tidak merasakan sensasi menyenangkan berpetualang seperti ini berkotor-kotor dan bergembel ria.

Setelah berpisah dari truck yang membawa para mahasiswa UNES kami menunggu bus menuju jogja di pinggir jalan antar kota semarang jogja, hari sabtu membuat bus dari semarang menuju jogja selalu penuh, mencari bis ekonomi saja sulit apa lagi bis AC, akhirnya setelah 1 stengah jam menunggu kami naik juga bus ekonomi menuju jogja, terus terang petualangan belum selesai, dengan kondisi kotor dan lelah menggunakan bus ekonomi merupakan petualangan tersendiri yang lebih berat dari pada mendaki gunung ungaran, kondektur yang tidak berhenti mengangkut penumpang walau pun untuk berdiri saja sulit apa lagi untuk bergerak,  bis yang melaju kencang tanpa memikirkan keselamatan penumpang, aku pikir aku tidak akan lagi menemukan sensasi pertualangan seperti ini selepas masa SMA.

Malam harinya kami tiba di terminal jombor jogja, dan masih petualangan terus berlanjut dengan berjalan kaki menuju jalan kali urang, awalnya saya pikir dekat ternyata lumayan jauh maklum pada saat itu saya baru beberapa bulan tinggal di jogja.

Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: