Pendakian Panjang – Gunung Dempo

Semalam bersih bersih harddisk eh malah ketemu foto foto perjalanan lama, sebelum tertimbun oleh cerita perjalanan yang lain maka saya posting dulu, foto-foto seadanya dan sedikit cerita perjalanan saya dan 2 mahasiswa saya ke gunung dempo pada tahun 2009.

Kami memulai perjalanan dari kota palembang, berangkat menggunakan bis ekonomi dari terminal karya jaya langsung menuju kota pagar alam dan meminta kondektur menurunkan kami di pabrik teh, setiba di pabrik teh waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, kami lasngung melanjutkan berjalan kaki beberapa meter ke basecamp dempo – rumah pak anton (biasa di panggil ayah anton oleh anak anak mapala). Di rumah bapak anton inilah para pendaki gunung dempo biasanya bermalam atau hanya sekedar singgah untuk melapor sebelum berangkat muncak atau ketika turun setelah muncak, rumah pak anton cukup terkenal di kota pagar alam, jadi jika bingung atau tersesat cukup bertanya dengan penduduk sekitar

suasana di base camp

Setiba di rumah pak anton, beliau sedang duduk santai di teras rumah, kami langsung di sambut hangat kebetulan seorang mahasiswa saya anggota mapala di kampus kenal baik dengan bapak anton, setelah cukup beristirahat kami lanjutkan obrolan dengan bapak anton, sambil ngopi dan menyantap hidangan malam. Malam itu base camp sepi tanpa pendaki lain, hanya ada satu orang pemuda yang merupakan kerabat pak anton, singkat cerita pemuda ini sudah menginap satu malam di basecamp menunggu pendaki yang datang, agar ia bisa bergabung untuk mendaki bersama, dan kebetulan pak anton meminta agar pemuda itu bergabung mendaki bersama kami, dengan senang hati saya menerima tawaran pak anton, dan tim kami pun bertambah 1 menjadi 4 orang, nama pemuda itu abeng.  Setelah beberapa jam obrolan panjang akhirnya bapak anton ingat ingat juga dengan saya, karena saya sudah cukup lama tidak mendaki di gunung dempo.

foto bersama ayah anton sebelum memulai pendakian

Ada dua jalur pendakian gunung dempo yang saya tau yaitu melalui pintu rimba dan patung rimau, kami memilih melaui jalur pintu rimba yang terletak di kampung ampat, Keesokan paginya dari rumah pak anton kami memulai perjalanan menuju kampung ampat, melewati perkebunan teh yang cukup sejuk, terus terang memang kebun teh di pagar alam tidak terkenal jika di bandingkan dengan puncak-bogor atau di bandung, tapi menurut saya disini lebih indah, lebih bersih, lebih sejuk dan lebih tenang. Kawasan kebun teh ini biasa di jadikan wisatawan baik lokal maupun luar daerah untuk bertamasya, terdapat juga beberapa vila vila yang disewakan untuk pengunjung.

foto perjalanan di kebun teh dengan latar kota pagar alam yang di pagari oleh alam dan perbukitan

Jalan dari rumah pak anton ke kampung ampat bisa dibilang cukup jauh dan memakan banyak waktu, belum lagi beberapa kali kami salah jalan malah menuju ke patung rimau, jalan di kebun teh cukup banyak berubah jadi cukup membingungkan. Untuk menghemat waktu dan tenaga sebaiknya dari rumah pak anton ke kampung ampat mencarter mobil atau naik ojek.

kebun teh

Sampai di kampung ampat kami mampir sejenak di warung pak noval (warung di kampung ampat yang biasa dijadikan tempat belanja, beristirahat dan menitip kendaraan oleh para pendaki), keluar dari warung pak noval hari sudah sore kami langsung menuju goa karena kami akan bermalam di sana satu malam, tidak lupa kami mengambil air di resort (resort berupa pos kayu antara kampung ampat dan goa), babi hutan masih banyak terlihat sepanjang perjalanan dari rumah pak noval ke goa dan ukurannya besar.

suasana tenda, tepat di sebelah kiri goa

Sampai di goa, kami langsung mendirikan tenda, menyiapkan makanan dan mencari kayu bakar sambil menikmati suasan sunset dengan pemandangan kota pagar alam, kabut dan gerimis juga sesekali menutupi langit

suasana pagi di depan tenda

Kami bangun cukup pagi untuk menikmati suasana pagi di perkebunan teh sekitar goa, goa berupa lubang yang cukup besar bisa di huni sampai 6 orang, biasa di gunakan para pendaki untuk menginap jika malas mendirikan tenda

berfoto di depan goa

Setelah berkeliling sekitar daerah goa, kami langsung sarapan dan membereskan semua perlengkapan, untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak dempo. Pintu rimba berada di antara kampung ampat dan goa, terdapat plang hutang lindung di depannya, sampai di pintu rimba pukul 11 siang, jauh dari rencana awal yaitu pukul 8 pagi, karena kami berjalan terlalu santai dan terlalu menikmati bermain-main di sekitar goa dan kebun teh

plang menuju pintu rimba

Dari pintu rimba, suasana dan track mulai berubah, pohon-pohon rindang menutupi cahaya matahari, dan jalur berbentuk parit-parit berlumpur licin akibat hujan, tanaman berduri juga melintang sepanjang jalur, Yang menarik jika beruntung kita dapat bertemu dengan siamang, sejenis monyet dengan ukuran badan yang lebih besar, memiliki lengan yang panjang dan berbulu hitam, dengan suara khas yang menggema di seluruh hutan. Sayang pada saat itu saya belom memiliki kamera yang cukup untuk mengambil gambar siamang yang menggelantung di pohon

suasana di pos 1

Sampai di pos satu kurang lebih pukul 2 siang, kami beristirahat dan makan siang di sini, pos satu berupa dataran kecil, cukup untuk 2 tenda, tapi kurang baik untuk mendirikan tenda karena tanahnya yang agak miring, dari pos1 kami melanjutkan pendakian menuju pos 2. Jalur pendakian dari pos 1 ke pos 2 bervariasi tapi kebanyakan berupa tanjakan terjal dengan akar akar yang menggantung, tumbuhan juga mulai berbeda dengan tumbuhan sebelum pos 1

kodisi jalur hutan gunung dempo

Tiba di pos dua pukul 4 sore, gerimis dan mulai turun hujan, kami segera mendirikan tenda sebelum gelap dan memutuskan untuk bermalam di pos 2. Pos 2 cukup luas cukup untuk mendirikan 3 sampai 4 tenda, pohon pohon besar dengan akar akar raksasa banyak terdapat di pos 2, terdapat mata air yang letaknya sedikit menurun ke bawah. Kondisi di pos 2 cukup dingin terutama saat hujan dan kabut, kabut disini bisa sangat tebal mengakibatkan jarak pandang maksimal hanya 2 meter, jika ada tanda tanda kabut jangan jauh jauh dari tenda, atau berhenti dulu berjalan.

suasana tenda di pos 2

Ke esokan paginya, cuaca di pos 2 cukup cerah, masih belum ada tanda-tanda pendaki lain mulai dari kami naik sampai dengan pos 2, mungkin karena musim hujan. Setelah beres-beres kami melanjutkan perjalan menuju puncak, dari pos 2 tumbuhan mulai berbeda dari sebelumnya, jalur semakin terjal dan hujan juga datang tanpa henti, mendekati puncak hujan mulai reda, jalur mulai berubah dengan bebatuan dengan aliran air, pukul 10 pagi akhirnya kami sampai di puncak dempo

puncak dempo

Kondisi puncak geremis dan sedikit berkabut, setelah berfoto2 dengan kamera seadanya kami lanjut menuju pelataran (padang savana yang luas), dari puncak dempo kurang lebih 15 menit untuk sampai ke padang savana/pelataran.

puncak dempo 3159 mdpl

Di pelataran ini kami mendirikan tenda, pelataran menurut saya tempat yang luar biasa indah, suasana tenang dan damai begitu terasa di pelataran. Kami menghabiskan 1 malam di pelataran, itupun masih merasa kurang, pelataran ini lah yang membuat saya ingin kembali mendaki ke gunung dempo. Di pelataran ini terdapat mata air bernama telaga putri, air nya yang dingin dan jernih menggoda untuk menceburkan badan ke telaga ini. Sayang sekali saya tidak bisa mengambil banyak foto untuk menggambarkan suasana dan pemandangan di pelataran, kondisi kamera yang tidak memadai dan baterai yang harus kami hemat untuk berfoto di puncak merapi dan kawah dempo.

suasana di pelataran

Setelah mencari posisi yang pas untuk mendirikan tenda, kami langsung memasak hidangan yang paling enak yang kami siapkan dari bawah khusus untuk di santap di pelataran. Menjelang malam dari kejauhan ada teriakan teriakan dari puncak dempo, terlihat beberapa pendaki menuruni puncak dempo menuju ke pelataran, betapa senang nya saya akhirnya bertemu dengan pendaki lain

Terdapat 2 puncak di gunung ini, puncak dempo dan puncak merapi, pelataran berada di antara ke dua puncak tersebut, puncak merapi merupakan puncak tertinggi gunung dempo dengan kawah di tengahnya.

kawah gunung dempo

Kesokan paginya kami meninggalkan tenda untuk mendaki ke puncak merapi, sungguh mengasyikkan perjalanan ke puncak merapi, cuaca yang cerah, jalur pendakian dengan pemandangan yang luar biasa. Dari puncak merapi kita bisa melihat kawah, dengan air di tengahnya yang katanya bisa berubah-ubah warna, kami sempat  turun menuju kawah tapi akhirnya kembali karena jalur menuju kawah cukup curam dengan bebatuan yang licin cukup berbahaya tanpa menggunakan tali dan alat panjat yang memadai.

menikmati alam membuat diri menjadi lebih baik

Di puncak merapi terdapat jalur setapak kita dapat menelusuri sampai dengan paling ujung puncak merapi, inilah puncak klimaks dari perjalanan ke gunung dempo

foto bersama di puncak merapi

Di puncak merapi juga terdapat alat pendeteksi aktivitas gunung dempo

Alat pendeteksi aktivitas gunung dempo

Pukul 11 siang kami sudah kembali ke pelataran, untuk makan siang dan packing sebelum kami turun, jalur turun melalui jalur yang sama seperti kami, perjalanan turun cukup lancar, hanya track yang tambah basah dan licin menyebabkan beberapa dari kami harus terpeleset dan terjatuh. Pukul 3.30 sore kami sudah sampai kembali di pintu rimba, dan langsung menuju kampung ampat rumah bapak noval untuk menikmati nasi goreng dan membersihkan badan. Karena sudah terlalu lelah kami memutuskan bermalam di rumah pak noval, dan kesokan paginya baru kembali turun ke base camp rumah bapak anton

Foto bersama bapak noval, kampung ampat

Esok harinya di rumah bapak anton kami ingin segera pulang ke palembang tapi perjalanan kami pulang ke palembang di undur satu hari karena abeng rekan kami (kerabat bapak anton) memaksa kami untuk menginap bermalam di rumahnya mungkin sebagai rasa terima kasihnya karena sudah mengajak bergabung untuk mendaki bersama.

Tempat tinggal abeng berada di kota pagar alam, kami bermalam di sana satu malam, keesokan paginya abeng sudah menyiapkan beberapa motor dan mengajak kami jalan-jalan mengelilingin kota pagar alam dan kebun teh yang kmeren kami lalui menuju puncak dempo.

isi bensin sebelum berkeliling pagar alam

Dengan menggunakan motor hanya dalam 20 menit kami sudah sampai ke kebun ter tempat kami berjalan menuju kampung ampat dan patung rimau, kami singgah beberapa saat di lokasi patung rimau, disini juga terdapat olah raga para layang yang dulu digunakan pada PON 2007 di sumatera selatan

di patung rimau

Malam nya saya dan 2 orang mahasiswa saya kembali ke palembang menggunakan bis, sampai kembali di palembang pukul 6 pagi. Kehadiran abenk cukup memberi warna tersendiri sepnajang perjalanan, kepolosannya dan ceritanya yang menghibur, abeng juga tidak segan bersusah susah dan berkorban selama pendakian. Banyak terima kasih saya kepada abenk dan keluarganya yang sudah menjamu dan menyediakan tempat berisitirahat, berkeliling kota pagar alam merupakan petualangan tersendiri untuk saya. Sampai saat ini saya masih berkomunikasi dengan sahabat saya abeng, pada tahun 2010 sebelum saya berangkat ke jogja abenk juga sempat mengunjungi rumah saya di palembang.

Tagged , , , , , , , , , ,

3 thoughts on “Pendakian Panjang – Gunung Dempo

  1. gifta ikhwanda says:

    Bangga banget liat kakek ku *pak anton* dikenal banyak pendaki dempo, sekarang hanya bisa sedih melihat kondisi beliau yg terserang stroke 😞

  2. andre says:

    Yang foto berempat di warung Noval yang baju coklat namanya pak Rimin. Salam dr saya klo ke sana lagi ya.

  3. Seru ceritanya
    jadi pengen kesana

    salam
    catur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: