pantai dan pulau drini (part 2) – the unforgettable moment

 

Nikmati jangan di bebani, karena setiap garis perjalanan selalu berawal dari sebuah langkah kecil dan mulailah dengan langkah yang paling kamu suka. (dekill)

Kedua – Camping di Pantai Drini di Kala Badai Menggoda

Kedua kalinya saya berangkat ke pantai Drini Pada bulan Maret 2011, sehabis tracking di Gunung Api Purba Ngelanggeran. Saya datang bersama beberapa teman dari jogja yaitu Arvi, Mba erma, Zen, Leo, Arsa dan transportasi yang kami gunakan adalah mobil sewaan.

Kami meninggalkan Ngelanggeran pukul 6 sore dan tiba di pantai Drini pukul 8 malam. Setiba di pantai Drini kami langsung meminta izin kepada penduduk setempat dan mensurvey lokasi yang pas untuk mendirikan tenda, sembari memantau kondisi cuaca di sekitar pantai, karena hujan dan angin kencang adalah hal yang paling saya khawatirkan terjadi selama berkemah di pantai Drini.

Banyak kejadian lucu dan gila terjadi malam itu, seperti ketika Leo dengan seriusnya meminta kami semua untuk mematikan senter, yang mana permintaan Leo tersebut membuat teman-teman yang lain bingung dan takut karena suasana pantai sangat gelap tapi mengapa senter harus di matikan, Leo tidak berkomentar satu patah katapun kala itu, ia hanya memandangi langit dengan seksama dan bergaya sangat serius lalu berkata “Tenang aja, gak hujan malam ini”, sebuah firasat buruk, tapi yang lain malah bergembira mendengarnya tapi saya tidak, karena saya sudah merasakan hawa-hawa hujan dan dikejauhan sudah terlihat gumpalan awan mendung bercampur petir.

Tenda pertama

Tidak lama setelah itu, kami sudah mulai memasang tenda, hanya satu buah tenda yang baru berhasil berdiri dari 2 tenda yang kami bawa, dan apa yang saya khawatirkan pun terjadi, hujan deras disertai angin yang sangat kencang tiba-tiba menerjang kami, menerbangkan tenda buatan Leo yang belum sempat berdiri, untungnya tenda masih sempat ditahan beramai-ramai. Tas dan bawaan serta para peremuan sudah aman berlindung di dalam tenda yang sudah berdiri lebih dulu.

Leo sedang merakit layang-layang

Selama badai berlangsung saya, Zen, Leo dan Arsa, sambil berjongkok berlindung di balik tenda Leo yang belum jadi, kami memegangi tiap ujung bagian tenda agar tidak terbang terbawa angin. Badai di malam itu bisa di bilang luar biasa tapi kami melakukan banyak sekali percakapan dan kegilaan yang membuat suasana pada malam itu hanya ada canda, keseruan dan tawa.

“jangan-jangan besok kita masuk koran ini, 6 orang mahasiswa UGM dinyatakan hilang terbawa badai” hahaha kami semua tertawa mendengan kalimat itu “lagian kau yo pake acara sok-sok an bilang gak ujan, gayamu kaya pengamat cuaca, kau liat ini kita basah semua mana bajuku cuma satu ini” kata canda si Arsa kepada Leo yang mana membuat kami semua tertawa dan masih banyak lagi kelucuan yang tidak bisa saya ceritakan satu per satu, yang pasti semua bergembira malam itu, semua menggilai keseruan pada malam itu dan semua menikmati petualangan malam itu. Tenda kedua baru mulai didirikan ketika hujan sudah mulai reda pada pukul 11 malam. Semoga saja dalam menghapi badai kehidupan kita semua bisa seperti dalam cerita di atas, badainya gak terasa tapi serunya luar biasa.

Mba erma dan Arvi tidur bersama dalam satu tenda, Leo dan Arsa juga menghuni satu tenda lagi, sedangkan saya dan Zen kembali ke mobil untuk memerisa keadaan mobil, karena kondisi cuaca yang masih gerimis dan angin masih sangat kencang akhirnya kami malah tertidur di mobil, hingga pukul 6 pagi. Zen tertidur dengan posisi tangan berada di luar jendela mobil sampai pagi, alasannya memantau hujan padahal faktnya jok tengah mobil tidak cukup besar untuk menampung badan Zen dalam posisi tidur.

Pagi Hari – Pelangi setelah Badai dan Bau Tidak Sedap

Mentari pagi yang di tunggu-tunggu

Pukul 6 Pagi saya dan Zen keluar dari mobil tempat kami tidur semalam dan langsung menuju ke lokasi tenda yang dihuni oleh 4 orang teman kami yang lain, sesampainya di lokasi, saya sangat bersyukur kedua buah tenda tersebut masih ada dan berdiri dengan kokoh. Para penghuni tenda masih tertidur pulas di tendanya masing-masing. Leo tidur menggunakan jas hujan dengan posisi kaki di luar tenda tapi badannya di dalam tenda, Arsa tidur dengan lelapnya sampai tidak menghiraukan lagi kondisi di dalam tenda yang basahnya sudah seperti kolam. Sedangkan kondisi di  tenda yang satu lagi aman, nyaman, hangat dan tentram, Mba Erma dan Arvi tidur sambil berpelukan.

Leo abis cuci muka

Baru bangun tidur langsung gaya

Pantai Drini di pagi hari

Satu persatu setiap orang mulai terbangun dari tidurnya dan memulai keramaian pagi hari di pantai Drini, ditemani pelangi yang indah menghiasi langit pagi yang biru. Tapi ada satu yang aneh pagi itu, hidung kami mencium bau yang sangat tidak enak, bau lembab yang sangat tidak sedap, bahkan untuk mengingatnya saja saya tidak berani. Bau itu tidak lain dan tidak bukan berasal dari tubuh Arsa yang disebabkan oleh jaket basah yang dipakainya. Sebuah aroma bau yang tak terungkapkan dan tak terlupakan, dan bau itu baru hilang sesaat sebelum pulang kembali ke Jogja, kami mewajibkan arsa untuk mandi sebelum masuk ke dalam mobil, setelah mandipun di mobil masih samar-samar tercium bau-bau busuk yang tidak sedap.

Tangga di pulau Drini

Pulau Drini

Karang-karang pantai Drini yang membentuk suatu Goa

Setelah semua personil sudah kembali bangun, Pagi hari di pantai Drini kami lanjutkan dengan berkeliling pantai sambil menikmati suasana pagi yang cerah, hanya Zen dan Leo yang tetap tinggal di tenda, sepertinya mereka memang butuh waktu untuk berduan.

Makan siang terindah – pempek bakar rasa solar berbumbu pasir dan arang

Selama kami berkeliling pantai Drini, Zen dan Leo sibuk membuat api unggun yang semalam batal di buat karena hujan. Proses pembuatan api unggun sepertinya cukup sulit buat mereka, karena mereka menggunakan bahan bakar solar yang semalam memang sudah dibeli di Pom Bensin Pertamina dalam perjalanan menuju ke pantai Drini, awalnya kami ingin membeli Premium tapi si petugas Pom Bensin menyarankan kalo mau buat api unggun lebih bagus menggunakan solar.

Leo dan Zen terlihat dari kejauhan, sedang membuat api

Entah kami para mahasiswa S2 yang bodoh atau tukang pom bensinnya yang pintar. Jelas-jelas solar berbeda dengan bensin, solar tidak akan menyala jika disulut api tapi solar akan bertahan lebih lama jika sudah terbakar, sedangkan bensin menyala jika di sulut api tapi tidak bertahan lama dalam pembakaran. tapi kenapa kami masih juga membeli solar. Akhirnya diceritakan jalan terakhir si Zen untuk menghidupkan api unggun dengan membeli minyak tanah di warung pertamini milik warga sekitar pantai, dan barulah api menyala. Yah ujung-ujungnya kembali ke minyak tanah juga.

Leo dan Zen memanggil-manggil dengan sosis dari kejauhan

Ketika kami kembali ke tenda kedua teman saya Leo dan Zen sedang asik menikmati sosis bakar, dan hanya tersisa setengah bungkus untuk kami berempat, “Salah sendiri kalian di panggil-panggil bukanya dateng, lagian kasian sosisnya kalo dibiarin gitu aja tar dimakanin lalet, makanya pelan-pelan sambil nunggu kalian kami makan sedikit-sedikit” alasan dari Leo dan Zen.

Zen dan Leo sedang asik membakar sosis

Menikmati sosis

Beriring canda tawa mulailah kami melahap sisa sosis yang ada. Setelah sosis habis, Arvi masih mempunyai satu menu spesial lagi untuk makan pagi menjelang siang, yaitu satu bungkus pempek yang dibawa langsung dari Palembang, kondisi pempek sudah dingin karena sudah terlalu lama disimpan, secara tiba-tiba munculah sebuah ide gila, pempek ditusuk dengan besi pasak tenda (tusuk sate) dan diletakkan di atas api unggun, gilanya lagi ketika api mulai padam arsa menyiramkan solar kedalam api karena minyak tanah sudah habis.

Prosesi pembakaran pempek

Api unggun dan pempek yang terbakar

Setelah semua pempek selesai dibakar kemudian pempek dicampur dengan cuka dan hidangkan. Hasilnya cukup gila pempek bakar, bercampur butiran pasir layaknya wijen, dengan aroma arang dan rasa solar yang kental terasa. Tanpa menunggu lama pempek sudah ludes, habis tanpa sisa.

Saatnya makan

Pempek solar

Leo

Arvi

Mba Erma

Arsa

Zen

Abis makan gak ngerokok gak enak ya mam

Menikmati rasa kenyang dengan obrolan

Menikmati suasana pantai, dengan api unggun di siang hari

Packing, Pulang dan Lahirnya “Arsu”

Pukul 1 siang saatnya kami bersiap-siap untuk pulang kembali ke Jogja. Setelah Foto-foto dan packing, tidak lupa kami membersihkan semua sampah yang ada di area kami mendirikan tenda, tetap kegilaan mengiringi setiap kemanapun kami melangakan, sampai saat ini dimana menulis tulisan ini.

Foto bersama-sama, tripod jasamu tak terkira

Bongkar tenda

Tiba di parkiran mobil Arsa pun diwajibkan untuk mandi demi menghilangkan bau yang luar biasa tidak sedap dari badannya agar kami semua tidak tersiksa dalam perjalanan pulang di mobil nanti, kurang lebih 1 jam waktu yang di butuhkan Arsa untuk mandi. Setelah melewati semua kegilaan, keseruan dan kebersamaan saatnya kami untuk pulang.

Leo bermain gitar sembari menunggu Arsa mandi

Gaya arsa, setelah mandi

Di awal-awal perjalanan pulang kami semua masih asik bercanda di dalam mobil, tidak lain dan tidak bukan Arsa yang kali ini menjadi bulan-bulan, berawal dari mengulas nama pantai Sundak yang berasal dari gabungan kata asu (anjing) dan landak, dilanjutkan dengan mungulas nama Arsa yang jika di gabungkan dengan Asu, menjadi Arsa + Asu = Arsu dan hingga kini Arsu merupakan panggilan sayang kami kepada Arsa sampai kapan pun.

Saatnya pulang

Memasuki kota Wonosari satu-persatu tiap orang yang ada di dalam mobil mulai tertidur, hingga akhirnya hanya tinggal saya yang tersisa tetap berkonsentrasi mengendarai mobil supaya baik jalannya, ditemani lagu yang mengalun sendu dari pemutar mp3 hp saya. Kami tiba kembali di Jogja pada pukul 4 sore. Perjalanan kepantai drini kali ini merupakan suatu awal perjalanan yang tidak akan pernah dapat bisa terlupakan dan akan menjadi sebuah legenda yang akan terus di ceritakan.

Tagged , , , , ,

8 thoughts on “pantai dan pulau drini (part 2) – the unforgettable moment

  1. arvilable says:

    astagaaaa,, vi kaya mami2,, pencemaran nama baik ini,, T.T
    btw, I miss you all guys,, *smoochy,, smoochy,,,

  2. arsa says:

    Kau di…. ini dia pencemaran nama baik… hahhahha.. but luucu.. fotonya cece arv i bawa rokok bikin ngakak… se ngakaknya.. hahhaha

  3. kakakdikes says:

    pempek solarnyaa…. ga kebayang!!

  4. tudipa says:

    terus kalo asu + leo, jadinya sule #halah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: